KPBB Sebut Ada Komponen yang Bikin Harga BBM Sulit Turun


Jakarta, Ruangenergi.com – Di tengah turunnya harga minyak dunia, Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menyoroti persoalan komponen acuan dalam penetapan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia.
Menurut Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin, beberapa komponen dinilai membuat harga BBM sulit turun dibandingkan negara tetangga lainnya. “Ada beberapa komponen yang sudah ditetapkan di Indonesia yang mana hal tersebut cukup besar dibandingkan negara lain,” kata Ahmad dalam diskusi virtual di Jakarta, Rabu (29/4).
Misalnya, kata dia, untuk BBM RON 98, di harga SPBU memiliki nilai RP9.850. Dalam komponen tersebut terdapat pajak BBM 5 persen senilai Rp 492,50, selanjutnya PPN 10 persen atau Rp 985 dan biaya alpha Rp 985 dengan harga pokok produksi Rp 7.387,50.
“Sedangkan di Malaysia pemberian pajak penjualan BBM masih disesuaikan dengan harga minyak dunia, bukan sesuatu yang sudah baku ketentuannya. Selain itu, KPBB mendorong dengan harga BBM yang sama saat ini, setidaknya kualitas BBM Indonesia memiliki peningkatan standar,” paparnya.
Untuk peningkatan kualitas, Ahmad menyarankan adanya penyederhanaan BBM yang terbagi atas Pertamax, Pertamax Turbo, Pertadex dan Pertadex HQ. “Selain itu untuk meminimalisir polusi setidaknya untuk bensin minimal RON 91 dan jenis Ron 95,” ucapnya.
Sementara itu, ujar dia, untuk solar jenis CN minimum 51 dan CN 53. Kemudian untuk BBG disiapkan menuju transisi menuju energi bersih.
Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan pentingnya kualitas BBM yang bagus. Menurut dia, jika menggunakan BBM berkualitas rendah akan membuat mesin kendaraan akan lebih cepat rusak, selain itu dari segi biaya akan lebih boros.
BBM dengan kualitas rendah akan menghasilkan lebih banyak polusi karena menghasilkan daya pembakaran yang tidak sempurna dalam prosesnya. 
Pihaknya juga mengatakan jenis BBM yang tidak ramah lingkungan harus dihentikan produksinya. “Dengan begitu maka pengurangan dampak polusi akan sangat efisien dalam penerapannya,” kata Ahmad.
Ia menyarankan penyederhanaan BBM tersebut terbagi atas Pertamax, Pertamax Turbo, Perta-dex dan Perta-dex HQ. Selain itu untuk meminimalisir polusi setidaknya untuk bensin minimal RON 91 dan jenis Ron 95.
Sementara itu, untuk solar jenis CN minimum 51 dan CN 53. Kemudian untuk BBG disiapkan menuju transisi menuju energi bersih. Dalam diskusi tersebut ia juga menyampaikan pentingnya kualitas BBM yang bagus.
Menurutnya, jika menggunakan BBM berkualitas rendah akan membuat mesin kendaraan akan lebih cepat rusak, selain itu dari segi biaya akan lebih boros.(Red)

BACA JUGA  Kelola Blok Rokan 2021, Pertamina akan Ciptakan Multipĺier Effect

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *