Penghapusan BBM Beroktan Rendah Jangan Hanya Wacana

 

Jakarta, Ruangenergi.com – Salah satu penyebab utama tingginya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya adalah karena masih banyak pemilik kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) ber-oktan rendah di bawah level Euro 4.

Hal ini disampaikan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Prof. Budi Haryanto saat dihubungi dalam pesan singkatnya yang diterim Ruangenergi.com melalui telepon genggamnya, Rabu (01/7).

“Jadi menurut saya penghapusan BBM beroktan rendah itu jangan hanya wacana tapi harus direalisasikan, karena sudah terlalu lama masyarakat dan lingkungan Jakarta, Bodetabek bahkan kota-kota besar lainnya dia Indonesia tercemar oleh bahan bakar minyak yang tidak ramah lingkungan,” kata Prof Budi.

Pada prinsipnya, kata dia, kualitas BBM ditetapkan dengan pertimbangan efek terhadap polusi udara dan kesehatan manusia. Semakin baik kualitas BBM, akan semakin terjamin kesehatan masyarakat yang memang tidak bisa menghindar dari emisi kendaraan bermotor.

“Premium itu masih berada di level Euro 2 (sulfur 500 ppm), sedangkan pertalite lebih baik sedikit dari premium (sulfur 200 ppm). Tapi menurut saya kedua jenis BBM ini dan juga solar sudah saatnya dihapus,” tukasnya.

Lebih jauh Prof.Budi menjelaskan, bahwa saat ini negara-negara tetangga dan bahkan hampir semua negara sudah menggunakan BBM berkualitas Euro 4 (sulfur 50 ppm). “Dan ternyata di negara-negara yang sudah menggunakan Euro 4 sejak lama, penyakit-penyakit terkait polusi udara menunjukkan penurunan yang signifikan,” pungkasnya.

BACA JUGA  BPH Migas Cek IT Nozzel SPBU Pertamina di Jatim

Seperti diketahui, Pemerintah melalui Permen LHK No 20 Tahun 2017, berupaya mengendalikan pencemaran udara dengan menetapkan baku mutu gas buang kendaraan. Dengan mengacu pada BBM untuk Gasoline (Bensin) menggunakan Research Octane Number (RON) dan Gasoil (Solar) yang menggunakan Cetane Number (CN). Standar fuel tersebut juga sesuai dengan spek kendaraan terkini.

Beberapa zat yang dihasilkan dari emisi gas buang kendaraan yakni Karbon Monoksida, Nitrogen Oksida, Hidrokarbon berdampak buruk bagi kesehatan, diantaranya zat karbon monoksida dapat mengakibatkan pusing, sakit kepala dan mual, nitrogen oksida mengganggu saluran pernafasan. Sedangkan hidrokarbon membahayakan bila berada di dalam tubuh manusia dalam jumlah yang banyak.

Bahkan pada tingkat tertentu, emisi gas buang kendaraan dapat mengakibatkan dampak kesehatan yang lebih berat mulai dari gangguan pada sistem peredaran darah (kardiovaskular), menurunkan kemampuan gerak tubuh, serangan jantung, hingga kematian.

Untuk itu, Pertamina terus mendorong masyarakat untuk menggunakan BBM yang sesuai spek kendaraan. Karena selain mampu mengoptimalkan pembakaran dan meningkatkan performa mesin juga dapat mengurangi emisi gas buang kendaraan yang berdampak buruk bagi kesehatan.

Menurut VP Corporate Communications Pertamina, Fajriyah Usman, pihaknya terus melakukan edukasi dan mendorong konsumen agar beralih menggunakan BBM yang lebih ramah lingkungan. “Seperti yang sudah kita rasakan sejak PSBB, langit biru dan udara lebih baik, untuk itu kami akan mendorong masyarakat untuk menggunakan produk yang lebih berkualitas,” katanya beberapa waktu lalu.(SF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *