DPR Apresiasi Kinerja MIND ID di Tengah Tekanan Global, Hilirisasi Jadi Sorotan Utama

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com– Di tengah lesunya harga komoditas global sepanjang 2025, perusahaan-perusahaan tambang yang tergabung dalam holding industri pertambangan MIND ID justru mampu menunjukkan ketangguhan. Kinerja positif yang dicatat sejumlah anak usaha MIND ID mendapat apresiasi dari Komisi VI DPR RI karena dinilai tetap menjaga kontribusi sektor pertambangan terhadap perekonomian nasional.

Wakil Ketua Komisi VI DPR, Nurdin Halid, menyatakan capaian tersebut layak diapresiasi mengingat industri tambang sepanjang tahun lalu menghadapi tekanan berat akibat fluktuasi harga komoditas di pasar global.

“Kami memberikan apresiasi atas capaian kinerja korporasi 2025 yang tetap mampu menjaga kinerja positif meskipun menghadapi tekanan harga komoditas global,” ujar Nurdin dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR bersama jajaran perusahaan anggota MIND ID.

Antam Tampil Gemilang

Di antara anggota holding, PT Aneka Tambang Tbk menjadi salah satu bintang utama. Hingga kuartal III 2025, perusahaan mencatat pendapatan Rp72 triliun, melonjak 67% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan tersebut didorong oleh meningkatnya volume produksi bijih nikel serta tetap kuatnya harga emas di pasar global. Laba bersih perusahaan pun melesat dari Rp2,2 triliun menjadi Rp6,6 triliun. Produksi bijih nikel mencapai 12,6 juta wet metric ton, sementara produksi alumina naik 27% menjadi 134 ribu ton.

Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, mengatakan perusahaan akan terus memperkuat program hilirisasi guna mendorong pertumbuhan pada 2026.

PTBA Bertahan di Tengah Koreksi Harga Batubara

Sementara itu, PT Bukit Asam Tbk menunjukkan daya tahan yang kuat meskipun harga batubara global mengalami normalisasi.

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, mengungkapkan strategi pemasaran yang tepat menjadi kunci perusahaan menjaga kinerja. Pendapatan PTBA tercatat mencapai Rp31,33 triliun secara tahunan, dengan pertumbuhan yang ditopang peningkatan volume penjualan, khususnya batubara berkalori tinggi.

Meski demikian, harga jual rata-rata batubara masih terkoreksi sekitar 6% akibat melemahnya indeks harga batubara internasional.

Inalum dan Timah Jaga Momentum

Kinerja positif juga datang dari PT Indonesia Asahan Aluminium. Perusahaan mencatat laba bersih sebesar US$142,8 juta atau naik 15% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pendapatan meningkat menjadi US$785,7 juta dengan EBITDA mencapai US$208,7 juta. Produksi aluminium mencapai 280 ribu ton, didukung proyek peningkatan kapasitas smelter yang berhasil meningkatkan efisiensi operasional.

Di sektor timah, PT Timah Tbk juga mempertahankan performa operasional yang solid. Produksi bijih timah mencapai 18.635 ton, sementara produksi logam timah tercatat 17.815 metrik ton dengan volume penjualan mencapai 16.634 metrik ton.

Direktur Utama PT Timah, Restu Wibowo, menilai capaian tersebut merupakan hasil dari perbaikan tata kelola perusahaan dan peningkatan efisiensi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.

Hilirisasi Jadi Agenda Besar

Meski mengapresiasi kinerja perusahaan-perusahaan tambang pelat merah tersebut, DPR menilai pekerjaan rumah terbesar masih berada pada sektor hilirisasi.

Menurut Nurdin, profitabilitas industri tambang nasional saat ini masih sangat bergantung pada bisnis berbasis komoditas mentah. Kontribusi sektor hilir dinilai belum optimal sehingga pembangunan smelter dan fasilitas pengolahan perlu dipercepat dengan tetap memperhatikan kesiapan cadangan mineral, integrasi rantai pasok, serta ketahanan keuangan perusahaan.

Komisi VI DPR juga mendorong penyusunan roadmap hilirisasi yang lebih terukur dan berbasis kebutuhan pasar. Selain itu, DPR mengingatkan agar setiap keputusan investasi, termasuk pembangunan smelter alumina dan aluminium baru, dilakukan secara selektif agar tidak menimbulkan risiko kelebihan kapasitas di masa depan.

Ujian Berikutnya

Keberhasilan MIND ID menjaga kinerja di tengah tekanan harga komoditas menunjukkan ketahanan industri tambang nasional. Namun, tantangan ke depan tidak lagi sekadar mempertahankan produksi atau mengejar laba jangka pendek.

Bagi DPR, masa depan industri tambang Indonesia akan sangat ditentukan oleh keberhasilan mengubah kekayaan sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tinggi. Jika hilirisasi berjalan sesuai rencana, MIND ID berpotensi menjadi motor baru industrialisasi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.