Jargas dan CNG Dorong Ekonomi Rakyat, BPH Migas: Hemat Biaya hingga 35 Persen

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Medan, Sumut, ruangenergi.com — Pemanfaatan gas bumi sebagai energi bersih, efisien, dan ramah lingkungan terus menunjukkan dampak nyata bagi perekonomian masyarakat. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menilai perluasan jaringan gas (jargas) dan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) dari sektor rumah tangga hingga UMKM mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan Indonesia pada Liquified Petroleum Gas (LPG) impor.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menegaskan lembaganya memiliki rekam jejak kuat dalam mengatur dan mengawasi pengangkutan gas bumi melalui pipa. Menurutnya, penguatan tata kelola niaga gas terus dilakukan agar distribusi energi makin transparan, akuntabel, dan tepat sasaran.

“Kehadiran kami di wilayah PGN Sales and Operation Region (SOR) 1 merupakan langkah nyata mitigasi proses bisnis PGN agar seluruh operasional berjalan sesuai regulasi demi menjamin keberlanjutan pasokan energi nasional,” ujar Wahyudi saat kunjungan kerja ke pelanggan jargas wilayah SOR I PT Perusahaan Gas Negara Tbk di Medan, Jumat (13/2/2026), dikutip dari website BPHMIGAS.

Wilayah layanan PGN SOR I meliputi Dumai, Pekanbaru, Medan, Batam, Palembang, dan Lampung. Hingga Januari 2026, penyaluran gas bumi tercatat mencapai 140,46 BBTUD. Untuk area Medan 1, pasokan gas berasal dari Pertamina Hulu Energi, Pema Global Energi, dan Pertamina Perta Arun Gas dengan skema distribusi melalui pipa serta moda CNG.

Di sektor usaha kecil, manfaatnya terasa signifikan. Jumlah pelanggan jargas di wilayah SOR I kini mencapai 134.198 pelanggan, termasuk pelaku UMKM yang memanfaatkan CNG sebagai sumber energi usaha.

Menurut Wahyudi, penggunaan CNG terbukti mampu menekan biaya operasional hingga 30–35 persen. Salah satu contoh datang dari UMKM Nasi Kebuli di Medan yang berhasil menghemat sekitar Rp9 juta per bulan. Sebelumnya pelaku usaha tersebut mengeluarkan biaya Rp35–36 juta per bulan menggunakan LPG non-subsidi, kini hanya sekitar Rp26 juta setelah beralih ke CNG.

“Efisiensi ini bukan sekadar angka, tapi berdampak langsung pada daya saing usaha kecil,” katanya.

Manfaat jargas juga dirasakan masyarakat. Barorah Syahbilal Siregar (59), warga Medan Sunggal, mengaku pengeluaran energinya turun sekitar Rp100 ribu per bulan dibanding saat memakai tabung LPG.

Hal senada disampaikan Herdi Fahrizal Lubis (50), pengguna jargas sejak 2016. Ia menilai sistem jaringan pipa jauh lebih aman dan harganya lebih stabil dibanding LPG non-subsidi.

BPH Migas menilai pengembangan jargas secara masif merupakan bagian penting strategi pemerintah untuk mengurangi beban subsidi sekaligus impor LPG. Dengan meningkatnya pelanggan rumah tangga, komersial, dan UMKM, ketergantungan energi impor diharapkan terus menurun.

Direktur Komersial PGN Aldiansyah Idham menambahkan performa infrastruktur dan layanan pelanggan di SOR I menunjukkan tren positif. Ia menyebut kunjungan BPH Migas menjadi bentuk penguatan tata kelola hilir gas bumi agar distribusi energi semakin berkeadilan dan berkelanjutan.

Kunjungan tersebut turut dihadiri Anggota Komite BPH Migas Baskara Agung Wibawa, Division Head Regional SOR I Agus Muhammad Mirza, serta Head of Sales Gas CNG PT Gagas Energi Indonesia Area Medan Muhammad Fikri Aziz Adnan.

Dengan efisiensi biaya, keamanan lebih tinggi, dan pasokan stabil, gas bumi kini bukan sekadar energi alternatif—melainkan motor baru penggerak ekonomi rakyat sekaligus fondasi kemandirian energi nasional.