Cikarang, ruangenergi.com — Upaya mendorong industri yang lebih ramah lingkungan terus menunjukkan progres nyata. PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya resmi mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap terbesar di Indonesia dengan kapasitas 22,5 MW, bekerja sama dengan PT Xurya Daya Indonesia.
Berlokasi di kawasan industri Cikarang, instalasi ini membentang di atas area seluas lebih dari 122 ribu meter persegi—setara sekitar 17 lapangan sepak bola Gelora Bung Karno—dengan total 36.862 panel surya terpasang.
Secara operasional, PLTS ini mampu menghasilkan rata-rata 68.500 kWh listrik per hari, cukup untuk menopang aktivitas produksi pabrik yang berjalan tanpa henti selama 24 jam. Tak hanya itu, dampak lingkungannya juga signifikan: pengurangan emisi karbon diperkirakan mencapai lebih dari 26,8 juta kilogram CO₂ per tahun, setara dengan kontribusi hampir 200 ribu pohon dalam menyerap karbon.
Langkah ini dinilai sejalan dengan agenda besar pemerintah dalam meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT). Hingga akhir 2025, bauran EBT nasional baru mencapai 15,75%, masih jauh dari target yang ditetapkan. Dalam konteks ini, PLTS atap menjadi solusi yang dinilai cepat, fleksibel, dan relevan, terutama bagi sektor industri yang memiliki kebutuhan energi besar.
Direktur PT Mulia Industrindo Tbk, Ekman Tjandranegara, menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar investasi energi, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Menurutnya, pemanfaatan energi surya akan memperkuat keberlanjutan operasional sekaligus menjaga kualitas produksi.
Di sisi lain, Xurya sebagai mitra pengembang menilai proyek ini sebagai bukti bahwa energi surya kini telah menjadi bagian integral dari strategi bisnis industri besar di Indonesia. Dengan skema tanpa biaya awal (zero upfront cost), adopsi PLTS menjadi semakin menarik bagi pelaku industri.
Pemerintah pun menyambut positif inisiatif ini. Selain mendukung transisi energi menuju target Net Zero Emission (NZE), implementasi PLTS atap juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi industri yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor nasional.
Data terbaru menunjukkan, hingga 2026 kapasitas PLTS atap di Indonesia telah mencapai sekitar 861 MWp, dengan mayoritas—sekitar 81%—digunakan oleh sektor industri. Ini menegaskan bahwa industri kini menjadi pemain kunci dalam percepatan transisi energi nasional.
Dengan beroperasinya instalasi ini, PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya tak hanya mencetak rekor sebagai pemilik PLTS atap terbesar di Indonesia, tetapi juga mempertegas arah baru industri: lebih efisien, lebih bersih, dan lebih berkelanjutan.


