Lebih dari Sekadar Terang, PLTS PLN Membawa Harapan Baru ke Pulau Rengit Belitung

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Belitung, ruangenergi.com – Senja perlahan tenggelam di pesisir Pulau Rengit, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, cahaya keemasan memantul pada jajaran panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 78 kilowatt peak (KWp) milik PT PLN (Persero). Dahulu, listrik di pulau kecil nan eksotis ini mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang hanya beroperasi sekitar 12 jam sehari. Kini, PLTD tersebut telah digantikan oleh PLTS Rengit, sehingga 44 kepala keluarga atau sekitar 200 jiwa dapat menikmati pasokan listrik selama 24 jam dengan energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

Kehadiran PLTS di pulau ini merupakan bagian dari Program PLTS 100 gigawatt peak (GWp) yang diluncurkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada Selasa (25/8). Program tersebut mencakup 14 proyek PLTS tahap awal berkapasitas total 5.300 megawatt peak (MWp) di berbagai wilayah Indonesia.

Bagi warga Pulau Rengit, perubahan itu bukan sekadar soal listrik yang menyala sepanjang hari, tetapi membuka peluang baru dalam keseharian mereka. Salah satunya dirasakan Hendra, seorang nelayan kepiting rajungan, kehadiran listrik 24 jam bukan sekadar membuat rumah lebih terang di malam hari, melainkan menghadirkan harapan baru agar hasil laut yang menjadi sumber penghidupannya dapat bertahan lebih lama dan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.

“Dulu kalau listrik tidak 24 jam, rajungan yang saya kumpulkan harus langsung dibawa kembali ke Tanjung Pandan. Sekarang listrik sudah menyala 24 jam, sehingga saya bisa beli freezer supaya hasil tangkapan bisa lebih awet,” ungkap Hendra.

Manfaat serupa turut dirasakan oleh warga Pulau Rengit lainnya. Menurut Itam Ali, seorang pembuat kapal kayu, kehadiran listrik sepanjang hari memberi kesempatan baginya untuk bekerja lebih optimal. Peralatan listrik yang sebelumnya terbatas penggunaannya kini dapat dimanfaatkan kapan pun.

“Sekarang peralatan listrik bisa saya pakai juga di siang hari karena ada listrik. Pekerjaan saya bisa lebih produktif,” tutur Itam Ali.

Senyum gembira juga terpancar dari Sofyan. Ia bersyukur kini listrik mengalir tanpa putus ke rumahnya, membuat berbagai aktivitas sehari-hari bisa dilakukan dengan lebih nyaman.

“Terima kasih Bapak Presiden Prabowo dan PLN yang sudah menghadirkan PLTS di pulau kami. Sekarang kami bisa menikmati listrik 24 jam. Alhamdulillah, masyarakat di sini semua senang,” ucap Sofyan.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan bahwa PLN siap mendukung penuh visi Pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi melalui percepatan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dan kepulauan.

“PLN siap melaksanakan penugasan Bapak Presiden untuk mempercepat pengembangan PLTS 100 GWp. Sebagai bagian dari ekosistem kelistrikan nasional, PLN akan all out agar pengembangan energi surya dapat terintegrasi dengan sistem kelistrikan secara andal, aman, dan berkelanjutan. Ini merupakan bagian dari komitmen PLN untuk mendukung terwujudnya swasembada energi melalui pemanfaatan energi hijau domestik dan ramah lingkungan,” ujar Darmawan.

Senada dengan hal tersebut, General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan Dwipantara, Rita Triani, menjelaskan bahwa keberhasilan menghadirkan listrik 24 jam di Pulau Rengit dicapai melalui inovasi integrasi multi-EBT yang mampu mendongkrak keandalan sekaligus efisiensi pasokan listrik.

“Sebelumnya, sistem PLTD berkapasitas 2×100 kilowatt menghasilkan energi sekitar 72 kilowatt hour per hari. Setelah penerapan sistem multi-EBT, ketersediaan energi meningkat signifikan. Yang paling penting, kini masyarakat dapat menikmati listrik 24 jam dan mulai memanfaatkannya untuk berbagai kegiatan produktif,” tutur Rita.

Melalui integrasi panel surya, Battery Energy Storage System (BESS), turbin angin, hingga fuel cell hidrogen ke dalam Green Energy Ecosystem Technopark (GEET), PLN mampu memangkas Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik di Pulau Rengit dari Rp16.700 menjadi Rp12.300 per kilowatt hour (kWh), sekaligus memangkas potensi emisi karbon hingga sekitar 99,5 ton karbon dioksida per tahun.

“Listrik ramah lingkungan dari PLN di Pulau Rengit bukan sekadar soal hadirnya terang, tetapi bagaimana energi ini bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Aktivitas bisa berjalan lebih leluasa, dan roda ekonomi di pesisir pun semakin hidup. Inilah bagaimana energi bersih kami hadir untuk mendorong kemandirian dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” pungkas Rita.