Mbah Rono Bongkar Bahaya Abu Vulkanik: Bisa Korslet, Jaringan Putus hingga Mesin Pesawat Mati

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Abu vulkanik jangan dipandang sebagai debu biasa. Ketika erupsi gunung api terjadi dan material vulkanik menyelimuti jaringan listrik, ancamannya dapat berubah menjadi persoalan keselamatan serius.

Pandangan itu disampaikan pakar gunung api Dr. Ir. Surono, DEA., IPU, yang akrab disapa “Mbah Rono”, kepada ruangenergi.com.

Surono kini menjabat sebagai Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2026–2030 dari unsur pemangku kepentingan. Ia dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada 28 Januari 2026.

Menurut Mbah Rono, salah satu langkah yang perlu dipertimbangkan ketika abu vulkanik mulai mengancam jaringan listrik adalah melakukan pemadaman untuk mencegah risiko yang lebih besar.

“Ya biasanya saya minta PLN, padamkan listrik bila terjadi erupsi gunung api bila jaringan listrik terancam abu vulkanik,” ujar Mbah Rono.

Ia menjelaskan, risiko semakin besar ketika abu vulkanik yang menempel pada jaringan kemudian terkena air hujan.

“Untung tidak hujan,” katanya.

Menurut Mbah Rono, abu gunung api yang basah dapat menjadi penghantar listrik yang baik. Kondisi tersebut berpotensi memicu hubungan pendek dan membahayakan fasilitas kelistrikan, termasuk gardu.

“Ya memang mencekam, terjadi letusan gunung api, listrik padam. Abu gunung api yang basah bisa menjadi penghantar listrik yang baik, bisa terjadi hubungan pendek. Ya pasti bahaya bagi gardu listrik,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta jaringan listrik dan gardu-gardu yang terdampak abu vulkanik segera dibersihkan.

Mbah Rono menambahkan, persoalan abu vulkanik pada jaringan listrik bukan hanya menyangkut kemungkinan korsleting.

Menurut dia, abu vulkanik yang menempel pada kawat jaringan dapat menambah beban. Apabila kemudian bercampur air, beratnya dapat meningkat dan berpotensi menyebabkan jaringan putus.

“Berat jenis abu vulkanik itu tinggi. Bila nempel di kawat jejaring listrik, apalagi kena air, bisa berat, jejaring bisa putus,” katanya.

Risiko semakin besar apabila kabel atau jaringan yang bermasalah berada di area yang dilalui masyarakat.

“Setrum bahaya bila kena orang yang sedang panik,” ujar Mbah Rono.

Ia mengakui, pemadaman listrik ketika masyarakat sedang menghadapi erupsi bukan keputusan yang mudah. Kondisi gelap justru dapat menambah kepanikan.

Namun, bagi Mbah Rono, keselamatan manusia harus menjadi prioritas.

“Maka kadang saya dibilang kejam, orang panik, listrik harus dipadamkan. Saya hanya berusaha menyelamatkan manusia dengan segala kesulitannya,” katanya.

Ia bahkan memahami jika masyarakat kemudian mengeluhkan PLN karena listrik padam di tengah situasi darurat.

“Yang tahu bisa marah ke saya, tapi lebih marah lagi ke PLN karena sedang gelap, ada letusan gunung api, listrik dipadamkan. Semua demi keselamatan,” ujar mbah.

Mbah Rono juga mengingatkan bahwa bahaya abu vulkanik tidak hanya mengancam jaringan kelistrikan.

Penerbangan merupakan salah satu sektor yang sangat sensitif terhadap abu vulkanik.

“Idem, abu vulkanik juga bahaya bagi penerbangan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, abu yang tersedot ke mesin jet dapat mengalami perubahan akibat temperatur sangat tinggi di dalam mesin. Material yang mengandung silika dapat meleleh dan kemudian menempel kembali pada bagian mesin yang lebih dingin.

“Bila abu tersedot mesin jet, terbakar, silika dan materialnya akan meleleh. Bila masuk pada bagian yang dingin akan membeku lagi tapi menempel ke bilah turbin,” jelasnya.

