OPINI: Liminalitas Pasar Kerja Modern dalam Era Disrupsi Teknologi dan Geopolitik

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com-Di zaman ketika pekerjaan berubah lebih cepat dari janji kebijakan dan algoritma lebih konsisten daripada manusia, bekerja bukan lagi soal tiba, melainkan bertahan di ambang.Liminalitas dunia kerja membuat semua generasi sibuk menyesuaikan diri—sambil diam-diam bertanya apakah yang mereka kejar masih masuk akal, atau sekadar rutinitas yang ditunda maknanya.}

Pasar kerja modern hari ini berada di sebuah ruang antara, bukan lagi dunia lama yang menjanjikan stabilitas, tetapi juga belum sepenuhnya tiba di tatanan baru yang dapat diandalkan.

Inilah kondisi liminalitas, sebuah fase transisi berkepanjangan, ketika aturan lama runtuh lebih cepat daripada aturan baru terbentuk, dan manusia dipaksa bekerja sambil menebak-nebak pijakan kakinya sendiri.
Dalam ruang liminal ini, bekerja tidak lagi identik dengan kepastian, melainkan dengan ketahanan psikologis dan struktural. Karier bukan lagi lintasan lurus, tetapi fragmen-fragmen adaptasi yang terus disusun ulang

Teknologi, Mesin yang Mempercepat Ambang
_Disrupsi teknologi_ adalah pintu utama menuju liminalitas pasar kerja. Otomasi, kecerdasan buatan, dan platform digital menjanjikan efisiensi, namun sekaligus mengaburkan batas antara bekerja, belajar, dan bertahan hidup. Pekerjaan belum sempat matang sebagai identitas sosial, sudah berubah bentuk atau digantikan sistem.
_Teknologi bergerak dalam logika eksponensial_ , sementara manusia dan institusinya bergerak linear. Ketimpangan tempo inilah yang menciptakan ketegangan, pekerja dituntut adaptif, tetapi tanpa jaminan bahwa adaptasi itu akan relevan lebih lama dari satu siklus inovasi.
Dalam kondisi ini, ketidakamanan bukan lagi kegagalan individu, melainkan konsekuensi struktural.

Geopolitik.

Ketidakpastian Global, Dampak Personal

Jika teknologi mengguncang dari dalam, geopolitik mengguncang dari luar. Konflik internasional, fragmentasi rantai pasok, perang dagang, dan politik energi global membuat pasar kerja lokal menjadi arena resonansi krisis global.

Keputusan yang diambil ribuan kilometer jauhnya bisa menghapus lapangan kerja, menciptakan sektor baru, atau menggeser nilai suatu keahlian dalam semalam.

Bagi pekerja, geopolitik menghadirkan _ketidakpastian yang tidak bisa dinegosiasikan._ Kompetensi dan etos kerja tetap penting, tetapi tidak lagi cukup untuk menjamin keberlanjutan. Liminalitas pasar kerja diperpanjang oleh realitas bahwa banyak risiko kini berada di luar kendali personal.

Sistem Sosial dan Regulasi, Tertinggal di Tengah Peralihan.

Di tengah disrupsi teknologi dan geopolitik, sistem regulasi dan sosial sering tertinggal. Aturan ketenagakerjaan masih berbasis asumsi stabilitas, sementara realitas kerja makin cair dan temporer. Fleksibilitas dipromosikan sebagai solusi, tetapi sering kali tanpa penyangga perlindungan yang memadai.
Akibatnya, pasar kerja berada dalam ambiguitas normatif, _bekerja penuh waktu tetapi tanpa rasa aman, berstatus profesional tetapi tanpa kepastian masa depan. Inilah ciri khas liminalitas, *kejelasan peran hilang, sementara tuntutan produktivitas tetap utuh*.

Perspektif Filosofis Bekerja di Tengah Absurditas.

Secara filosofis, liminalitas pasar kerja mencerminkan kondisi eksistensial manusia modern. Individu diminta rasional, produktif, dan kompetitif dalam sistem yang hasilnya semakin tidak dapat diprediksi. Usaha dan ganjaran tidak lagi berbanding lurus.
Di sinilah kerja menjadi arena absurditas modern, manusia terus berlari, bukan karena yakin akan tujuan, tetapi karena berhenti terasa lebih berbahaya. Dalam kondisi ini, sikap generasi muda yang enggan menggantungkan identitas sepenuhnya pada pekerjaan bukanlah kemalasan, melainkan kewaspadaan eksistensial.
Mereka membaca liminalitas bukan sebagai fase sementara, tetapi sebagai lanskap hidup.

Antar-Generasi di Ruang Antara.

Liminalitas pasar kerja menyentuh semua generasi non-pensiun. Generasi yang dibesarkan dengan janji stabilitas merasa kehilangan fondasi. _Generasi yang tumbuh di tengah disrupsi belajar untuk tidak berharap terlalu banyak._ Perbedaannya bukan pada.tingkat kecemasan, melainkan pada cara mengelolanya.
Semua generasi kini berbagi satu pengalaman yang sama, bekerja dalam ketidakpastian yang dilembagakan.

Bertahan Tanpa Ilusi

Liminalitas pasar kerja modern menuntut satu kebajikan baru, kewarasan tanpa ilusi. Bekerja tetap penting, kompetensi tetap relevan, tetapi harapan harus disesuaikan dengan realitas struktural. Adaptasi bukan lagi strategi keunggulan, melainkan syarat dasar untuk bertahan.
Di ruang antara ini, mungkin kebijaksanaan tertinggi bukanlah mencari kepastian yang hilang, melainkan membangun daya lenting—individual dan kolektif—sambil menyadari bahwa ketidakpastian_bukan gangguan sementara, melainkan ciri permanen zaman_ .
Bukan kita yang terlambat tiba di masa depan; kitalah yang sedang hidup di ambangnya

|A||N||S|
Dosen-GBUI
Buittenzorg,
17Januari2026
{ _Verba volant, scripta manent_}