Mohon Doa! Kepala SKK Migas Djoko Siswanto Berharap PNBP Energi Lampaui Target APBN

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto berharap penerimaan negara dari sektor energi mampu melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Harapan tersebut disampaikan Djoko pada Rabu (14/10/2026) melalui pesan singkat yang sarat optimisme kepada ruangenergi.com. “Mohon doa Insya Allah PNBP sektor Energi melebihi target APBN, Aamiin YRA,” tulis Djoko.

Pernyataan itu disampaikan setelah Djoko membagikan pemberitaan DDTC News yang memuat perkembangan realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) 2026. Dalam berita tersebut, Menteri Keuangan Suahasil Nazara mencatat realisasi PNBP telah mencapai Rp459,2 triliun.

Angka tersebut telah melampaui target PNBP dalam APBN 2026. Namun, jika dibandingkan dengan outlook penerimaan yang diperkirakan mencapai Rp575,1 triliun, realisasi tersebut baru berada di level 85,6%.

Dengan demikian, masih terdapat selisih sekitar Rp115,9 triliun untuk mencapai proyeksi outlook tersebut.

Harapan Djoko menarik perhatian karena sektor energi, termasuk minyak dan gas bumi, merupakan salah satu bidang strategis yang berkontribusi terhadap penerimaan negara.

Kinerja penerimaan sektor ini antara lain dipengaruhi oleh produksi dan lifting migas, harga minyak mentah, nilai tukar rupiah, serta penerimaan dari kegiatan usaha energi lainnya.

Bagi pemerintah, peningkatan penerimaan negara dari sektor energi menjadi penting di tengah kebutuhan menjaga ketahanan energi sekaligus memperkuat ruang fiskal nasional.

Di sektor hulu migas, upaya meningkatkan produksi dan lifting menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung penerimaan negara. Optimalisasi lapangan eksisting, percepatan proyek pengembangan, serta peningkatan kegiatan eksplorasi menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi migas nasional.

Meski demikian, realisasi PNBP secara keseluruhan tidak dapat disamakan dengan penerimaan dari sektor energi saja. PNBP nasional juga berasal dari berbagai kementerian, lembaga, dan sumber penerimaan negara lainnya.

Pernyataan Djoko mencerminkan harapan agar kontribusi sektor energi terhadap penerimaan negara dapat terus meningkat hingga akhir 2026.

Realisasi PNBP sebesar Rp459,2 triliun memberikan gambaran bahwa penerimaan negara telah melampaui target APBN. Namun, capaian terhadap outlook sebesar Rp575,1 triliun masih menyisakan pekerjaan untuk mengoptimalkan penerimaan pada sisa tahun anggaran.

Kini, perhatian tertuju pada kemampuan berbagai sektor penyumbang PNBP, termasuk energi dan hulu migas, untuk menjaga kinerja penerimaan di tengah dinamika harga komoditas dan tantangan operasional.

Harapan Djoko pun menjadi pesan optimistis bagi sektor energi: bukan sekadar mengejar target, melainkan memperbesar kontribusi terhadap penerimaan negara dan memperkuat fondasi ketahanan energi nasional.