Misi Penyelamatan Sumur Tua: Bahlil Lahadalia Gandeng Bos SKK Migas Boyong Teknologi Baru ke Rokan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Pekanbaru, Riau, ruangenergi.com-Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dijadwalkan akan mendampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia,  melakukan kunjungan kerja strategis ke Provinsi Riau, Selasa (23/12/2025).

Agenda dua petinggi otoritas energi ini bukan sekadar kunjungan biasa. Berdasarkan informasi yang dihimpun Ruangenergi.com, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan bahwa rombongan akan meninjau langsung jantung produksi minyak nasional di Blok Rokan dan Wilayah Kerja (WK) West Kampar dengan membawa dua misi besar.

Kunjungan ini menyoroti upaya agresif pemerintah dalam menahan laju penurunan produksi alamiah sumur minyak (decline rate) sekaligus menggenjot angka produksi baru. Dalam kunjungan kerja (kunker) Mesdm Bahlil Lahadalia dan Kepala SKK Migas itu, dikabarkan akan melakukan peresmian Proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Ini adalah tonggak sejarah baru dalam penerapan teknologi tingkat lanjut untuk memaksimalkan cadangan minyak di lapangan tua.

Kemudian, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mendampingi Mesdm Bahlil Lahadalia untuk melakukan kegiatan Management Walkthrough di WK West Kampar. Menteri dan Kepala SKK Migas akan meninjau langsung pencapaian produksi minyak yang berhasil menembus angka psikologis di atas 1.000 BOPD (barel minyak per hari).

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, kepada ruangenergi.com, membenarkan adanya agenda kunjungan sekaligus peresmian CEOR di blok Rokan.

Mengenal “Senjata Baru” PHR: Apa itu CEOR?

Agenda yang paling dinanti adalah peresmian tahap lanjut dari Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR). Bagi masyarakat awam, istilah ini mungkin terdengar rumit, namun prinsip kerjanya sebenarnya cukup sederhana namun krusial bagi ketahanan energi kita.

Secara sederhana, CEOR adalah metode pengurasan minyak tahap lanjut (tersier). Jika pada tahap awal minyak keluar karena tekanan alami, dan tahap kedua dipompa menggunakan air (waterflood), maka tahap ketiga ini menggunakan “ramuan kimia” khusus.

Di Blok Rokan, yang merupakan lapangan tua (mature field), minyak yang tersisa biasanya menempel kuat pada batuan reservoir dan sulit didorong keluar hanya dengan air biasa. Di sinilah CEOR bekerja. Cara kerja CEOR itu, Insinyur PHR menyuntikkan zat kimia seperti surfactant (sejenis sabun) dan polimer ke dalam perut bumi. Zat ini bekerja menurunkan tegangan antarmuka minyak, membuatnya lebih licin, melepaskan minyak yang terperangkap di pori-pori batuan, dan mendorongnya mengalir ke sumur produksi.

Analoginya, bayangkan piring berminyak yang sulit dibersihkan hanya dengan bilasan air. Anda butuh sabun (surfaktan) untuk mengangkat lemak tersebut. Begitulah kira-kira cara CEOR “mencuci” batuan di perut bumi agar sisa-sisa minyak bisa diambil.

Penerapan CEOR di Rokan diharapkan dapat membuka kembali cadangan minyak jutaan barel yang sebelumnya dianggap tidak bisa diproduksi lagi.

Sinyal Positif dari West Kampar

Selain teknologi canggih di Rokan, kunjungan ke WK West Kampar juga membawa angin segar. Pencapaian produksi di atas 1.000 BOPD menunjukkan bahwa optimalisasi sumur-sumur pengembangan dan efisiensi operasional di wilayah tersebut berjalan efektif.

Kunjungan Menteri Bahlil dan Djoko Siswanto ini menegaskan pesan kuat: Pemerintah tidak hanya diam melihat sumur tua mengering, tetapi aktif menerapkan teknologi canggih dan mengapresiasi setiap tetes kenaikan produksi demi mengejar target kedaulatan energi nasional.