Mempawah, ruangenergi.com – Indonesia kembali tancap gas dalam misi kemandirian industri. Holding BUMN Industri Pertambangan, MIND ID, resmi memulai pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II di Mempawah, Kalimantan Barat.
Proyek raksasa ini ditandai dengan seremoni groundbreaking pada Jumat (6/2/2026). Langkah ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan sinyal kuat bahwa Indonesia serius memutus rantai ketergantungan impor aluminium dan memperkuat ekosistem hilirisasi bauksit dari hulu ke hilir.
Proyek SGAR Fase II ini menelan investasi fantastis sebesar USD 1,6 miliar. Dengan tambahan fasilitas ini, kapasitas produksi alumina PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) akan melonjak dua kali lipat. Tambahan Produksi: 1 juta metrik ton alumina/tahun. Total Kapasitas: 2 juta metrik ton alumina/tahun.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan bahwa proyek ini adalah fondasi penting bagi kedaulatan industri nasional. “Dengan hadirnya SGAR II, kapasitas produksi alumina dalam negeri akan semakin kuat. Ini langkah krusial untuk menekan ketergantungan impor,” ujarnya dalam sambutan resmi.
Strategi hilirisasi ini bukan tanpa alasan. Maroef memaparkan perbedaan nilai ekonomi yang sangat kontras antara menjual tanah air (bauksit mentah) dengan produk olahan:
| Komoditas | Estimasi Harga (per Metrik Ton) |
| Bauksit Mentah | USD 40 |
| Alumina (Hasil Olahan) | USD 400 |
| Aluminium (Produk Akhir) | USD 2.800 – USD 3.000 |
“Melalui penguatan kapasitas di sisi midstream, kami menargetkan peningkatan nilai tambah ekonomi hingga lebih dari 70 kali lipat,” tambah Maroef.
Efek domino dari proyek di Mempawah ini diprediksi akan mengubah peta ekonomi nasional. Selain SGAR II, akan dibangun smelter aluminium baru berkapasitas 600.000 metrik ton per tahun.
Dampaknya? Cadangan devisa negara diperkirakan akan melesat hingga 394%, dari yang semula sekitar Rp 11 triliun menjadi Rp 52 triliun per tahun. Selain itu, industri manufaktur dalam negeri kini punya jaminan pasokan bahan baku yang stabil tanpa harus melirik pasar luar negeri.
Senada dengan hal tersebut, CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa hilirisasi adalah agenda prioritas Presiden RI yang menjadi fokus utama Danantara dalam mendorong transformasi ekonomi.
“Hilirisasi akan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” tegas Rosan. Ia menekankan bahwa kolaborasi disiplin antara pemerintah dan BUMN adalah kunci agar proyek ini memberikan dampak nyata, terutama dalam penyerapan tenaga kerja lokal.












