Dirjen Migas: Ketahanan Energi Bukan Sekadar Punya SDA, Tapi Kemampuan Mengelola Sendiri

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Balikpapan, Kaltim, ruangenergi.com- Senin, 12 Januari 2026, menjadi hari bersejarah bagi sektor energi Indonesia. Di bawah langit Kalimantan Timur, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi membuka “jendela” baru menuju kedaulatan energi nasional dengan meresmikan fasilitas terintegrasi Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.

Peresmian ini menjadi pembuktian nyata dari Asta Cita—visi besar pemerintah untuk mewujudkan kemandirian bangsa melalui swasembada energi dan hilirisasi—yang tertuang dalam butir ke-2 dan ke-5 visi Presiden.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Laode Sulaeman, memberikan penekanan penting mengenai makna di balik proyek raksasa ini. Ia menggarisbawahi bahwa definisi ketahanan energi kini telah bergeser menjadi lebih strategis.

“Ketahanan energi tidak semata ditentukan oleh ketersediaan sumber daya alam, melainkan oleh kapasitas negara dalam mengelola, mengolah, dan mengendalikan pemenuhannya bagi kebutuhan domestik,” ujar Laode Sulaeman,seperti diceritakan kepada ruangenergi.com, Senin (12/01/2026).

Laode menambahkan, di tengah struktur energi Indonesia yang masih dibayangi ketergantungan impor BBM, penguatan kilang nasional seperti RDMP Balikpapan menjadi instrumen kebijakan yang tidak terelakkan. Menurutnya, keberhasilan proyek ini menunjukkan kemampuan bangsa dalam meningkatkan kompleksitas pengolahan migas dari hulu ke hilir.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, turut menegaskan bahwa ukuran utama ketahanan energi nasional adalah kemampuan menekan impor. Pandangan ini menjadi landasan kebijakan Kementerian ESDM yang dikawal ketat oleh Ditjen Migas dalam mendorong penguatan kilang eksisting.

Saat ini, kesenjangan antara kapasitas kilang (1,182 juta barel per hari) dan konsumsi (1,6 juta barel per hari) menjadi pemicu utama impor. Melalui pengawalan teknis dari Ditjen Migas, Pertamina berhasil menyelesaikan proyek ini meski sempat melambat akibat pandemi COVID-19.

Presiden Prabowo meresmikan fasilitas yang kini memiliki “otak” dan “otot” baru yang lebih kuat. Fasilitas tersebut meliputi:

  • Lonjakan Kapasitas Kilang: Meningkat signifikan dari 260 ribu menjadi 360 ribu BOPD.

  • Tangki Raksasa Lawe-Lawe: Penambahan kapasitas tangki timbun crude oil dari 5,6 juta menjadi 7,6 juta barel.

  • Infrastruktur Pendukung: Pembangunan Terminal Tanjung Batu, tangki BBM berkapasitas 125.000 KL, empat dermaga baru, serta pipa gas Senipah-Balikpapan sepanjang 78 km.

Nilai strategis proyek senilai US$ 7,4 miliar ini terletak pada peningkatan kompleksitas kilang (Nelson Complexity Index) yang melesat dari 3,7 menjadi 8. Kilang Balikpapan kini mampu memproduksi BBM berkualitas tinggi setara EURO V yang ramah lingkungan, dengan porsi produk bernilai tinggi naik drastis menjadi 91,8%.

Kehadiran unit RFCC (Residual Fluid Catalytic Cracking) menjadi simbol kesuksesan hilirisasi, memungkinkan residu minyak diolah menjadi produk bernilai tinggi.

Secara ekonomi, dampaknya luar biasa:

  • Potensi penurunan impor BBM senilai Rp68 triliun per tahun.

  • Kontribusi terhadap PDB nasional mencapai Rp514 triliun.

  • Penyerapan puluhan ribu tenaga kerja lokal.

Dengan beroperasinya kilang ini, Indonesia semakin dekat pada target bebas impor solar dan kini tengah menyiapkan strategi lanjutan untuk swasembada bensin dan avtur. RDMP Balikpapan bukan hanya infrastruktur fisik, melainkan monumen kebangkitan kedaulatan energi nasional.