Sumur MSTB NW-1 Resmi On-Stream, Produksi Minyak Bisa Dikebut Kurang dari Dua Bulan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kabar menggembirakan datang dari sektor hulu migas nasional.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan sumur eksplorasi MSTB NW-1 mencatat tonggak penting setelah berhasil diproduksikan secara resmi hanya dalam waktu kurang dari dua bulan sejak penemuan minyak pada akhir Desember 2025.

Penemuan tersebut segera ditindaklanjuti dengan uji produksi pada pertengahan Januari 2026, dilanjutkan proses penyambungan pipa ke fasilitas eksisting terdekat. Hasilnya, sumur kini telah berstatus on-stream dan mulai menyumbang produksi nyata.

Produksi awal sumur telah berhasil di-ramp-up hingga sekitar 250 barel minyak per hari (BOPD). Capaian ini dinilai sebagai contoh nyata percepatan transisi dari fase eksplorasi ke produksi yang efektif, sesuatu yang jarang terjadi dalam waktu sangat singkat.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari koordinasi cepat antara SKK Migas, PT Imbang Tata Alam, dan para pemangku kepentingan. Sinergi lintas fungsi, diskusi teknis intensif, serta percepatan perizinan dan pengadaan menjadi faktor penentu kesiapan fasilitas permukaan dalam waktu singkat.

Tak berhenti di situ, hasil eksplorasi langsung diikuti rencana pengembangan lanjutan melalui pengeboran sumur MSTB-37 yang terintegrasi dengan Lapangan MSTB. Pengeboran dijadwalkan mulai April 2026 menggunakan Rig Arjuna#-3, rig yang saat ini masih melanjutkan pemboran eksplorasi di pulau terdekat lokasi penemuan minyak.

“Sumur pengembangan tersebut ditargetkan menghasilkan produksi setara, yakni sekitar 250 BOPD, dengan target mulai beroperasi pada akhir Mei 2026,” kata Djoko Siswanto, dalam laporan kepada Kementerian Esdm dan bercerita kepada ruangenergi.com.

Proyek ini juga menjadi bagian dari program strategis pengembangan struktur baru bertajuk “Triple 100.”

Keberhasilan percepatan produksi MSTB NW-1 diharapkan menjadi momentum penting bagi upaya peningkatan produksi nasional, terutama di tengah tantangan capaian target APBN 2026 yang sempat tertekan akibat gangguan operasional pipa gas TGI.

Dengan kolaborasi kuat dan respons cepat antar-lembaga, proyek ini menjadi contoh bahwa akselerasi produksi migas nasional bukan sekadar wacana, melainkan target realistis yang bisa dicapai melalui eksekusi yang presisi dan terkoordinasi.