Kabar Baik Hulu Migas: Investasi CBM Menggeliat, Gas Siap Pasok Kebutuhan Domestik

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Perusahaan energi yang berfokus pada eksplorasi dan produksi Gas Metana Batubara atau Coal Bed Methane (CBM), NuEnergy Gas Limited (NGY), resmi menjalin kerja sama strategis dengan PT Beijing Energy Linking. Kerja sama ini difokuskan untuk pengembangan teknologi pengeboran guna memaksimalkan potensi CBM di Sumatera Selatan.

Penandatanganan kolaborasi tersebut dilakukan oleh CEO NuEnergy Gas Limited Lim Beng Hong dan perwakilan Beijing Energy Linking Wang Wei di Jakarta, Rabu (8/1/2025). Turut hadir menyaksikan prosesi tersebut Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto serta perwakilan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nanang Abdul Manaf.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyambut positif langkah strategis kedua perusahaan. Menurut dia, kolaborasi ini memiliki arti penting bagi industri hulu migas nasional, terutama dalam penerapan teknologi pengeboran horizontal (horizontal drilling) pada lapisan batubara yang prospektif.

“SKK Migas menyambut baik kesepakatan kolaborasi antara NuEnergy Gas Ltd dan PT Beijing Energy Linking, khususnya dalam penerapan teknologi pengeboran horizontal pada lapisan coal seam yang prospektif untuk CBM,” ujar Djoko di Jakarta, Rabu.

NuEnergy saat ini mengelola empat kontrak bagi hasil (PSC) CBM aktif di Sumatera Selatan. Perusahaan tengah bersiap untuk melakukan penjualan gas dari wilayah kerja Tanjung Enim sesuai Rencana Pengembangan (POD) 1 yang telah disetujui pemerintah.

Proyek Tanjung Enim ditargetkan mulai berproduksi (onstream) pada kuartal II-2026. Pada tahap awal, volume penjualan gas diproyeksikan mencapai 1 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dan akan ditingkatkan hingga mencapai produksi puncak sebesar 25 MMSCFD.

Gas yang diproduksi dari blok ini direncanakan untuk mendukung kebutuhan pasar domestik di Pulau Jawa. Penyaluran gas akan dilakukan melalui integrasi dengan jalur pipa gas utama yang berjarak sekitar 35 kilometer dari wilayah kerja Tanjung Enim.

CEO NuEnergy Gas Limited Lim Beng Hong mengapresiasi dukungan pemerintah Indonesia dalam pengembangan potensi energi non-konvensional ini.

Sementara itu, Country General Manager NuEnergy Wahyu Suharyo berharap kerja sama ini dapat memulihkan iklim investasi CBM di Tanah Air. Sebagai informasi, dari total 54 blok CBM yang pernah ada di Indonesia, saat ini hanya tersisa empat blok yang seluruhnya dikelola oleh NuEnergy.

Wahyu optimistis, dengan lokasi aset yang strategis—sekitar 50 kilometer dari kota industri Prabumulih dan 200 kilometer dari Palembang—proyek ini dapat merealisasikan monetisasi gas secara masif.

“Saya berharap kerja sama ini dapat merealisasikan gas secara masif dan membuka kembali investasi CBM di Tanah Air, sehingga tujuan strategis nasional dapat segera dirasakan manfaatnya secara nyata oleh seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Wahyu.