Balikpapan, Kaltim, ruangenergi.com-Selat Makassar tak pernah benar-benar sunyi. Di balik riak ombak dan hembusan angin laut, ada denyut panjang yang terus bekerja—mengalirkan energi bagi negeri. Di sanalah Lapangan Kerindingan berdiri, setia sejak pertama kali ditemukan pada 1972 dan mulai berproduksi pada 1976. Hampir setengah abad berlalu, namun kisahnya belum usai.
Di tengah anggapan umum bahwa lapangan migas tua akan meredup, kenyataan justru berkata sebaliknya. Di bawah pengelolaan PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT), yang berada dalam naungan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Lapangan Kerindingan tetap dijaga “napasnya”. Bukan sekadar bertahan, tapi terus diupayakan agar tetap produktif.
Hasilnya mulai terlihat di awal 2026.
Alih-alih melemah, kinerja PHI justru melampaui target. Sepanjang triwulan pertama 2026, produksi minyak tercatat menembus lebih dari 120 persen dari target. Sementara produksi gas juga menunjukkan performa solid di kisaran 104 persen.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Pada Januari hingga Februari 2026 saja, produksi minyak mencapai sekitar 60.300 barel per hari—jauh di atas target 49.400 barel per hari. Gas pun mengalir hingga 606.000 MSCFD, melampaui target yang ditetapkan sebesar 583.000 MSCFD.
Capaian ini merupakan kerja kolektif dari berbagai entitas di bawah PHI, termasuk PT Pertamina Hulu Mahakam sebagai kontributor terbesar, bersama PT Pertamina Hulu Sanga Sanga, PT Pertamina EP, dan unit lainnya.
Di balik pencapaian tersebut, ada strategi yang tidak sederhana. Lapangan tua seperti Kerindingan membutuhkan pendekatan yang lebih cermat dan inovatif. Salah satu langkah kunci adalah pengeboran sumur sisipan (infill drilling).
Strategi ini ibarat mencari “sisa harta karun” yang tersembunyi di antara sumur-sumur lama. Dengan mengebor di titik-titik tertentu yang belum tergarap optimal, potensi cadangan yang sebelumnya tak terjangkau bisa kembali dimonetisasi.
Sejak Februari hingga Maret 2026, PHKT mengeksekusi dua sumur infill baru. Upaya ini melanjutkan jejak panjang eksplorasi di Kerindingan yang hingga pertengahan 2025 telah memiliki 34 sumur dengan produksi kumulatif yang signifikan.
Namun, teknologi dan strategi saja tidak cukup. Ada prinsip yang terus dijaga: keselamatan dan efisiensi harus berjalan beriringan. Setiap proses pengeboran dirancang dengan praktik rekayasa terbaik, bukan hanya untuk menekan biaya dan waktu, tetapi juga memastikan keselamatan pekerja tetap menjadi prioritas utama.
Di sisi lain, keberhasilan ini tidak hanya lahir dari kerja teknis di lapangan. Ada peran penting yang datang dari luar rig dan anjungan—yakni dukungan publik dan peran media.
Melalui forum santai bertajuk Bincang Asik Soal Migas Ala PHI (BASO IGA PHI), manajemen PHI menegaskan pentingnya hubungan yang erat dengan insan pers. Bagi mereka, industri migas bukan sekadar urusan produksi, tetapi juga soal transparansi, komunikasi, dan kepercayaan publik.
Sebagai bentuk apresiasi, PHI kembali menggelar “Apresiasi Pewarta Energi Kalimantan 2026” (APEKA 2026). Ajang ini menjadi ruang bagi para jurnalis untuk mengangkat cerita-cerita di balik industri migas—mulai dari tantangan teknis hingga dampaknya bagi ketahanan energi nasional.
Pada akhirnya, capaian produksi yang melampaui target bukan sekadar angka dalam laporan kuartalan. Ia adalah refleksi dari upaya panjang—dari tangan para insinyur di tengah laut hingga pena para jurnalis di daratan.
Lapangan Kerindingan mungkin telah menua, tetapi semangat untuk menjaganya tetap menyala. Di sanalah tersimpan pesan penting: bahwa kedaulatan energi tidak hanya dibangun dari sumber daya, tetapi juga dari ketekunan, inovasi, dan kolaborasi.
Dari Selat Makassar, cerita itu terus berlanjut siap ditayangkan di ruangenergi.com.

