Jacket Manpatu “Berlayar”: Langkah Cepat PHM Kejar Produksi Migas Nasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Balikpapan, Kaltim, ruangenergi.com – Proyek pengembangan migas Manpatu milik PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) terus melaju dalam ritme cepat. Salah satu tonggak penting baru saja dicapai: struktur utama anjungan lepas pantai (jacket) resmi memasuki tahap load out dari fasilitas fabrikasi PT Meindo Elang Indah di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pada 26 Maret 2026.

Momen ini menjadi penanda bahwa proyek yang digarap dengan skema fast track tersebut semakin dekat menuju fase instalasi di laut. Setelah load out, jacket Manpatu akan segera menjalani tahap sail away—berlayar menuju lokasi pemasangan di perairan South Mahakam, sekitar 35 kilometer dari pesisir Balikpapan.

Berawal dari penemuan sumur eksplorasi Manpatu-1x pada awal 2022, proyek ini dirancang untuk menjadi salah satu pengungkit produksi migas nasional. Dengan kapasitas desain mencapai 80 MMSCFD, Manpatu diharapkan mampu memperkuat pasokan gas sekaligus kondensat dari wilayah kerja Mahakam.

Secara teknis, proyek ini bukan pekerjaan kecil. PHM membangun satu anjungan baru lengkap dengan jacket berbobot sekitar 1.380 ton dan topside seberat 1.100 ton, ditambah jaringan pipa bawah laut sepanjang 2,5 kilometer. Tak hanya itu, 11 sumur pengembangan juga akan dibor untuk mengoptimalkan produksi dari lapangan ini.

General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menegaskan bahwa proyek Manpatu merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan produksi migas nasional. Menurutnya, inovasi dan penerapan teknologi terbaik menjadi kunci untuk menjawab tantangan lapangan yang semakin kompleks.

Tak sekadar mengejar target produksi, proyek ini juga mencatatkan capaian penting dalam aspek Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Untuk pertama kalinya di area Mahakam, PHM mengimplementasikan penggunaan pipa lokal berbasis teknologi Electric Resistance Welding (ERW) secara menyeluruh, mulai dari subsea hingga riser.

Di sisi keselamatan kerja, proyek ini menunjukkan performa impresif. Hingga Maret 2026, Manpatu telah mencatat lebih dari dua juta jam kerja tanpa insiden kehilangan waktu kerja (Lost Time Incident). Angka ini diproyeksikan terus meningkat hingga melampaui tiga juta jam kerja saat proyek rampung.

Kecepatan eksekusi menjadi ciri khas proyek ini. Dengan jadwal ketat sejak fase penemuan, PHM mengandalkan kolaborasi erat dengan para kontraktor Engineering, Procurement, Supply, Construction, and Commissioning (EPSCC). Sinergi tersebut menjadi faktor krusial agar proyek tetap berada di jalur waktu yang telah ditetapkan.

Setelah jacket, tahapan berikutnya adalah load out dan sail away topside yang dijadwalkan pada pertengahan April 2026. Instalasi keseluruhan platform ditargetkan berlangsung pada April hingga Mei 2026, dengan harapan fasilitas sudah terpasang di lapangan pada awal kuartal III 2026.

Jika semua berjalan sesuai rencana, Proyek Manpatu akan mulai berproduksi (onstream) pada kuartal I 2027—menjadi kontribusi nyata bagi upaya menjaga ketahanan energi nasional di tengah tantangan penurunan produksi dari lapangan-lapangan tua.

Lebih dari sekadar proyek migas, Manpatu mencerminkan strategi Pertamina dalam mempercepat monetisasi temuan baru melalui inovasi, efisiensi, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Sebuah langkah konkret menuju energi yang lebih tangguh untuk Indonesia.