Dirut Pertamina

Ke DPR Pertamina Paparkan Progress GRR Tuban

Jakarta, Ruangenergi.com – Komisi VII DPR-RI menggelar  Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Direktur Utama PT Pertamina (Persero).

Direktur Utama PT Pertamina, Nicke Widyawati, menggunakan, dengan disruption yang terjadi, transisi energi yang terjadi, maka rencana pembangunan kilang mengalami perubahan.

“Kami melakukan review kembali bersama dengan Pemerintah, dengan Program Pemerintah mendorong Renewable Energy juga ke EV (electrical vehicle) baterai, EV manufakturing. Pertamina melakukan alignment (keselarasan) terhadap rencana tersebut, sehingga program pengembangan Kilang double capacity, yang awalnya 1 juta barel per hari menjadi 2 juta barel per hari. Ini kemudian di revisi. Dari 1 juta barel per hari akan dikembangkan menjadi 1.425.000 barel per hari. Peningkatannya hanya 425.000 barel per hari,” jelas Nicke di Ruang Sidang Komisi VII DPR, (31/05).

Nicke menyebut, yang terbesar penambahannya kapasitasnya dari GRR Tuban, sehingga sangat real on sekali kalau kemudian dari Komisi VII meminta untuk mengetahui bagaimana progress nya, karena tambahan kapasitas terbesar adalah dari GRR Tuban.

Djoko Priyono

Sementara, Direktur Kilang Pertamina Internasional (KPI) Djoko Priyono, memaparkan bahwa pembangunan GRR Tuban memiliki kapasitas 300.000 barel per hari, dan mempunyai kompleksitas 14,3% dan menghasilkan produk BBM EURO 5, serta nilai Capex sebesar US$ 13,5 miliar.

“Kemudian struktur company nya JV Company, kerja sama antara Pertamina dan Rosneft Singapure Pte Ltd, di mana 55% saham milik PT KPI dan 45% milik Rosneft,” katanya.

Ia menambahkan, produk BBM yang dihasilkan yakni sebesar 12,80 juta KL per tahun, dengan rincian 5,20 juta KL produk Diesel; 1,49 juta KL produk Avtur; 5,95 juta KL produk Ron 92 (Pertamax); 0,16 juta KL produk RON 95 (Pertamax Plus).

BACA JUGA  Tahun 2021 Tahun Spesial Bagi Chevron

Selain itu, GRR Tuban juga menghasilkan produk petrokimia sebesar 4.701 kilo ton per annum (KTPA), dengan rincian 1,301 produk Paraxylene; 173 MTBE; 510 Styrene; 650 LLDPE/HDPE; 1,160 polypropylene; 407 Sulfur; dan 500 MEG.

“GRR Tuban ditargetkan akan onstrem di Juni 2027. Ini akan mundur sekitar 6 bulan, karena Front End Engineering Design (FEED) mengalami kemunduruan 6 bulan karena Pandemi Covid-19 di negaranya yang mengejerkana Basic Engineering Design (BED) dan juga lisensornya karena lockdown,” ungkap Djoko.

Ia menambahkan, pihaknya sudah melakukan kick off meeting terkait FEED pada April 2021, dan direncakan akan selesai dalam kurun waktu 1 tahun.

“Kita lakukan speed up, speed up, untuk nanti di exsklusif project,” tuturnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *