Wow! FID Lapangan Duyung Diteken, Gas Natuna Siap Mengalir untuk Negeri

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, Jakarta Pusat, ruangenergi.com– Kabar gembira datang dari industri hulu migas nasional. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, melaporkan persetujuan Final Investment Decision (FID) untuk Pengembangan Lapangan Gas Duyung di Wilayah Kerja (WK) Mako, yang dioperasikan West Natuna Exploration Limited.

Peresmian FID ditandai dengan pemukulan gong oleh Laode Sulaiman di lantai 35 kantor SKK Migas—simbol dimulainya babak baru pengembangan gas Natuna untuk kepentingan domestik.

Lapangan Duyung terletak di lepas pantai Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, pada kedalaman sekitar 80 meter. Dengan kapasitas produksi dirancang sebesar 120 MMSCFD, proyek ini diharapkan memperkuat pasokan gas nasional sekaligus mendongkrak lifting migas Indonesia.

“Ini momentum penting. Untuk pertama kalinya gas dari wilayah Natuna benar-benar dimanfaatkan bagi kebutuhan dalam negeri,” tegas Djoko dalam laporannya seperti diceritakan kepada ruangenergi.com

Hadir dalam seremoni tersebut jajaran manajemen SKK Migas, Presiden Direktur WNEL Mr. Miltos, CEO Arsari Group sekaligus Presdir Nations Natuna Barat Hasyim S. Djojohadikusumo (pemegang 75% saham Blok Mako), jajaran PLN Energi Primer Indonesia selaku pembeli gas, pimpinan Bank Negara Indonesia sebagai penyandang dana, Chairman Conrad Asia Energy Mr. Peter Botten, hingga Presdir Pertamina Drilling Services Indonesia sebagai penyedia rig pengeboran.

Perjalanan proyek ini terbilang panjang. PSC WK Mako diteken pada 2007. Penemuan gas terjadi pada 2017, disusul POD-1 pada 2019 dan revisinya pada 2022. Gas Sales Agreement (GSA) tercapai pada 2025, hingga akhirnya FID diumumkan pada 2026.

Sebelum FID, sejumlah kesepakatan penting telah dirampungkan, termasuk Tie-In Agreement dengan Medco Natuna dan Star Energy Natuna. Langkah ini memastikan integrasi infrastruktur dan kelancaran penyaluran gas.

Kunci keberhasilan proyek ini juga terletak pada pembangunan pipa dari West Natuna Transportation System (WNTS) menuju Pulau Pemping, Batam. Pipa berkapasitas 300 MMSCFD tersebut dibangun oleh PLN atas penugasan Menteri ESDM.

Setelah sempat tertunda selama hampir satu dekade, proyek pipa ini ditargetkan rampung pada Juni 2026. Infrastruktur tersebut tak hanya akan mengalirkan gas dari Lapangan Duyung, tetapi juga membuka peluang penyaluran DMO gas dari KKKS lain di wilayah Natuna ke Batam.

Artinya, ekosistem gas Natuna kini benar-benar diarahkan untuk menopang kebutuhan energi domestik, khususnya industri dan kelistrikan di wilayah barat Indonesia.

Dengan masuknya Lapangan Duyung ke tahap konstruksi dan eksekusi penuh, pemerintah optimistis kontribusinya terhadap lifting gas nasional akan signifikan.

Proyek ini juga menjadi simbol kolaborasi erat antara regulator, operator, pembeli gas, perbankan, hingga penyedia jasa pengeboran—sebuah orkestrasi industri hulu migas yang solid.

“Kita berharap proyek ini berjalan lancar, aman dan selamat, serta memberi manfaat optimal bagi bangsa dan negara,” ujar Djoko.

Di tengah tantangan global sektor energi, kabar ini menjadi suntikan semangat baru.

Lifting naik? Bisa, bisa, bisa!