Komisi VII DPR

Komisi VII Sebut Dana Anggaran Kemenristek Tidak Mengalami Perubahan

Jakarta, Ruangenergi.com Berdasarkan mekanisme pembahasaan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Komisi VII DPR RI menyepakati bahwa anggaran Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tidak mengalami perubahan atau penyesuaian dari alokasi anggaran awal sebesar Rp 2,787 triliun untuk tahun anggaran 2021.

Padahal sebelumnya, dana abadi penelitian telah diusulkan untuk naik dari yang semula Rp 3 triliun menjadi sebesar Rp 5 triliun, atau sama dengan alokasi tahun 2020 ini.

Ketua Komisi VII DPR, Sugeng Suparwoto, membacakan kesimpulan Rapat Dengar Pendapat, bahwa pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Pemerintah terkait (Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara (DJBP) Kementerian Keuangan) untuk membahas terkait dana abadi penelitian ini.Komisi VII DPR

Sebab pada tahun depan, kata Sugeng, penelitian terkait penanggulangan dampak pandemi Covid-19 masih terus berlanjut mengingat masih ditemukannya vaksin dan rangkaian uji klinis vaksin baru akan berakhir pada tahun depan.

“Komisi VII melalui Menristek/ Kepala BRIN mendesak Dirjen Perbendaharaan Negara Kemenkeu RI agar dana abadi penelitian dapat dilakukan pencarian secepatnya sesuai dengan amanat UU Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sisnas Iptek, khusus pengelolaan dana abadi riset,” jelas Sugeng beberapa waktu lalu, (27/09).

Menteri Ristek, Bambang Brodjonegoro

Hadir secara virtual dalam rapat tersebut, Menristek/ Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro, menerima keputusan yang sudah dibahas oleh Banggar DPR RI bersama Menteri Keuangan tersebut.

Dirinya tetap berkomitmen, sesuai dengan Raker 10 September lalu, untuk menjalankan berbagai program sehingga keberadaan teknologi dapat terasa secara luas bagi berbagai daerah di Indonesia.

“Kemudian mengenai salah satu usulan kami, yaitu dana abadi penelitian yang tidak ada perubahan, maka kami mengasumsikan sesuai dengan nota keuangan yaitu Rp 3 triliun. Kami akan berkomunikasi dengan LPDP Kemenkeu sebagai pengelola dana tersebut, untuk bisa mulai menggunakan dana abadi yang sudah ada sejak tahun 2019 itu,” jelas Bambang.

Mantan Menteri Keuangan tersebut berharap jika dana abadi penelitian bisa segera digunakan, akan dapat segera mendukung berbagai riset dan inovasi baik yang terkat dengan Covid-19 maupun prioritas riset nasional dan riset-riset unggulan lainnya.

BACA JUGA  SKK Migas: KKKS jangan shut down tapi slow down

Dari anggaran tersebut, alokasi program riset inovasi terbagi dua yakni untuk fungsi pelayanan umum sebesar Rp 754 miliar dan fungsi pendidikan sebesar Rp 1,478 triliun.

Anggota Komisi VII DPR RI turut memberikan catatan terkait dengan dana abadi penelitian tersebut. Anggota Fraksi Demokrat Sartono Utomo mengatakan bahwa konsorsium riset dan inovasi Covid-19 diharapkan dapat berlari lebih cepat lagi.

“Anggaran konsorsium pada tahun 2020-2021 harus disinergikan sehingga dapat memaksimalkan penemuan dan pengembangan produk untuk menangani Covid-19 ini,” bebernya.

Sedangkan, Anggota Komisi VII DPR RI yang juga bertugas di Banggar DPR RI, Ratna Juwita Sari, mengungkapkan, bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya agar anggaran dana abadi penelitian Kemenristek/ BRIN tetap seperti tahun 2020 sebesar Rp 5 triliun, namun dengan segala reasoning yang disampaikan Pemerintah, maka hasil yang ditetapkan hanya Rp 3 triliun.

“Ini perlu upaya bersama dari Kemenristek agar meyakinkan Pemerintah terkait anggaran yang diberikan, Kemenristek jangan nyaman saja dengan anggaran yang diberikan, tetapi harus ambil momen saat pandemi seperti sekarang ini dimana penelitian terkait virus harus menjadi leading sektor dari Kemenristek/ BRIN,” jelas Ratna.

Anggaran lain yang disetujui Komisi VII DPR RI diantaranya Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) sebesar Rp 126,05 miliar, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Rp 815,79 miliar, Badan Informasi Geospasial (BIG) Rp 1,267 triliun, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Rp 1,761 triliun, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Rp 840 miliar dan Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) Rp 1,839 triliun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *