Taufik Aditiyawarman

Peran PHE Dalam Mendukung Pengurangan Emisi Karbon

Jakarta, Ruangenergi.comDirektur Pengembangan dan Produksi PT PErtamina Hulu Energi (PHE), Taufik Aditiyawarman, mengungkapkan bahwa melalui implementasi environment, social and governance (ESG), PHE melakukan penurunan emisi karbon.

Dalam sebuah webinar yang bertajuk “Upaya KKKS Mengurangi Emisi Karbon” yang diselelnggarakan oleh Ruang Energi, Taufik menjelaskan, penurunan emisi karbon yang dilaksanakan oleh PHE juga selaras dengan kebijakan PT Pertamina (Persero) dalam penerapan ESG, di mana salah satu poinnya adalah penanganan iklim melalui penurunan emisi karbon.

ESG merupakan tiga faktor yang saat ini banyak digunakan untuk mengukur tingkat keberlanjutan dan dampak sosial dari investasi sebuah perusahaan.

“Tentunya beberapa hal yang kami soroti dalam menerapkan ESG ini menjadi tolak ukur alat bantu kami dalam mengukur kinerja kami terhadap environment social and governance. Manfaatnya yakni mengukur strategi keberlanjutan perusahaan, meningkatkan daya saing perusahaan di kancah global, serta meningkatkan investasi dengan mendapatkan akses pendanaan yang lebih rendah,” jelasnya.

Ia mengatakan, pada 2010 pihaknya telah melakukan potret di subholding upstream memiliki emisi sebesar 9,219 Juta Ton CO2 equivalen.

Kemudian, di 2020, PHE juga melakukan pemotretan dan masih memiliki emisi upstream sebesar 7,854 Juta Ton CO2 eqivalen, dengan sumber emisi terbesar adalah sumber pembakaran dalam dan luar (genset, generator, dan lainnya).

“Adapun faktor terbesar source emission upstream yakni berasal dari combustion sebesar 59%, flaring sekitar 29%. Dua hal ini yang menjadi fokus PHE untuk melakukan pengurangan emisi CO2 di seluruh asset-aset atau wilayah kerja PHE,” jelasnya.

Beberapa hal yang dilakukan PHE dalam mengurangi emisi karbon, di antaranya :

Efisiensi Energi, mengurangi penggunaan energi dengan menerapkan sistem manajemen energi, memodifikasi operasi mesin dan menerapkan pemeliharaan preventif.

Selanjutnya, subsitusi bahan bakar dengan gas, pemanfaatan gas ikutan untuk bahan bakar pembangkit listrik dan rumah tangga.

Reduksi flaring & venting, pemanfaatan flare gas untuk bahan bakar mesin dan sebagai gas kota. Komersialiasi gas venting untuk industri.

Zero discharge, injeksi air terproduksi untuk pemeliharaan tekanan dan Enchanced Oil Recovery (EOR), mengurangi potensi pencemaran air.

Selanjutnya, reduksi penggunan bahan bakar fosil, efisensi transportasi darat, air dan udara, penggantian transportasi minyak dengan pipa.

“Melalui kebijakan Health, Safety, Security & Environment (HSSE), PHE melakukan penerapan sistem manajemen lingkungan (SML) dan Penilaian Daur Hidup (LCA) melalui program efisiensi energi, pengurangan emisi (target 0,25% sesuai KPI/ Key Performance Indicator), penurunan beban pencemaran air, pengelolaan sampah dan limbah B3, pengelolaan sumber daya alam, prinsip refuse, reduse, rcycle, recovery, perlindungan keanekaragaman hayati, pencegahan terjadinya tumpahan minyak, serta pengembangan masyarakat yang berkelanjutan,” ungkap Taufik.

“Itu semua mungkin yang menjadi kebijakan kami dalam mengelola asset-aset kami, mengoperasikan dan memproduksikan sumber daya,” sambungnya kembali.

PHE

Program Reduksi Emisi

Taufik memaparkan, ada beberapa inisiatif ataupun upaya-upaya yang dilakukan PHE dalam mengurangi reduksi CO2  melalui beberapa program reduksi emisi.

Adapun program reduksi emisi yang telah dijalankan oleh PHE, di antaranya :

Pertama, region 1 – ramba, memodifikasi penggerak pompa ijenksi di SP Tanjunglaban, dengan ruang lingkup yakitu mengubah sistem penggerak opmpa injeksi dari primemover engine menjadi electric system di SP Tanjunglaban, reduksi emisi sebesar 10.096 Ton CO2 equivalen.

Kedua, region 3 – PHSS, Badak Nilam Integration, dengan ruang lingkup mematikan MP Compressor Nilam NCP dan melakukan pemasangan jumperline GL Source dai 42” Pecikon ke HP GL Nilam NCP (Phase 1), reduksi emisi sebesar 175.582 Ton CO2 equivalen.

BACA JUGA  Pemerintah Kawal Upaya Transformasi Subsidi LPG dan Reformasi Subsidi Listrik

Ketiga, region 3 – PHSS, Badak Nilam Integration, dengan ruang lingkup mematikan LP Compressor Nilam CP dan melakukan pemasangan jumperline 12” LP Badak Nilam NCP ke 20” Badak Nilam dan 16” VLP & LP Badak (Phase 2), reduksi emisi sebesar 4.324 Ton CO2 eqiuvalen.

Keempat, region 3 – PHM, NPU Single Flare, dengan ruang lingkup mematikan 1 flare dari 2 flare yang ada dilokasi, reduksi emisi sebesar 10.577 Ton CO2 equivalen.

Kelima, region 3 – PHM, penurunan setting parameter SEU, dengan ruang lingkup pemeliharaan peralatan Turbo Kompressor dilapangan SPS melalui penurnan inlet pressure dan program preventive maintenance 8000 jam, reduksi emisi sebesar 13.400 Ton CO2 equivalen.

Keenam, region 4 – Sukowati, program optimalisasi shipping pump, dengan ruang lingkup penggantian system diesel pump PP 8400B yang memiliki rate maksimal 1.000 BOPD menjadi electric pump PP 8300A yang memiliki rate maksimal 15.000 BOPD, maka waktu transfer minyak yang dibutuhkan untuk mengalirkan minyak dari CPA ke FSO mengalami penurunan dari 24 jam menjadi 18 jam per hari, reduksi emisi sebesar 2.707 Ton CO2 equivalen.

Sementara, program reduksi emisi yang sedang berjalan yakni, pemanfaatan jaringan PLN sebagai power supply.

Pada 2021 ini, sedang dilakukan studi pemanfaatan jaringan PLN sebagai power supply menggantikan penggunaan genset untuk mengurangi penggunaan bahan bakar, efisiensi biaya dan menurunkan emisi.

“Studi dilakukan di beberapa lokasi di PHE antara lain, di Region 2 Tambun Field dan Jatibarang Field. Sedangkan studi yang sedang di eksekusi terdapat di Region 1 Lirik Field dan Region 4 Sukowati Field. Reduksi emisi di setiap lokasi dapat mencapai 6.342 Ton CO2 equivalen,” paparnya.

Kedua, diesel dual fuel project – diesel dan LNG (Liquified Natural Gas). Diesel dual fuel project bertujuan untuk mengkonversi penggunaan bahan bakar diesel pada kapal/vessel menjadi sistem campuran bahan bakar diesel dan LNG. Hal ini membantu mengurangi penggunaan bahan akar diesel dan menggantinya dengan bahan bakar LNG yang dapat menurunkan emisi yang dihasilkan. Reduksi emisi dapat mencapai 8.470 Ton CO2 equivalen.

Ketiga, Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) – Enhanced Oil Recovery  (EOR). Di mana, gas CO2 disimpan di reservoir yang habis dan pada saat yang sama sebagai agen EOR untuk meningkatkan produksi minyak dan gas. Total potensi penyimpanan CO2 akan mencapai 108.3 MM Ton CO2 equivalen.

Melalui program kampung iklim (Proklim), PHE mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs) dengan melakukan kegiatan CSR berbasis lingkungan secara berkelanjutan, serta sebagai mitigasi risiko operasi perusahaan. Di mana hingga tahun 2021, terdapat 21 desa Proklim binaan PHE.

Kemudian, lanjut Taufik, PHE juga turut mendukung upaya mengendalikan dampak dan mitigasi perubahan iklim dengan penyerapan karbon melalui konservasi mangrove serta pengembangan beragam inisiatif pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati baik di Kawasan pesisir, laut maupun darat.

“Salah atu programnya adalah Desa Ekowisata Mangrove Labuhan di Jawa Timur, yang merupakan program unggulan PROPER Emas 2020 dan telah mendapatkan penghargaan internasional Global Corporate Sustainability Award tahun 2021 ini, Labuan masuk dalam pengajuan PROKLIM KLHK RI,” imbuhnya.

75.600 akumulasi penanaman mangrove dan cemara laut 2014-2020 dengan akumulasi resapan karbon sebesar 14.191 Ton CO2 equivalen.

“Itu beberapa contoh yang dilakukan PHE di upstream untuk mendukung pemerintah dalam hal mengurangi emisi karbon,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *