PHM

Jaga Level Produksi WK Mahakam, PHM Luncurkan Proyek Locomotive-8

Jakarta, Ruangenergi.com – Di tengah laju penurunan alamiah (natural decline) karena lapangan yang sudah mature, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), meluncurkan Proyek Locomotive-8 untuk menjaga level produksi minyak dan gas bumi dari Wilayah Kerja Mahakam, Kalimantan Timur.

General Manager PHM, Agus Amperianto, mengatakan, hal tersebut dilakukan guna meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi.

“Proyek Locomotive-8 adalah program terintegrasi dalam mengoptimalkan biaya, yaitu low operation cost pada semua aktivitas berbasis inovasi dan sinergi agar dapat meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi,” ungkap Agus dalam keterangannya, (24/01).

Agus menambahkan, PHM yang juga anak usaha PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), beroperasi di lapangan migas mature dengan daerah operasi yang sangat luas dan kompleks, baik di daerah swamp dan offshore.

“Belum lagi masalah penurunan produksi secara alamiah dan semakin terbatasnya sumber daya dan cadangan hidrokarbon, di sisi lain terjadi peningkatan kompleksitas operasional lapangan,” imbuhnya.

Dijelaskan olehnya, hal ini membutuhkan banyak pemeliharaan peralatan dan dukungan marine/logistic  yang memadai sehingga biaya operasi cenderung meningkat.

“Dengan cara ini PHM akan bisa men-drain semua cadangan hidrokarbon yang tidak ekonomis,” tuturnya.

Menurut Agus, proyek Locomotive-8 tahun ini fokus pada sinergi operasi dan inovasi teknologi hampir di seluruh bidang pekerjaan.

Ia menambahkan, upaya optimisasi biaya adalah sebuah revolusi bagi PHM untuk tetap menjaga keberlangsungan dan kualitas operasi dan mempertahankan kemampuan berinvestasi dalam jangka panjang.

Dalam rencana kerja dan anggaran (WP&B) 2021, PHM memproyeksikan program kerja agresif, yaitu mengebor 73 sumur pengembangan baik dari rencana Plan of Development (PoD) yang masih berjalan maupun dari rencana PoD baru Operasi Pengembangan Lapangan-Lapangan (OPLL) 2A. PHM juga akan mengerjakan lebih dari 4.000 pekerjaan well service & workover.

“Kami juga akan melanjutkan program optimasi produksi dari sumur yang sudah ada dengan SIBU (Shut in Build Up) dan optimasi fasilitas produksi,” ujar Agus.

Untuk itu, PHM memproyeksikan produksi dalam WP&B 2021 sebanyak 485 MMScfd  gas serta minyak dan kondensat 22 Kblpd. Produksi minyak berasal dari dua lapangan, yaitu Bekapai dan Handil. Sedangkan gas berasal dari lapangan-lapangan yang menghasilkan gas yakni  Tunu, Peciko, Sisi Nubi, dan South Mahakam.

Guna mencapai target tersebut, PHM mengalokasikan belanja modal atau Capital Expenditures (Capex) tahun ini sebesar US$ 269 juta, naik dibandingkan realisasi capex 2020 yang tercatat US$171 juta. Sedangkan belanja operasi atau Operating Expenditures (Opex) sebesar US$ 884 juta, naik dibandingkan realisasi 2020  sebesar US$ 738 juta.

Agus mengungkapkan, PHM optimistis WK Mahakam masih memiliki cadangan dan sumber daya yang signifikan untuk berproduksi sampai akhir masa kontrak. Namun, sebagai mature asset yang sudah berproduksi hampir setengah abad, dibutuhkan effort lebih besar dalam mengembangkan dan memproduksi cadangan dan sumber daya tersebut dan keekonomiannya juga marginal.

“Tantangan eksternal paling besar saat ini adalah outlook harga migas yang masih relatif rendah dan kondisi pertumbuhan ekonomi setelah Pandemi Covid-19, dan tantangan eksternal yang berikutnya terkait dengan peraturan dan proses perizinan yang lebih ketat,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *