Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kemenkeu Sambangi PLTP Dieng bersama GeoDipa- SMI dan SMF

Jakarta, ruangenergi.com- PT GeoDipa Energi (Persero), PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dan PT Sarana Multi Finance (Persero) menghadiri kunjungan kerja rombongan Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan ke Dieng, Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara pada tanggal 11-12 Oktober 2021.

Pembangunan proyek Panas bumi adalah pembangunan energi masa depan, bersih dan ramah lingkungan yang melimpah potensinya sebesar ekivalen dengan 23,966 Giga Watt (GW).  Energi panas bumi ini merupakan kekayaan alam Indonesia yang harus dimanfaatkan maksimal untuk mendukung pemenuhan ketahanan dan kemandirian energi nasional, khususnya yang berasal dari Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebagai kekayaan alam dan merupakan aset nasional strategis mengacu pada amanat konstitusi UUD 1945 Pasal 33, Ayat 3 “bahwa kekayaan alam nasional dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Sebagai perusahaan BUMN Special Mission Vehichle (“SMV”), PT GeoDipa Energi (Persero) (“GeoDipa”) dituntut berkomitmen dalam pelaksanaan pembangunan dengan melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan secara komperhensif yang tidak hanya pemanfaatan, penataan dan pemeliharaan aset energinya saja tetapi juga berkewajiban melakukan pengawasan, pengendalian dan pengembangan lingkungan hidup, termasuk memperhatikan keberadaan binatang langka, benda purba yang ada disekitar penggunungan serta mempertahankan pelestarian potensi sumber daya alam.

Direktur Utama GeoDipa, Riki F. Ibrahim menyampaikan kepada rombongan Dirjen Perimbangan Keuangan, Astera Primantoro, “bahwa berbagai pendekatan dalam pengelolaan lingkungan juga turut dilakukan dengan mempertimbangkan pendekatan pengelolaan sosial yang baik, peningkatan ekonomi”.  Pendekatan pengelolaan lingkungan dan sosial meliputi: Pengelolaan dan memitigasi dampak lingkungan untuk menghindari terjadinya kerusakan terhadap lingkungan, menurunnya potensi sumber daya alam, serta pencemaran lingkungan;Pendekatan ekonomi adalah berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat hingga penggunaan tenaga kerja; dan Pendekatan institusional mengedepankan koordinasi dan kerjasama dengan berbagai instansi terkait dan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.

Hal-hal inilah yang membuat GeoDipa yang merupakan BUMN dapat diterima oleh masyarakat sebagai perusahaan yang mampu melakukan pengelolaan terhadap masalah sosial dan lingkungan dengan baik.

GeoDipa dalam Tata Kelola sosial dan lingkungan mengadopsi Shared Value yaitu melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah dimana GeoDipa beroperasi sebagai bentuk tanggung jawab BUMN SMV melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (“PPM”) atau Community Development sampai program Corporate Social Responsibility (CSR).  PPM menjadi komitmen perusahaan yang wajib dilaksanakan dalam bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial serta tata kelola yang baik (Governance).

GeoDipa sendiri memiliki pedoman Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat yang bertujuan untuk memperbesar akses masyarakat dalam mencapai kondisi sosial-ekonomi-budaya yang lebih baik dengan melalui 4 pilar PPM, yaitu :
GeoDipa Maju merupakan kontribusi perusahaan yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat atau kepentingan lainnya berupa pembangunan sarana prasarana dan infrastruktur;

GeoDipa Peduli adalah komunikasi kepada para pemangku kepentingan dalam meningkatkan kepentingan perusahaan dan pemangku kepentingan melalui berbagai kegiatan seperti donasi, sponsorship, maupun pelatihan;

BACA JUGA  Kereen! Dirjen EBTKE Jelaskan Capaian Pengembangan EBT, Investasi Hingga WKP Panas Bumi

GeoDipa Pintar adalah melakukan peningkatan kapasitas masyarakat sekitar, baik secara pendidikan, pelatihan, kerjasama, konservasi, dan sosialisasi; dan terakhir GeoDipa Hijau yang merupakan kegiatan membantu masyarakat sekitar dalam rangka mengelola lingkungan sesuai aturan yang dikeluarkan pemerintah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemandirian masyarakat.

Dalam pelaksanaan setiap programnya, GeoDipa mengadopsi konsep Creating Shared Value (“CSV”) yaitu konsep Berbagi Nilai yang menekankan betapa pentingnya membantu kebutuhan sosial masyarakat sekitar yang didasari pada hubungan antara perusahaan dan kesejahteraan sosial.

Program CSR dan atau Community Development (CD) dilakukan untuk membangun keselarasan dengan strategi keberlanjutan.  GeoDipa berhasil membangun Value Creation melalui implementasi sustainability development pada aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat sekitar.

Sebagai pengakuan dan bukti keberhasilan dalam program sosial dan lingkungan ini, maka dalam tiga (3) tahun berturut-turut, GeoDipa berhasil mendapatkan penghargaan atas program-program CSR dan CD yang dijalankan, yaitu : Pada tahun 2019 GeoDipa berhasil meraih CSR Award yang diselenggarakan oleh Majalah Listrik bekerjasama dengan Kementerian KLH;

Tahun 2020, perusahaan berhasil meraih tiga penghargaan, yaitu : TOP CSR Award kategori bintang 4; Sambungan Listrik Masuk Desa Kategori Visi Presiden RI 2019-2024; Pembangunan Infrastruktur, dan Board of Director kategori TOP Leader on CSR Commitment 2020; sedangkan Pada tahun 2021 ini, GeoDipa berhasil meraih dua penghargaan sekaligus, yaitu untuk Katagori : TOP CSR Award 2021 kategori bintang 5, dan TOP Team Implementing CSR 2021.

Untuk mendukung pencapaian Net Zero Emision (NZE) di tahun 2060, tentu semua pihak baik pengembang EBT khususnya Panas Bumi bersama Pemerintah dan BUMN harus mempunyai visi dan misi yang saling mendukung. Persiapan 2021 UNCCC Glasgow, para pemimpin dunia akan berbicara di Glasgow UK, termasuk Indonesia mempresentasikan target NZE. Tentunya target pembangunan EBT Panas Bumi Indonesia akan menjadi bagian yang paling penting kedalam dokumen yang akan dipresentasikan oleh pemerintah pada acara akbar tersebut.

“Meskipun pembangunan EBT Panas Bumi memerlukan waktu yang lebih panjang dari pembangunan pembangkit EBT lainnya, namun keunggulan EBT Panas Bumi, seperti yang sudah kita ketahui dan nikmati manfaatnya, apalagi sekitar 40% sumber daya panas bumi berada dalam perut bumi NKRI”, ujar Riki.

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) memiki peran yang besar dalam penyediaan listrik bangsa ini untuk mencapai NZE, dan oleh karena itu PLTP akan menjadi peluang Indonesia mendapatkan pendanaan pembangunan EBT secara exsponential.

Selanjutnya, Riki menjelaskan betapa pentingnya untuk tidak boleh lelah  melakukan berbagai perbaikan melalui inovasi dan berpikir kreatip guna meningkatkan budaya sadar risiko, meningkatkan governance/tata kelola yang baik, efektivitas dan efisiensi operasi, serta meningkatkan sadar akan zero accident.

“Diharapkan pemanfaatan EBT panas bumi sejalan dengan regulasi Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah agar percepatan pembangunan PLTP menjadi tuntutan daerah dan pusat”, tutupnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *