Jambi, ruangenergi.com-Di tengah tekanan penurunan produksi alamiah dari lapangan-lapangan tua, Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1 justru menyiapkan sejumlah manuver agresif untuk menjaga bahkan menaikkan produksi migas di Sumatera. Dari pemasangan booster gas, percepatan pengeboran empat sumur baru, hingga proyek “SKN New Train” yang ditargetkan menambah pasokan gas hingga 30 MMSCFD pada 2026.
General Manager PHR Zona 1, Mefredi, mengungkapkan wilayah operasinya membentang sangat luas, mulai dari Sumatera Selatan, Jambi, Lirik, Pangkalan Susu, Rantau, hingga Lhokseumawe. Total ada enam lapangan operasi dan tiga KSO yang dikelola.
“Coverage-nya luas. Tantangannya juga besar karena sebagian besar lapangan sudah mature,” ujarnya.
Meski demikian, PHR Zona 1 berhasil menjaga produksi tetap bertahan di tengah laju decline yang terus menghantui. Menurut Mefredi, titik penurunan paling terasa saat ini terjadi di wilayah Jambi.
“Decline rate saat ini lumayan besar di Jambi,” kata Mefredi saat menerima kunjungan tim ruangenergi.com yang didampingi oleh SKK Migas perwakilan Sumbagsel, Selasa (19/05/2026), di Jambi.
Untuk menahan penurunan itu, perusahaan melakukan berbagai langkah mulai dari service sumur, pengeboran sumur baru, hingga pemasangan gas compressor booster di Lapangan Jambi Merang yang telah beroperasi lebih dari satu dekade.
Saat ini produksi gas Jambi Merang berada di kisaran 125 MMSCFD. Namun angka itu diproyeksikan melonjak signifikan setelah proyek peningkatan kapasitas SKN New Train mulai on stream pada kuartal III 2026.
“Tambahan produksinya bisa sekitar 25 sampai 30 MMSCFD. Kalau fully nanti bisa sampai kisaran 150 MMSCFD,” ungkap Mefredi.
Proyek SKN New Train akan memproses gas dari sumur existing sebelum disalurkan ke jaringan transmisi Sumatera Selatan. Sebagian besar gas tersebut saat ini menopang kebutuhan operasi Blok Rokan.
“Kalau konteksnya Rokan mungkin sekitar 70 MMSCFD dari total supply kita,” jelasnya.
Tak hanya gas, kejutan juga datang dari Padang Pancuran di WK Jambi Merang. Sumur eksplorasi yang dibor pada akhir 2024 langsung di-put on production dan menghasilkan minyak.
Awalnya sumur tersebut memproduksi sekitar 400 BOPD, namun kini sudah meningkat menjadi 600–700 BOPD.
PHR Zona 1 bahkan tengah menyiapkan percepatan pengembangan proyek PP Cipanas dengan skema pengeboran paralel empat sumur. Targetnya, sebagian sumur sudah mulai berproduksi pada kuartal I 2027.
Namun ambisi percepatan itu tidak lepas dari tantangan klasik industri hulu migas: perizinan.
“Untuk project yang sedemikian cepat itu kita memang butuh semua fokus,” kata Mefredi, seraya menyoroti pentingnya percepatan izin angkutan dan lingkungan.
Di wilayah utara Sumatera, kabar baik juga datang dari Pangkalan Susu. PHR menemukan tambahan gas dari sumur PTT 1A yang mulai menyumbang 1,3–1,5 MMSCFD ke sistem penjualan gas PGN.
“Saat ini kita sudah sekitar tiga MMSCFD,” ujarnya.
Meski sejumlah lapangan seperti NSO di Aceh mengalami penurunan tajam dibanding masa kejayaannya yang pernah mencapai sekitar 400 MMSCFD, PHR masih melihat adanya peluang dari struktur-struktur prospektif baru di sekitar lapangan existing.
Mefredi menegaskan Jambi sendiri masih sangat prospektif. Selain minyak, terdapat sejumlah lapangan gas kecil yang tengah disiapkan untuk komersialisasi, termasuk Lapangan Puspa dan Puspa Asri yang baru memperoleh persetujuan OPL dari SKK Migas.
“Jambi terus berprospek. Kita tidak pernah melihat bahwa kita akan stop,” tegasnya.
Namun di balik target produksi dan proyek-proyek baru, PHR Zona 1 menghadapi tantangan sosial yang unik. Banyak lapangan migas di Jambi berada sangat dekat dengan permukiman warga.
“Produksi tidak akan bisa jalan kalau tidak selamat,” kata Mefredi. “Keselamatan fasilitas, masyarakat, dan pekerja menjadi prioritas.”
Karena itu, ia berharap koordinasi lintas fungsi dan kepastian regulasi terus diperkuat agar peluang produksi dan komersialisasi migas bisa dipercepat.
“Opportunity-opportunity tersebut harus bisa segera diproduksikan atau dikomersialkan,” pungkasnya.


