Menuju Kemandirian Energi : Peran Indonesia di Forum Multilateral G-20, Penulis : Diah Ayu Permatasari

Perhelatan akbar G-20 yang akan dilaksanakan di Indonesia merupakan penghargaan dunia  bagi bangsa dan negara. Indonesia patut berbangga, karena menjadi satu-satunya negara  di Asia Tenggara yang masuk sebagai anggota G-20 sehingga memungkinkan untuk mengadopsi  strategi dan kebijakan dari keberhasilan negara-negara anggota G-20 dalam menghadapi  tantangan global di bidang energi.

Buku Kemandirian Energi disajikan oleh Diah Ayu Permatasari atau yang biasa disapa Pepy dengan bahasa yang  lugas dan enak dibaca saat menempuh pendidikan Doktor Program Study Hubungan Internasional Universitas Padjajaran.

Dalam perjalanan karir-nya, Pepy pernah menjadi Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Teknologi Informasi  Universitas Bhayangkara  Jakarta Raya. Finalis putri Indonesia ini, pernah bekerja di TAC Pertamina – Radeka Sukaraja Energindo dan East sepajang Blok, menempuh pendidikan S1 (S.I.P) Ilmu Pemerintahan Universitas Gajah Mada, Yogjakarta dan S1 (ST)  Teknik Manajemen Universitas Islam Indonesia, Yogjakarta dan. Pendidikan S2 (M.IR) Keamanan Internasional dari ‘Friendship Peoples’  University (RUDN), Moskow – Rusia dan S3 (Dr). Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran Bandung. Pepy juga aktif sebagai peneliti di Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Ubhara Jaya.

Buku Kemandirian Energi : Peran Indonesia di Forum Multilateral G-20 terbagi dalam beberapa bahasan sebagai berikut :

Bab Pendahuluan : Penulis memaparkan perkembangan globalisasi dan perubahan lingkungan strategis yang terjadi sejak paruh abad ke-20 telah menyebabkan perubahan fundamental yang mempengaruhi lanskap dinamika situasi dunia terjadi dalam tiga aspek yaitu politik-ekonomi, keamanan dan teknologi. Perubahan politik global terjadi sejak berakhirnya perang dingin yang membawa perubahan pada konsepsi ancaman keamanan yang  tidak hanya didominasi oleh “keamanan negara” tetapi juga “keamanan insani” (Buzan,2004)

Diatas semua itu, buku ini difokuskan pada kajian mengenai kerjasama multilateral Indonesia pada isu energi di forum G-20. Pembahasan akan terbagi dalam beberapa bagian utama, yaitu aspek teoritis dari kerjasama multilateral dan energi berkelanjutan, kondisi energi nasional ; konsumsi dan produksi, implementasi dan perkembangan kerja sama multilateral Indonesia di bidang , termasuk di dalamnya pengkajian situasi geopolitik dunia dalam bidang energi  dan pembahasan terakhir menyangkut peran dan upaya Indonesia di G-20 dalam bidang energi.

Bagian II : Kerjasama Multilateral dan Energi Berkelanjutan : Tinjauan Teoretis

Pada Bagian ini penulis membahas mengenai  bentuk kerjasama antar negara. Kordinasi dan kerjasama ini seharusnya memandang  semua negara memiliki konstruksi  yang sama dalam menerima hasil kesepakatan yang setara. Dengan kata lain dalam kerja sama multilateral  tidak ada perbedaan negara prioritas atau negara yang lebih penting. Dalam hal ini, semua negara yang menerima kesepakatan multilateral akan menderita kerugian sementara, namun dalam jangka panjang akan membawa keuntungan bersama  (Keohane, 1986).

 Bagian III : Kondisi dan Kebijakan Energi di Indonesia

Korelasi antara Produksi dan Konsumsi Energi dengan apik dipaparkan bagaimana peran energi sebagai instrumen penting bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara.Pentingnya dan ketergantungan pada energi fosil  minyak di dunia  tidak bisa dipungkiri ataupun diabaikan menjadi sumber ancaman keamanan dan perdamaian dunia.

Di Indonesia, pengelolaan energi mendapatkan perhatian dan pengawasan serius dari pemerintah. Sebagai komponen strategis, energi menjadi isu sensitif yang dapat menjadi ancaman bagi stabilitas keamanan nasional.

Penggunaan konsumsi energi di Indonesia terjadi di beberapa sektor dan terus mengalami peningkatan, misalnya industri, rumah tangga, komersial, transportasi, dan lainnya. Konsumsi energi untuk sektor rumah tangga merupakan yang terbesar dibanding sektor lainnya. Data Indonesia Outlook Energy 2018 yang dirilis Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) memproyeksikan kebutuhan energi Indonesia meningkat dari 795 miliar BOE di 2016 menjadi 1,780 miliar BOE  di 2030 dan melonjak 4,569 miliar BOE di 2050.

 Bagian IV : Perkembangan Kerjasama Multilateral Indonesia di Bidang Energi

Penulis membahas perkembangan lingkungan strategis  telah membawa dampak pada berbagai tantangan yang bersifat multi dimensional bagi negara-negara di dunia. Perkembangan ini termasuk perubahan pada isu-isu menyangkut ketersediaan energi yang menjadi tantangan global peradaban umat manusia di abad 21.

