Catat Ya, Strategi “Dual Growth”: Menjaga Hari Ini, Menyiapkan Masa Depan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Kuala Lumpur, Malaysia, ruangenergi.com-Di tengah memanasnya dinamika geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Gulf States yang mengguncang stabilitas pasokan energi dunia, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memilih tidak tinggal diam. Anak usaha Subholding Upstream Pertamina ini justru tancap gas memperkuat perannya sebagai penjaga ketahanan energi nasional.

Komitmen itu ditegaskan Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, dalam forum Leadership Dialogue ajang bergengsi Offshore Technology Conference (OTC) Asia 2026 di Kuala Lumpur, Selasa (31/3/2026).

Di forum yang mempertemukan para pemimpin industri energi Asia tersebut, Awang menyoroti satu hal penting: dunia sedang berada dalam persimpangan antara kebutuhan energi yang terus meningkat dan tuntutan transisi menuju energi bersih.

“Di tengah ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar global, prioritas utama adalah memastikan pasokan energi yang andal, terjangkau, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menjawab tantangan tersebut, PHE mengusung strategi dual growth—sebuah pendekatan ganda yang menyeimbangkan dua kepentingan besar: menjaga produksi migas saat ini sekaligus membangun fondasi energi rendah karbon.

Di sektor hulu migas, PHE agresif mendorong produksi melalui berbagai cara: mulai dari penerapan teknologi canggih, eksplorasi wilayah baru, hingga pengembangan Enhanced Oil Recovery (EOR) dan migas non-konvensional. Tak hanya itu, perusahaan juga aktif mengakuisisi aset strategis untuk memperkuat portofolio energi nasional.

Namun PHE sadar, masa depan energi tak bisa hanya bertumpu pada hidrokarbon.

Sebagai bagian dari transformasi jangka panjang, PHE juga mengembangkan bisnis rendah karbon, terutama melalui teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS).

Teknologi ini memungkinkan emisi karbon ditangkap dan disimpan, bahkan dimanfaatkan kembali—sebuah langkah penting menuju energi yang lebih bersih tanpa mengorbankan kebutuhan energi saat ini.

Menariknya, proyek CCS/CCUS yang dinilai paling realistis saat ini adalah yang terintegrasi langsung dengan pengembangan lapangan migas.

Di tengah kompleksitas industri energi, PHE menegaskan bahwa kolaborasi adalah kunci utama. Perusahaan membuka pintu kemitraan seluas-luasnya, terutama untuk proyek dengan tantangan teknis dan keekonomian tinggi.

Kolaborasi ini tidak hanya melibatkan pelaku industri, tetapi juga pemerintah, akademisi, hingga masyarakat lokal—menciptakan ekosistem energi yang lebih tangguh dan inklusif.

Tak hanya fokus pada bisnis, PHE juga menegaskan komitmennya terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Perusahaan menerapkan standar tinggi dalam tata kelola, termasuk kebijakan zero tolerance on bribery.

Melalui implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) berstandar ISO 37001:2016, PHE memastikan operasional bisnis berjalan bersih, transparan, dan berintegritas.

Dengan strategi yang seimbang antara ketahanan energi dan transisi menuju energi bersih, PHE menegaskan posisinya sebagai pemain kunci di kawasan.

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, langkah PHE menjadi sinyal kuat: menjaga pasokan energi hari ini tidak boleh mengorbankan masa depan—dan keduanya bisa berjalan beriringan.