Erupsi Anak Krakatau Berdampak ke 3 KKKS, Operasi Produksi Migas Tetap Aman

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Erupsi Gunung Anak Krakatau mulai memberi dampak terhadap kegiatan operasional hulu minyak dan gas bumi (migas), terutama pada mobilitas pekerja dan jalur evakuasi medis. Namun, operasi produksi migas di wilayah kerja yang terdampak masih berjalan aman.

Informasi yang diterima Ruang Energi dari petinggi di sektor energi, Minggu (6/9/2026), menyebutkan sedikitnya tiga Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Ketiganya yakni Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), PHE Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES), serta Pertamina EP Zona 7 Field Tambun.

Meski terkena paparan abu vulkanik, kondisi fasilitas produksi pada PHE ONWJ dan PHE OSES disebut tetap aman dan beroperasi. Tidak terdapat gangguan yang berdampak terhadap keberlangsungan operasi produksi.

Dampak lebih terlihat pada Pertamina EP Zona 7 Field Tambun. Fasilitas di area Tambun terdampak abu vulkanik yang cukup tebal, terutama di Stasiun Pengumpul (SP) Jatinegara.

Namun, kondisi tersebut sejauh ini belum menyebabkan gangguan operasional produksi.

Fokus pengelola kini diarahkan pada mitigasi keselamatan pekerja dan kesiapan menghadapi perubahan kondisi Gunung Anak Krakatau.

Medivac Udara Terganggu, Kapal Jadi Alternatif

Salah satu konsekuensi paling signifikan justru terjadi pada jalur medical evacuation (medevac).

Paparan abu vulkanik membuat jalur medevac melalui udara berisiko terganggu. Aktivitas penerbangan dapat terdampak oleh kondisi abu vulkanik yang berpotensi membahayakan penerbangan.

Untuk itu, kapal/boat disiapkan sebagai moda transportasi alternatif bagi medevac pekerja KKKS offshore.

Perubahan moda evakuasi ini tidak dilakukan sembarangan. Setiap perubahan metode harus melalui proses Management of Change (MoC) dan/atau Risk Assessment sebelum diterapkan.

Dengan demikian, keselamatan pekerja tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan operasional.

Di sisi lain, pekerja yang berada di area terdampak abu vulkanik diimbau meningkatkan perlindungan diri.

Penggunaan masker N95 atau KN95 menjadi salah satu langkah perlindungan terhadap paparan abu vulkanik. Pekerja juga diminta meningkatkan health and safety awareness serta terus mengikuti perkembangan kondisi lingkungan.

Informasi dan arahan resmi mengenai kondisi Gunung Anak Krakatau juga harus menjadi acuan pekerja di lapangan.

Produksi Aman, Kesiapsiagaan Diperkuat

Petinggi sektor energi tersebut menegaskan, erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini belum menyebabkan gangguan terhadap operasi produksi migas pada tiga KKKS yang terdampak.

Namun, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian serius karena perubahan arah dan intensitas abu vulkanik dapat memengaruhi aktivitas operasional, terutama mobilitas pekerja, penerbangan dan proses medevac.

Pesan kuncinya: operasi produksi tetap aman, sementara prioritas mitigasi kini difokuskan pada kesiapsiagaan medevac dan perlindungan pekerja dari paparan abu vulkanik.

Dengan status Gunung Anak Krakatau yang masih berada pada Level III (Siaga), pemantauan kondisi gunung api dan dampaknya terhadap kegiatan hulu migas menjadi bagian penting dari pengamanan operasi.