Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Lava Menerus dan Dentuman Terdengar hingga Jawa Barat

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Gunungapi Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan aktivitas erupsi yang menarik perhatian. Sejak 4 September 2026 malam, gunungapi yang berada di perairan Selat Sunda itu mengalami erupsi menerus disertai semburan lava atau lava fountain, suara gemuruh hingga dentuman.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, erupsi menerus tersebut mulai terjadi pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB. Aktivitas berlangsung lebih dari 24 jam sebelum akhirnya berhenti pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. 

Fenomena ini bukan sesuatu yang sepenuhnya asing bagi Anak Krakatau. Badan Geologi menjelaskan, semburan lava menerus merupakan salah satu karakteristik GAK dan umum terjadi pada gunungapi dengan magma yang memiliki viskositas relatif rendah atau encer.

Dari Krakatau 1883 hingga Anak Krakatau

Aktivitas Anak Krakatau selalu memiliki kaitan erat dengan sejarah panjang kompleks Krakatau.

Badan Geologi mencatat, Anak Krakatau mulai muncul dari permukaan laut pada 20 Januari 1929. Pada Oktober 1952, terbentuk kerucut baru di dalam Kawah Somma yang kemudian menjadi cikal bakal Anak Krakatau yang terus tumbuh hingga 2018.

Pada 22 Desember 2018, erupsi besar menyebabkan longsoran dan gelombang tsunami. Sebelumnya, sejarah mencatat letusan katastropik Krakatau pada 1883 dengan volume letusan sekitar 18 kilometer kubik, kolom letusan mencapai sekitar 80 kilometer, tsunami setinggi sekitar 30 meter di pantai Banten dan selatan Lampung, serta korban jiwa yang tercatat mencapai 36.417 orang. 

Pascaerupsi 2018, seri erupsi berskala kecil masih berlangsung hingga 16 Desember 2023. Aktivitas kemudian kembali meningkat pada 2 Juli 2026, ketika status GAK dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). 

Dentuman Sampai Jawa Barat

Yang menarik, aktivitas Anak Krakatau tidak hanya terasa di sekitar Selat Sunda.

Pada 4–5 September 2026, suara dentuman dan getaran pada kaca serta pintu dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Jawa Barat.

Badan Geologi menyebut kesesuaian waktu antara laporan tersebut dengan erupsi GAK, ditambah sinyal yang terekam di stasiun pemantauan Jawa Barat, sangat mendukung kesimpulan bahwa fenomena tersebut berasal dari gelombang akustik erupsi Anak Krakatau.

Gelombang akustik berfrekuensi rendah memang dapat merambat jauh dalam kondisi atmosfer tertentu sehingga terdengar sebagai dentuman dan bahkan dirasakan sebagai getaran. Fenomena serupa pernah terjadi saat erupsi Gunung Kelud yang suaranya terdengar hingga Jawa Tengah, serta Gunung Lewotobi Laki-laki yang terdengar hingga Maumere dan Pulau Alor. 

Erupsi GAK juga membawa konsekuensi berupa sebaran abu vulkanik.

Berdasarkan gabungan informasi erupsi dan VONA dari PVMBG melalui MAGMA Indonesia, informasi VAAC Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 oleh BMKG, abu vulkanik Anak Krakatau terpantau menyebar di atmosfer menuju Banten, sebagian Jawa Barat dan DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu.

Namun, arah dan jangkauan sebaran abu masih dapat berubah mengikuti arah serta kecepatan angin. Masyarakat di wilayah yang berpotensi mengalami hujan abu diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan dan mengikuti informasi resmi pemerintah. 

Radius 3 Kilometer Masih Terlarang

Di tengah kembali aktifnya Anak Krakatau, Badan Geologi mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati pusat aktivitas gunungapi.

Masyarakat di sekitar GAK maupun wisatawan, pendaki, dan pengunjung tidak diperbolehkan memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas GAK.

Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan terhadap potensi bahaya awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat. Bagi warga yang terdampak abu, penggunaan masker diwajibkan. 

Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing informasi mengenai erupsi Anak Krakatau yang berasal dari sumber yang tidak dapat dipercaya.

Pesannya sederhana: Anak Krakatau sedang aktif, tetapi informasi resmi harus menjadi rujukan utama. Aktivitas gunungapi dapat berubah sewaktu-waktu sehingga kewaspadaan dan disiplin mengikuti rekomendasi menjadi kunci keselamatan.