Tri Mumpuni Bongkar Fakta di Desa: Bawa PLTS 11 kWp, Temukan Warga Tinggal Serumah dengan Ternak

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Target ambisius pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) kini bukan lagi sekadar soal infrastruktur. Di balik angka besar itu, tersimpan pekerjaan rumah yang jauh lebih mendasar: membangun manusia dan ekosistem energi di tingkat desa.

Pesan itu menguat dalam forum Bincang Energi yang digelar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) bersama Renewable Energy Skills Development Project (RESD), Selasa (30/6), yang menyoroti pentingnya penguatan SDM lokal untuk menopang target 100 GW PLTS nasional.  

Mewakili Kepala BPSDM ESDM, Kepala PPSDM KEBTKE Edi Wibowo mengingatkan, banyak infrastruktur energi yang telah dibangun tetapi gagal memberi manfaat optimal karena masyarakat setempat tidak dibekali kemampuan untuk mengoperasikan dan merawatnya.

“Transisi energi bukan sekadar memasang infrastruktur, tapi memastikan ada manusia yang mampu menghidupkan dan menjaganya,” tegas Edi.  

Pernyataan itu seolah menemukan pembenarannya dari pengalaman panjang Tri Mumpuni, tokoh energi terbarukan Indonesia sekaligus pendiri IBEKA, yang turut hadir dalam forum tersebut.

Tri membagikan kisah yang membekas sejak tahun 1999. Saat itu ia membawa panel surya berkapasitas 11 kilowatt peak (kWp) ke sebuah desa terpencil di Indonesia. Bersama rekannya dari Prancis, ia mendapati kenyataan pahit: warga desa masih hidup dalam satu atap bersama hewan ternak.

Pemandangan itu menjadi simbol nyata betapa kemiskinan struktural masih membelenggu masyarakat di pelosok.

“Waktu itu saya berpikir, ada yang salah dengan cara kita membangun. Sistemnya menciptakan jurang kesenjangan yang begitu besar,” kata Tri.

Menurutnya, selama paradigma pembangunan masih bertumpu pada pendekatan yang tidak berpihak pada masyarakat akar rumput, maka perubahan besar akan sulit tercapai.

“Selama paradigma itu belum berubah, hanya sedikit yang bisa kita lakukan,” ujarnya.

Namun Tri memilih tidak berhenti pada kritik. Di tengah keterbatasan sistem, ia justru bergerak memasang panel surya agar desa itu memiliki listrik—bukan sekadar untuk menerangi malam, tetapi menjadi simbol bahwa energi bisa menjadi jalan keluar dari kemiskinan.

Kisah itu menjadi refleksi kuat bahwa energi terbarukan bukan hanya soal transisi menuju nol emisi, tetapi juga alat pemberdayaan sosial.

Di sisi lain, proyek RESD yang digagas Pemerintah Indonesia dan Swiss sejak 2020 telah melahirkan lebih dari 950 tenaga ahli energi terbarukan dan kini diperluas ke 19 politeknik di seluruh Indonesia.  

Dengan pengalaman seperti yang dibagikan Tri Mumpuni, pesan forum ini menjadi semakin jelas: membangun 100 GW PLTS bukan sekadar soal memasang panel surya, tetapi memastikan cahaya itu benar-benar hidup, dirawat, dan memberi harapan bagi desa-desa yang selama ini tertinggal.