BACA JUGA  Jurnal : INDONESIA GEOTHERMAL DEVOPMENT: Involvement of Private Sector to Support Geothermal Development

Indonesia memiliki komitmen untuk aktif menjadi bagian dari solusi berkontribusi dalam menghadapi tantangan dan ancaman di bidang energi. Dalam hal ini , Indonesia dalam rangka menghadapi problem dan tantangan global di bidang energi aktif membangun komunikasi di forum multilateral dalam rangka mengkordinasikan upaya dari semua negara dalam rangka menanggulangi masaah dan tantangan di bidang energi. Kerja sama multilateral Indonesia di bidang energi antara lain : Forum OPEC, APEC, Kerja sama Ekonomi dan Teknik (ECOTECH), Forum ASEAN, dan APAEC sebagai cetak biru kerja sama energi di kawasan ASEAN.

 Bagian V  : Sejarah Pembentukan G-20  dan Posisi  Indonesia

Pembentukan G-20 awalnya muncul dari inisiatif negara-negara G-7  yang melihat pentingnya peran negara-negara berpendapatan menegah yang memiliki pengaruh sistemik pada sistem ekonomi dan keuangan dunia. Pada pertemuan di bulan Juni 1999, para Menteri Keuangan G-7 melihat bahwa semua negara seharusnya dapat bekerja sama untuk menciptakan suatu mekanisme dialog informal di antara perekonomian besar tersebut dalam rangka sistem institusional Bretton woods.

Pada tanggal 25 September 1999 para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G7 mengumumkan usulan mereka untuk memperluas dialog sebagai isun kunci kebijakan ekonomi dan keuangan di antara perekonomian yang besar serta menunjang kerja sama guna mencapai pertumbuhan ekonomi dunia yang stabil dan berkelanjutan yang bermanfaat bagi semua.

 Bagian VI : Agenda Kerjasama dan Pembahasan Isu Energi di G-20

Kerjasama Energy Sustainability Working Grup (ESWG)

Bagian ini membahas isu energi yang merupakan salah satu isu yang menjadi agenda pembahasan dunia dunia internasional. Ketergantungan terhadap sumber energi minyak bumi mendorong dunia internasional memasukan isu energi menjadi salah satuagenda bersama yang perlu mendapat perhatian.

Pasalnya, pertumbuhan ekonomi dan kemajuan suatu negara salah satunya didukung  oleh ketersediaan energi.

Energi menjadi instrumen penting  kemajuan suatu negara  sehingga memberikan pengaruh pada dinamika perkembangan ekonomi dunia.

Oleh karena itu, dalam beberapa forum multilateral agenda kerja sama salah satunya diarahkan pada effectivennes pemerintahan energi global.

 Bagian VII: Komitmen Indonesia Dalam Pemenuhan Energi di G-20

Arti Penting G-20

Di bagian ini penulis menjelaskan tentang bagaimana peran Indonesia  yang telah mengamil langkah-langkah  strategis  untuk mengamankan pasokan dan ketersediaan sumber energi. Dalam konteks ini, kebijakan poilitik luar negeri  Indonesia memberikan pengaruh terhadap upaya pemenuhan pasokan energi nasional. Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir pemerintah Indonesia terus menjalin kerja sama dalam beberapa forum multilatera. Pasalnya, dinamika pertumbuhan ekonomi suatu negara dewasa ini bersifat saling ketergantungan antara negara-negara di dunia.

G-20 sebagai salah satu forum utama dalam kerjasama internasional merupakan kumpulan dari negara dengan ekonomi terbesar di dunia dalam rangka menghadapi tantangan dan persoalan global. Peran dan posisi G-20 sangat strategis karena mewakili lebih dari 84 persen GDP  dunia, 75 persen perdagangan dunia, serta dua per tiga penduduk dunia. G-20 berfokus pada pembahasan sektor-sektor strategis untuk mencapai pertumbuhan secara bersama sama dengan membangun strategi Peretumbuhan ekonomi global melalui peningkatan ekonomi, investasi dan infrastruktur, peningkatan perdagangan dan kompetisi dan sektor lainnya sebagai faktor krusial untuk mendorong pembangunan.

 Bagian VIII: Penutup

Buku ini telah memberikan satu sudut pandang mengenai G-20 sebagai forum strategis dalam menghadapi persoalan dan tantangan di bidang energi. G-20 dalam bahan buku ini tidak saja berperan sebagai forum utama kerja sama ekonomi, tetapi perannya dalam menghadapi krisis energi fosil yang dihadapi negara-negara di dunia.

Perhatian G-20 pada isu energi sejalan dengan kenyataan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pembangunan suatu negara membutuhkan pasokan ketersediaan energi sebagai pendorong aktifitas ekonomi dan pembangunan suatu negara. Oleh karena itu, G-20 telah merefleksikan pendekatan multilateral baru dalam menjawab masalah dan tantangan global di bidang energi yang memiliki dampak sistemik terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan suatu negara.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *