PHE di IPA Convex 2026, Tegaskan Peran Penjaga Energi Nasional hingga Motor Transisi Hijau

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Serpong, Tangerang Selatan, ruangenergi.com— Di tengah tantangan transisi energi global dan kebutuhan menjaga pasokan energi nasional, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) tampil percaya diri di ajang The 50th IPA Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026. Lewat strategi “Dual Growth Strategy”, Subholding Upstream Pertamina ini menegaskan posisinya bukan hanya sebagai tulang punggung produksi migas nasional, tetapi juga sebagai pemain utama dalam pengembangan energi rendah karbon.

Pesan itu disampaikan langsung manajemen PHE saat menerima kunjungan Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung di Booth PHE, ICE BSD, Tangerang, Rabu (20/5/2026).

Direktur Manajemen Risiko PHE Whisnu Bahriansyah memaparkan, kontribusi PHE terhadap sektor hulu migas nasional saat ini sangat dominan. Perusahaan menyumbang sekitar 65 persen produksi minyak nasional dan 37 persen produksi gas nasional, sekaligus mengoperasikan 27 persen blok migas di Indonesia.

“PHE menjalankan strategi pertumbuhan yang seimbang antara penguatan bisnis inti migas dan pengembangan bisnis rendah karbon. Melalui pendekatan manajemen risiko yang adaptif dan terintegrasi, kami memastikan setiap langkah transformasi perusahaan tetap mendukung ketahanan energi nasional sekaligus menciptakan nilai berkelanjutan bagi masa depan,” ujar Whisnu.

Sepanjang 2025, PHE mencatat produksi minyak sebesar 556 ribu barel minyak per hari (MBOPD) dan produksi gas mencapai 2,75 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD). Angka tersebut ditopang oleh aktivitas operasional masif, mulai dari pengeboran 887 sumur pengembangan, well service lebih dari 37 ribu sumur, hingga 1.288 kegiatan workover.

Tak hanya fokus pada produksi, PHE juga mempercepat agenda transisi energi. Perusahaan berhasil mempertahankan peringkat MSCI ESG “BBB”, menjalankan lebih dari 808 program CSR, serta menurunkan emisi karbon hingga 1,6 juta ton CO₂e.

Langkah besar lainnya datang dari pengembangan proyek Carbon Capture & Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization & Storage (CCUS). Bersama mitra global, PHE menargetkan kapasitas penyimpanan karbon mencapai 7,3 gigaton hingga 2030.

Di sektor operasional, sederet proyek strategis mulai menunjukkan hasil. Mulai dari proyek injeksi CO₂ Sukowati yang diproyeksikan menambah perolehan minyak hingga 19,2 juta barel, penemuan sumber daya Tedong sebesar 108 juta BOE, hingga implementasi Multi Stage Fracturing pertama di sumur horizontal Kotabatak.

Tak berhenti di sana, PHE juga mencatat kemajuan melalui steamflood EOR pertama di North Duri A14, produksi awal Greenfield Akasia sebesar 3.200 BOPD, pengembangan EOR Chemical Minas, hingga onstream Area of Interest Sisi Nubi dengan kapasitas 70 MMSCFD.

Memasuki 2026, PHE telah menyiapkan sejumlah proyek lanjutan yang dinilai strategis bagi masa depan energi nasional. Di antaranya pengembangan Blok Lavender di Laut Natuna Timur, eksplorasi laut dalam Natuna Timur, proyek Greenfield OO-OX ONWJ, hingga pengembangan migas non konvensional (MNK) di Wilayah Kerja Rokan.

Perusahaan juga mulai memperkuat pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung operasi pengeboran, integrasi manajemen aset, hingga pengembangan subsurface agar lebih efektif dan efisien.

Salah satu proyek yang menjadi sorotan adalah CCS Asri Basin yang diproyeksikan memiliki kapasitas penyimpanan karbon hingga 2,9 gigaton. Proyek ini dinilai menjadi bagian penting dari strategi dekarbonisasi jangka panjang perusahaan.

Di arena pameran IPA Convex 2026 sendiri, Booth PHE menjadi salah satu magnet pengunjung. Konsep booth yang interaktif menghadirkan informasi digital mengenai perkembangan bisnis hulu migas, produk UMKM mitra binaan, hingga berbagai permainan interaktif dan sajian kopi racikan barista.

IPA Convex 2026 yang berlangsung pada 20–22 Mei mengusung tema “50 Years of Energy Partnership: Shaping the Next Era for Advancing Growth”. Ajang ini menjadi forum strategis yang mempertemukan pelaku industri, pemerintah, investor, hingga para ahli energi dari dalam dan luar negeri untuk memperkuat investasi sektor migas Indonesia.

Sebagai penutup, PHE menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan bisnis hulu migas berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), termasuk penerapan kebijakan Zero Tolerance on Bribery melalui implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan ISO 37001:2016.