Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com- Sebuah catatan tertulis dari suasana Rapat Kerja Akhir Tahun 2025 yang digelar oleh SKK Migas itu terasa berbeda.
Di balik deretan angka presentasi dan grafik yang terpampang di layar, tersimpan sebuah kenyataan yang tak bisa dikesampingkan: tahun 2026 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ketahanan energi nasional.
Di hadapan jajarannya, Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, berdiri bukan sekadar sebagai pejabat yang membacakan laporan, melainkan selayaknya nakhoda yang menyadari badai ada di depan mata. Ia tahu betul, tahun depan tidak akan ada “pahlawan kesiangan” berupa proyek raksasa (major project) yang tiba-tiba beroperasi (onstream) dan menyelamatkan angka produksi.
Tahun 2026 adalah tahun yang sunyi dari megaproyek. Namun, justru dalam kesunyian itulah, Djoko memilih untuk bersuara lantang.
“Pendekatan konvensional sudah usang,” mungkin itu pesan tersirat dari nada bicaranya yang tegas. Djoko menyadari, jika SKK Migas masih bekerja dengan ritme biasa, grafik produksi tak akan bergerak naik.
Dalam situasi yang menuntut ketangkasan ini, Djoko menggelar peta strategi baru. Ia menyebutnya “Triple 100”. Sebuah nama yang terdengar ambisius, namun sangat membumi. Ini adalah strategi “perang gerilya” di saat senjata berat (proyek besar) belum tersedia.
Strategi ini bertumpu pada satu hal: agresivitas pengeboran. Sedikitnya 300 sumur menjadi target bidikan. Mereka dibagi rata dalam tiga misi krusial: 100 sumur untuk multi-stage fracturing demi memeras setiap tetes minyak dari batuan yang keras; 100 sumur struktur baru untuk membuka lahan yang belum terjamah; dan 100 sumur eksplorasi sebagai investasi harapan bagi masa depan.
Bagi Djoko, ini bukan sekadar mengejar barel minyak. Ini adalah upaya menjaga denyut nadi industri agar tetap berdetak kencang di tengah keterbatasan.
Lima Titah Sang Kepala
Namun, strategi di atas kertas hanyalah tinta mati tanpa eksekusi yang bernyawa. Menyadari beratnya medan tempur 2026, Djoko menurunkan lima “titah” yang wajib mendarah daging di setiap lini SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
Titah pertamanya sangat manusiawi: Keselamatan. “Tidak ada kompromi untuk keselamatan,” tegasnya. Di tengah ambisi mengejar target, nyawa pekerja di lapangan tetaplah aset yang tak ternilai. Produksi penting, tapi pulang ke rumah dengan selamat adalah keharusan.
Selanjutnya, ia menuntut Kecepatan. Djoko seolah ingin memangkas habis benalu birokrasi yang kerap membuat gerak industri menjadi lamban. Ia ingin hambatan administratif dibabat habis. Baginya, setiap detik penundaan adalah kerugian bagi negara.
Ia juga meminta Fokus pada titik-titik pengeboran yang mampu memberikan dampak instan, serta Dukungan Total dari fungsi penunjang. Ia tak ingin mendengar cerita klise tentang rig yang mangkrak atau alat yang terlambat datang. “Jangan ada istilah tunggu-menunggu,” pesannya. Semua harus bergerak serentak, orkestrasi yang sempurna antara teknis dan logistik.
Dan terakhir, semua itu harus terukur dalam Anggaran. Mimpi besar harus ditopang oleh perencanaan yang masuk akal.
Rapat kerja itu mungkin telah usai, namun bagi Djoko Siswanto dan ribuan pekerja hulu migas, pekerjaan rumah yang sesungguhnya baru saja dimulai. Tahun 2026 bukan lagi soal menunggu keajaiban proyek besar, melainkan tentang kerja keras, keringat, dan keberanian untuk melakukan terobosan di setiap sumur yang mereka bor.