Bahaya lainnya terjadi ketika abu masuk ke ruang pembakaran. Endapan material vulkanik dapat mengganggu proses pembakaran yang menjadi sumber tenaga mesin.

“Bila pembakaran dalam mesin terganggu, mesin kehilangan tenaga dan bisa tiba-tiba mati mesin saat pesawat di udara. Akhirnya bisa kita bayangkan,” ujarnya.

Mbah Rono kemudian mengingatkan insiden penerbangan pada 1982 ketika letusan Gunung Galunggung mengganggu penerbangan British Airways.

Pesawat Boeing 747 British Airways yang terbang dari Malaysia menuju Australia menyedot abu vulkanik. Keempat mesinnya kehilangan tenaga dan pesawat kemudian melakukan pendaratan darurat di Halim.

“Setelah itu keempat mesinnya rusak total karena gerusan abu vulkanik,” katanya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu pengingat pentingnya sistem peringatan terhadap bahaya abu vulkanik bagi penerbangan. Dunia kemudian mengembangkan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) untuk memberikan informasi mengenai ancaman abu vulkanik terhadap penerbangan.

Indonesia selama ini berada dalam cakupan VAAC Darwin, Australia.

Mbah Rono mengungkapkan, ketika masih aktif, dirinya pernah berupaya mendorong keberadaan VAAC di Indonesia.

“Saya masih aktif tanpa dukungan siapapun, mengusahakan VAAC di Indonesia, tapi kalah karena BMKG sebagai pendukung data masih kurang peralatannya,” ujarnya.

Anak Krakatau dan Ancaman ke Bandara Soekarno-Hatta

Mbah Rono juga menyoroti potensi ancaman abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau terhadap penerbangan, khususnya jalur menuju dan dari Bandara Soekarno-Hatta.

Menurut dia, apabila aktivitas Gunung Anak Krakatau membesar, dampaknya terhadap penerbangan perlu mendapat perhatian serius.

“Dan bila Gunung Anak Krakatau besar, ancaman serius bagi penerbangan dari dan ke Bandara Soekarno-Hatta,” kata Mbah Rono.

Ia mengingatkan, karakter Gunung Anak Krakatau yang dapat mengalami letusan berulang membuat potensi paparan abu vulkanik terhadap jalur penerbangan perlu diantisipasi.

“Sedangkan letusan Gunung Anak Krakatau dapat sering terjadi, maka risiko bahaya abu vulkanik ke Bandara Soekarno-Hatta cukup tinggi,” ujarnya.

Peringatan ini menunjukkan bahwa persoalan abu vulkanik bukan hanya soal jarak antara gunung dan bandara. Arah dan sebaran abu menjadi faktor penting karena material vulkanik dapat terbawa angin ke wilayah yang jauh dari sumber erupsi.

Turbin Pembangkit Pun Tak Boleh Diabaikan

Bagaimana dengan pembangkit listrik?

Menurut Mbah Rono, abu vulkanik yang masuk ke sistem turbin juga dapat menjadi ancaman serius. Karena itu, keberadaan abu vulkanik di wilayah operasi pembangkit maupun fasilitas yang menggunakan sistem turbin perlu menjadi perhatian.

Ia juga memperingatkan dampaknya terhadap aktivitas penerbangan, khususnya apabila abu bergerak mengikuti arah angin dan mendekati kawasan bandara.

“Segera itu, tapi nanti menjadi ancaman serius bagi Bandara Soekarno-Hatta dan Raden Intan di Lampung,” katanya.

Dan ketika abu vulkanik sampai masuk ke turbin, peringatannya terdengar sangat tegas.

“Jika abu vulkanik masuk ke turbin, wassalam,” ujar Mbah Rono.

Bagi Mbah Rono, persoalan utama dalam menghadapi erupsi bukan sekadar menjaga agar listrik tetap menyala atau pesawat tetap terbang. Yang paling penting adalah memastikan keselamatan manusia dan keandalan infrastruktur tidak dikorbankan demi mempertahankan operasi dalam kondisi yang berisiko.

Dalam situasi abu vulkanik mengancam jaringan, pemadaman listrik, menurut dia, bukan semata-mata gangguan pelayanan.

Itu bisa menjadi bagian dari tindakan penyelamatan.