Enam Tangan Melambai di Tengah Delta Mahakam, Pertolongan PHM Datang

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Kutai Kartanegara, Kaltim, ruangenergi.com – Sore mulai turun di Delta Mahakam.

Di antara riak air dan hembusan angin yang tak bersahabat, enam orang berdiri dalam situasi yang sama sekali tidak mereka bayangkan ketika berangkat dari Muara Pantuan menuju Pulau Nubi.

Kapal yang mereka tumpangi sudah tenggelam.

Daratan masih sekitar 3,2 kilometer.

Yang tersisa hanya harapan agar ada kapal lain yang melihat mereka.

Lalu, enam tangan terangkat ke udara.

Melambai.

Meminta pertolongan.

Itulah pemandangan yang dilihat awak TB Paramount Fortune sekitar pukul 17.45 WITA, Selasa, 1 September 2026. Kapal yang sedang melintas di perairan dangkal Delta Mahakam itu menemukan sebuah kapal masyarakat telah tenggelam.

Enam awaknya masih berada di sekitar lokasi.

Mereka selamat, tetapi jelas membutuhkan pertolongan segera.

Informasi itu kemudian diteruskan kepada tim patroli keamanan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) yang berada di sekitar wilayah operasi.

Tak Ada Waktu untuk Menunggu

Di Fasilitas South Processing Unit (SPU), kabar tersebut segera direspons.

Armada ST Ruhen 28 bergerak menuju lokasi.

Bagi tim patroli, situasi seperti itu tidak hanya berbicara tentang prosedur keamanan operasi. Ada enam manusia yang sedang menunggu pertolongan.

Dan waktu menjadi faktor paling penting.

Perairan Delta Mahakam bukan ruang yang sederhana. Angin dan gelombang dapat berubah, sementara jarak beberapa kilometer di atas air bisa terasa jauh ketika seseorang sedang berada dalam keadaan darurat.

Sekitar pukul 18.20 WITA, upaya tersebut membuahkan hasil.

Enam awak kapal berhasil dievakuasi.

Semuanya selamat.

Ketegangan yang sebelumnya menggantung di atas permukaan air perlahan berubah menjadi kelegaan.

Enam orang itu kemudian dibawa ke tempat yang aman. Mereka diberi kesempatan untuk beristirahat dan mendapatkan penanganan lebih lanjut.

PHM juga memastikan kondisi mereka baik serta berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk kebutuhan pendampingan hingga proses kepulangan.

Tujuannya sederhana.

Mereka harus bisa kembali ke rumah.

Kembali bertemu keluarga.

Dari Wilayah Operasi Menjadi Titik Pertolongan

Bagi perusahaan yang menjalankan operasi hulu migas di wilayah perairan, keberadaan patroli bukan hal baru.

Ada fasilitas yang harus dijaga.

Ada aktivitas operasi yang harus dipastikan berjalan aman.

Ada wilayah kerja yang harus dipantau.

Tetapi pada sore itu, fungsi tersebut mengambil makna lain.

Wilayah operasi PHM menjadi salah satu titik pertolongan bagi masyarakat yang sedang menghadapi keadaan darurat.

General Manager PHM Muzwir Wiratama mengatakan dirinya bersyukur seluruh awak kapal dapat diselamatkan.

“Bagi kami, melihat enam saudara kita berhasil diselamatkan dan dapat segera kembali berkumpul dengan keluarganya merupakan kebahagiaan tersendiri,” ujar Wira, sapaan akrabnya.

Menurutnya, perusahaan tidak ingin keberadaannya hanya dirasakan melalui aktivitas produksi energi.

Ketika masyarakat di sekitar wilayah operasi membutuhkan pertolongan, kepedulian juga harus hadir.

“Sebagai warga masyarakat yang baik, PHM senantiasa berupaya untuk memastikan keberadaan perusahaan memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan, terlebih lagi pada saat kondisi darurat seperti ini,” katanya.

Keselamatan yang Melampaui Batas Pagar Perusahaan

Ada satu hal yang menarik dari peristiwa ini.

Keselamatan dalam industri hulu migas sering kali identik dengan pekerja, fasilitas, sumur, kapal operasi, atau peralatan perusahaan.

Namun, keselamatan sebenarnya jauh lebih luas.

Ia menyangkut manusia.

Siapa pun yang berada di sekitar wilayah operasi.

Itulah sebabnya, bagi PHM, respons terhadap enam awak kapal tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk menjalankan operasi yang tidak hanya produktif, tetapi juga bertanggung jawab.

“Kepedulian terhadap keselamatan pekerja dan masyarakat sekitar merupakan bagian dari komitmen PHM dalam menjalankan kegiatan hulu migas yang selamat, andal, bertanggung jawab, dan berkelanjutan,” tegas Wira.

Koordinasi dengan para pemangku kepentingan pun terus dilakukan agar keenam awak kapal mendapatkan pendampingan hingga mereka dapat kembali ke keluarga.

“Keselamatan dan kemanusiaan menjadi hal yang utama. Ketika ada masyarakat yang membutuhkan pertolongan di sekitar wilayah operasi, kami akan berupaya memberikan respons terbaik sesuai kemampuan dan prosedur yang kami miliki,” pungkasnya.

Enam Orang, Enam Keluarga

Tidak ada yang tahu apa yang ada di pikiran keenam awak kapal ketika mereka melihat kapalnya perlahan tenggelam.

Mungkin yang terbayang adalah rumah.

Orang tua.

Pasangan.

Anak-anak.

Atau sekadar keinginan sederhana untuk bisa kembali pulang.

Mereka mungkin juga tidak tahu siapa yang akan pertama kali melihat mereka.

Tetapi sore itu, sebuah kapal melintas.

Sejumlah mata melihat.

Enam tangan melambai.

Pesan itu diterima.

Dan sebuah kapal patroli bergerak.

Sekitar 35 menit kemudian, cerita yang semula bisa berakhir tragis berubah menjadi kabar keselamatan.

Enam orang berhasil diselamatkan.

Bagi PHM, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa keberadaan perusahaan di tengah masyarakat bukan hanya tentang apa yang diproduksi dari perut bumi.

Ada tanggung jawab sosial yang ikut melekat.

Ada lingkungan yang harus dijaga.

Dan ada manusia yang harus dipastikan selamat.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah operasi bukan hanya berapa banyak energi yang dihasilkan.

Kadang, keberhasilan itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana:

enam orang yang bisa pulang.

Dan enam keluarga yang sore itu masih bisa menunggu mereka di rumah.