Karakter Mirip, DME Bisa Jadi Pengganti LPG Rumah Tangga

Jakarta, Ruangenergi.com – Kepala Badan Litbang ESDM, Dadan Kusdiana, menyatakan bahwa pemerintah telah meneliti pemanfaatan Dimethyl Ether (DME) sejak 2009 untuk substitusi LPG rumah tangga. Pemanfaatan DME dari batubara yang diproduksi di dalam negeri rupanya dapat meningkatkan ketahanan energi nasional.

“Karakteristik DME ini memiliki kemiripan dengan komponen LPG, yaitu terdiri atas propan dan butana, sehingga penanganan DME dapat diterapkan sesuai LPG,” ujar Dadan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (22/7).

Menurut Dadan, konsumsi LPG semakin meningkat secara nasional sejak keberhasilan konversi minyak tanah ke LPG. Pasqlnya, suplai LPG yang dapat diproduksi dari kilang dalam negeri masih belum mencukupi sehingga diperlukan impor. Ironisnya, impor tersebut dari tahun ke tahun semakin meningkat,” kata Dadan.

Ia menjelaskan, bahwa DME berasal dari berbagai sumber, baik bahan bakar fosil maupun yang dapat diperbaharui. DME sendiri adalah senyawa bening yang tidak berwarna, ramah lingkungan dan tidak beracun. “Selain itu, DME juga tidak merusak ozon, tidak menghasilkan particulate matter (PM) dan NOx, tidak mengandung sulfur, mempunyai nyala api biru, memiliki berat jenis 0,74 pada 60/60oF,” ungkapnya.

DME pada kondisi ruang yaitu 250C dan 1 atm berupa senyawa stabil berbentuk uap dengan tekanan uap jenuh sebesar 120 psig (8,16 atm). DME ini mempunyai kesetaraan energi dengan LPG berkisar 1,56-1,76 dengan nilai kalor DME sebesar 30,5 dan LPG 50,56 MJ/kg.

Pada awalnya DME digunakan sebagai solvent, aerosol propellant, dan refrigerant. Namun saat ini, DME sudah banyak digunakan sebagai bahan bakar kendaraan, rumah tangga, dan genset.

Uji terap pemakaian DME 100% telah dilakukan di wilayah Kota Palembang dan Muara Enim pada bulan Desember 2019 – Januari 2020 kepada 155 kepala keluarga dan secara umum dapat diterima oleh masyarakat. “Selain itu, uji terap DME 20%, 50%, dan 100% dilakukan di Jakarta (Kecamatan Marunda) kepada 100 kepala keluarga pada tahun 2017,” tukasnya.

BACA JUGA  Produksi Tembaga dan Emas Freeport Anjlok

Namun demikian, kata Dadan, dibutuhkan subsidi DME untuk menjaga agar produk tersebut sanggup bersaing, memenuhi skala keekonomian, termasuk soal harga jual ke masyarakat. Meski demikian, pihaknya akan berusaha mengejar nilai subsidi DME tidak melebihi subsidi LPG yang ada saat ini. “Menurut saya, subsidi DME akan tetap ada, tapi besaranya tidak lebih besar. Maksimum sama dengan LPG,” ungkapnya.

Sebelumnya, ide proyek DME digagas lantaran tingginya impor LPG yang membuat angka subsidi terus membengkak. Tahun lalu misalnya, realisasi subsidi LPG menyentuh Rp 42,47 triliun. Sedangkan tahun ini, subsidi LPG dialokasikan sebesar Rp 50,6 triliun.

Lebih lanjut, kajian Balitbang KESDM itu juga menyebutkan bahwa DME belum bisa sepenuhnya menggantikan LPG. Untuk skala pemenuhan kebutuhan rumah tangga, DME hanya cocok menjadi campuran saja, bukan subtitusi 100 persen.

Komposisi campuran yang optimal adalah 20 banding 80 dalam berat. Sebanyak 20 persen DME dapat dikombinasikan dengan 80 persen LPG.

Balitbang KESDM telah melakukan uji terap dengan komposisi tersebut menggunakan kompor yang biasa dipakai untuk LPG rumah tangga. Uji terap berlangsung di Sumatera Selatan pada akhir tahun lalu. Sejumlah masyarakat yang mengikuti uji terap, menjajal memasak pakai DME.

“Secara teknis kita bisa memastikan bahwa DME dicampur 20% dengan 80% LPG ini. Bisa menggunakan kompor LPG exisiting. Butuh uji terap yang lebih luas untuk memahami aspek keberterimaan sekaligus sosialisasi DME,” kata Dadan.(Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *