Jakarta, ruangenergi.com – Upaya hilirisasi mineral strategis nasional terus diperkuat seiring komitmen pemerintah dalam membangun kemandirian industri dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis, salah satunya melalui kolaborasi strategis antara PT TIMAH dan PT PERMINAS dalam pengembangan hilirisasi mineral strategis nasional.
Salah satu langkah konkret dilakukan melalui penandatangan Conditional Framework PT TIMAH (Persero) Tbk dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) (Perminas) dalam pengembangan pengolahan slag timah dan rare earth elements (REE/LTJ) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kerja sama ini dituangkan dalam kerangka kerja sama bersyarat bertajuk Sovereign Strategic Mineral Cooperation Framework Pengolahan Slag Timah, Monasit & REE/LTJ Bangka.
Kesepakatan ini ditandatangi oleh Direktur Utama PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) Gilarsi Wahju Setijono dan Direktur Utama PT TIMAH (Persero) Tbk, Restu Widiyantoro yang turut disaksikan oleh Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto
di Gedung Badan Pengaturan BUMN beberapa waktu lalu.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung agenda hilirisasi pemerintah sekaligus memperkuat kedaulatan mineral nasional melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang selama ini belum dikelola secara maksimal.
Direktur Utama PT PERMINAS (Persero), Gilarsi Wahju Setijono menyampaikan, kesepakatan kerja sama dengan PT TIMAH menjadi momentum penting dalam membangun pengelolaan mineral strategis nasional, khususnya pengolahan slag timah dan rare earth elements.
Menurutnya, proses menuju kerja sama tersebut melalui pembahasan intensif guna menyusun framework kolaborasi yang akan dijalankan kedua perusahaan.
“Hari ini cukup membahagiakan karena setelah perjuangan panjang akhirnya kita menyepakati sebuah kolaborasi antara PT TIMAH dan PERMINAS. Ini bukan sekadar wacana, tetapi langkah konkret untuk memulai perjalanan baru dalam membangun kedaulatan mineral Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kerja sama tersebut diarahkan menjadi kemitraan strategis jangka panjang dalam pengembangan pengolahan slag timah dan mineral tanah jarang.
Dalam prosesnya, kedua perusahaan juga mempelajari berbagai aspek pengembangan, termasuk penguatan teknologi pengolahan guna mempercepat hilirisasi mineral strategis nasional.
“Teknologi pengolahan ini memang cukup strategis dan selama ini banyak dikunci oleh negara lain. Karena itu kami berupaya menghadirkan partner yang tepat agar proses pengolahan bisa dipercepat,” katanya.
Gilarsi menambahkan, tantangan terbesar percepatan hilirisasi saat ini tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga regulasi dan perizinan agar proses pengolahan dapat segera direalisasikan.
Sementara itu, Direktur Utama PT TIMAH, Restu Widiyantoro menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah yang membuka peluang perusahaan memperluas peran dalam pengembangan hilirisasi mineral strategis.
Menurutnya, selama puluhan tahun PT TIMAH berfokus pada pengolahan bijih timah dari hulu hingga hilir untuk kebutuhan ekspor. Namun melalui kerja sama strategis tersebut, perusahaan kini memiliki peluang untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengelolaan mineral strategis.
“Selama ini PT TIMAH hanya fokus mengelola bijih timah dari hulu sampai hilir untuk ekspor. Dengan adanya kerja sama ini, kami memiliki kesempatan untuk naik kelas melalui pengembangan hilirisasi dan pengelolaan mineral strategis,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, slag yang selama ini dianggap sebagai sisa hasil produksi ternyata memiliki potensi ekonomi dan strategis yang besar. Melalui kerja sama pengolahan slag dan mineral tanah jarang, material tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan maupun negara.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin mengatakan, kerja sama strategis tersebut merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan kekayaan alam nasional demi kepentingan bangsa dan negara.
“Kita ingin mengelola kekayaan alam yang dimiliki bangsa ini untuk tujuan utama, yakni kepentingan nasional dan kesejahteraan bangsa serta negara,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada tahap wacana, tetapi mampu menghasilkan langkah konkret dan berkelanjutan dalam mendukung hilirisasi mineral strategis nasional.
Beberapa fokus pengembangan yang akan diperkuat antara lain validasi teknologi, penyusunan kajian teknis dan komersial, penguatan aspek perizinan hingga keselamatan kerja.
Hal senada disampaikan Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa yang menilai sektor rare earth elements selama ini menjadi industri yang terlupakan karena belum mampu memberikan nilai tambah optimal bagi negara.
“Kami ingin mendorong industri yang selama ini terlupakan. Mineral ini sebenarnya ada di sekitar kita, tetapi belum mampu memberikan nilai tambah maksimal bagi negara,” ujarnya.
Menurutnya, Danantara siap memfasilitasi berbagai kebutuhan percepatan proyek, termasuk dukungan aspek perizinan dan penyelesaian kendala dalam pengembangan hilirisasi mineral strategis.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga cadangan mineral yang telah teridentifikasi agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan jangka panjang negara.
“Selama ini potensi REE banyak yang hilang tanpa sempat dimanfaatkan secara optimal. Padahal nilai strategisnya sangat besar bagi masa depan industri nasional,” katanya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto menyebut pengembangan hilirisasi REE dan mineral strategis menjadi langkah penting untuk memperkuat industrialisasi nasional.
“Presiden menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin lagi mengekspor sumber daya alam dalam bentuk mentah. Karena itu hilirisasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan kelas bangsa kita,” ujarnya.
Menurut Brian, pengembangan industri mineral strategis tidak hanya bertujuan meningkatkan ekonomi nasional, tetapi juga membangun kepercayaan diri bangsa agar mampu sejajar dengan negara maju dalam industri mineral kritis dunia.
“Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga harga diri bangsa agar Indonesia mampu menjadi produsen mineral strategis bernilai tinggi dan masuk dalam jajaran negara maju di sektor mineral kritis,” katanya.

