Usai Sail Away Topside, PT Pertamina Hulu Mahakam Bidik Produksi Gas Manpatu

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Tanjung Pinang, Kepri, ruangenergi.com-Di tepian galangan fabrikasi milik PT Meindo Elang Indah di Tanjung Pinang, pagi 17 April 2026 terasa berbeda. Deru mesin, kilau baja, dan semangat ratusan pekerja berpadu dalam satu momen penting: pelepasan (load out dan sail away) struktur topside Proyek Pengembangan Lapangan Migas Manpatu—sebuah langkah besar menuju masa depan energi Indonesia.

 

Image

 

 

 

 

Bagi PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur migas. Di balik baja seberat 1.000 ton yang perlahan bergerak menuju tongkang pengangkut, tersimpan visi besar menjaga keberlanjutan energi nasional. Direktur Utama PHI, Sunaryanto—yang akrab disapa Anto—menegaskan bahwa Proyek Manpatu adalah simbol komitmen jangka panjang.

“Ini bukan hanya tentang menambah produksi,” ujarnya. “Ini adalah upaya menjaga ketahanan energi nasional secara berkelanjutan, khususnya dari Kalimantan.”

Topside itu sendiri akan menempuh perjalanan sekitar 1.930 kilometer menuju lepas pantai Balikpapan, lokasi operasi PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Selama kurang lebih 15 hari pelayaran, struktur raksasa ini membawa harapan baru—menjadi pusat pengolahan, pengeboran, hingga akomodasi pekerja di tengah laut, dengan kapasitas desain mencapai 80 juta standar kaki kubik gas per hari.

Namun di balik ambisi produksi, ada cerita lain yang tak kalah penting: keselamatan kerja. Dalam industri dengan risiko tinggi seperti migas lepas pantai, keberhasilan proyek sering kali diukur bukan hanya dari output, tetapi dari bagaimana setiap tahapan dijalankan tanpa insiden.

Anto menyoroti pencapaian lebih dari dua juta jam kerja tanpa Lost Time Incident hingga Maret 2026. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cerminan disiplin dan budaya kerja yang dijaga ketat. “Ini menunjukkan kesiapan kita mengeksekusi proyek secara selamat, cepat, dan terintegrasi,” katanya.

 

 

 

 

 

 

Proyek Manpatu sendiri memiliki perjalanan panjang namun cepat—sebuah fast track project yang dimulai dari penemuan sumur eksplorasi Manpatu-1X pada 2022. Dalam kurun waktu singkat, proyek ini melaju dari tahap desain (Front End Engineering Design) hingga konstruksi, termasuk first cut of steel pada Mei 2025.

Lingkupnya tidak main-main: pembangunan satu anjungan baru lengkap dengan jacket dan piles seberat 1.380 ton, pemasangan pipa bawah laut sepanjang 2,5 kilometer, hingga pengeboran 11 sumur pengembangan. Semua dilakukan di tengah tantangan lapangan migas yang semakin menua.

Bagi General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, keberhasilan ini adalah buah kolaborasi. Pemerintah, kontraktor, masyarakat, hingga ratusan tenaga kerja lokal terlibat dalam satu orkestrasi besar. Lebih dari 360 pekerja asal Kalimantan Timur bahkan diberdayakan dalam tahap fabrikasi—sebuah kontribusi nyata di tengah tantangan ketenagakerjaan.

Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, yang turut hadir dalam seremoni tersebut, melihat proyek ini dari perspektif yang lebih luas. “Ini bukan hanya soal lifting migas, tapi juga tentang peluang kerja dan dampak ekonomi bagi daerah,” ujarnya.

Di tengah kompleksitas teknis dan tekanan jadwal, satu benang merah terus dijaga: kolaborasi. Proyek seperti Manpatu tidak mungkin berdiri sendiri. Ia tumbuh dari koordinasi lintas sektor, dari regulator hingga pelaku industri, dari perancang hingga pekerja lapangan.

Jika semua berjalan sesuai rencana, instalasi jacket dan topside akan rampung pada pertengahan 2026, dengan target onstream pada kuartal pertama 2027. Saat itu, gas dari Manpatu akan mulai mengalir, memperkuat pasokan energi nasional.

Namun lebih dari itu, seperti yang disampaikan Anto di akhir sambutannya, proyek ini membawa makna yang lebih dalam: “Energi yang kita hasilkan hari ini adalah fondasi bagi masa depan bangsa. Melalui setiap langkah yang kita ambil, kita sedang menyalakan harapan Indonesia.”

Di tengah laut lepas, jauh dari hiruk pikuk kota, baja yang kini berlayar itu kelak akan berdiri tegak—bukan hanya sebagai struktur industri, tetapi sebagai simbol ketahanan, kolaborasi, dan harapan yang terus menyala.