Jejak Alumni Dundee, Djoko Siswanto Sambut Perpanjangan Kerja Sama LPDP

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kerja sama pendidikan antara Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan dan University of Dundee, Inggris, dipastikan dapat diperpanjang. Kabar baik ini menjadi angin segar bagi mahasiswa Indonesia yang ingin memperdalam ilmu dan keahlian di salah satu pusat pendidikan energi terkemuka di Inggris.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan kabar tersebut kepada Ruangenergi.com, Rabu (14/10/2026), seusai menghadiri penandatanganan kerja sama antara LPDP dan University of Dundee.

“Alhamdulillah, baru saja selesai acara kerja sama LPDP Kemenkeu dan University of Dundee UK. Tidak ada masalah untuk diperpanjang,” ujar Djoko.

Bagi Djoko, kerja sama ini bukan sekadar urusan beasiswa atau kesepakatan antarlembaga. Ada investasi pengetahuan, pengembangan sumber daya manusia, dan harapan agar semakin banyak putra-putri Indonesia memiliki kompetensi kelas dunia, termasuk untuk menjawab tantangan sektor energi nasional.

Dalam skema kerja sama yang berjalan saat ini, mahasiswa Indonesia memperoleh dukungan pembiayaan melalui pembagian beasiswa antara LPDP dan University of Dundee.

LPDP menanggung 60 persen biaya, sementara 40 persen lainnya berasal dari beasiswa University of Dundee. Skema pembiayaan bersama ini memungkinkan mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di Inggris dengan dukungan dari dua institusi.

Ke depan, kerja sama tersebut juga membuka peluang dukungan berupa diskon tuition fee atau biaya kuliah sebesar 25 persen untuk kerja sama berikutnya, sebagaimana disampaikan Djoko.

Skema ini menjadi bagian penting dari upaya memperluas akses pendidikan tinggi internasional. Di tengah kebutuhan Indonesia terhadap tenaga profesional yang menguasai teknologi, tata kelola, dan inovasi, kesempatan belajar di luar negeri dapat menjadi bekal untuk memperkuat kapasitas nasional.

Terlebih bagi sektor energi, pengembangan sumber daya manusia merupakan investasi jangka panjang. Tantangan transisi energi, ketahanan pasokan, pengembangan teknologi, hingga peningkatan produksi migas membutuhkan tenaga ahli yang memiliki wawasan global sekaligus memahami kebutuhan Indonesia.

Ada sisi personal dalam kabar baik tersebut. Djoko Siswanto bukan hanya hadir sebagai Kepala SKK Migas, tetapi juga memiliki ikatan akademik dengan University of Dundee.

Ia merupakan alumni program CPMLP (Centre for Petroleum and Mineral Law and Policy) di University of Dundee, sebuah lingkungan akademik yang dikenal dengan kajian hukum dan kebijakan sektor perminyakan serta sumber daya mineral.

Pengalaman sebagai alumni memberikan dimensi tersendiri bagi Djoko ketika menyaksikan keberlanjutan kerja sama pendidikan tersebut. Hubungan antara Indonesia dan Dundee tidak hanya terjalin melalui dokumen resmi, tetapi juga melalui jejaring alumni dan pengalaman akademik yang dapat mempertemukan kebutuhan industri dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Di sektor hulu migas, pemahaman mengenai kebijakan, regulasi, kontrak, serta tata kelola industri memiliki peran penting. Pendidikan internasional menjadi salah satu jalan untuk memperkuat kemampuan para profesional Indonesia menghadapi kompleksitas tersebut.

Djoko bercerita, penandatanganan kerja sama ini disaksikan Direktur Utama LPDP beserta jajaran direktur, pimpinan dan jajaran British Council, Prof. Kim Dale dari University of Dundee, Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), serta para dekan.

Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan pendidikan internasional memerlukan kolaborasi lintas institusi. Pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra pendidikan internasional memiliki peran untuk memastikan kesempatan belajar dapat menjangkau talenta Indonesia yang membutuhkan dukungan.

Keberlanjutan kerja sama LPDP dan University of Dundee pun menjadi momentum untuk menjaga jalur pendidikan yang telah dimanfaatkan mahasiswa Indonesia sekaligus membuka peluang pengembangan skema dukungan berikutnya.

Bagi Indonesia, keberhasilan kerja sama pendidikan tidak semata diukur dari jumlah mahasiswa yang berangkat ke luar negeri. Nilai strategisnya terletak pada bagaimana pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh dapat kembali memberi manfaat bagi pembangunan nasional.

Dari Dundee, harapan itu terus dirawat: semakin banyak talenta Indonesia mendapat kesempatan belajar, memperluas cakrawala, dan kelak berkontribusi bagi negeri. Bagi Djoko Siswanto, yang pernah menjadi bagian dari lingkungan akademik Dundee, keberlanjutan kerja sama tersebut menjadi kabar baik yang memiliki makna lebih dari sekadar seremoni penandatanganan.