MIND ID Gandeng LEN, Krakatau Steel dan Perminas, Indonesia Tancap Gas Bangun Rantai Pasok Mineral Kritis Nasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Indonesia mulai memasuki babak baru dalam pengelolaan sumber daya mineral. Holding BUMN Pertambangan MIND ID resmi berkolaborasi dengan PT LEN Industri, PT Krakatau Steel, dan PT Perminas untuk membangun rantai pasok mineral kritis nasional yang terintegrasi, sebagai fondasi pengembangan industri strategis masa depan.

Kerja sama tersebut ditandatangani dalam rangkaian Danantara’s Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing yang berlangsung di Wisma Danantara Indonesia pada 9–10 Juli 2026.

Kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk memastikan ketersediaan bahan baku industri strategis di dalam negeri sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia, sehingga tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan mentah bagi industri global.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan Indonesia memiliki peluang besar untuk naik kelas dalam rantai nilai industri dunia dengan memanfaatkan kekayaan mineral yang dimiliki.

Menurutnya, Indonesia dianugerahi cadangan mineral strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, timah hingga rare earth yang menjadi fondasi berbagai teknologi masa depan, mulai dari baterai kendaraan listrik, semikonduktor, industri pertahanan hingga energi bersih.

Namun, ia mengingatkan bahwa selama bertahun-tahun Indonesia lebih banyak berhenti pada tahap ekstraksi.

“Selama puluhan tahun kita terlalu sering berhenti di titik ekstraksi: mengekspor bahan mentah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga yang berkali-kali lipat,” ujar Rosan dalam keterangan tertulis, Rabu (15/7/2026).

Karena itu, kerja sama antara MIND ID, LEN Industri, Krakatau Steel, dan Perminas diarahkan untuk mengoptimalkan rantai pasok (supply-offtake) mineral kritis dan material maju guna memenuhi kebutuhan industri strategis nasional.

Tak hanya menjamin pasokan bahan baku, kolaborasi tersebut juga diharapkan mempercepat lahirnya industri material maju berskala besar melalui pengembangan teknologi bersama, sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi bernilai tambah tinggi.

Pengembangannya pun tidak hanya menyasar industri kendaraan listrik, tetapi juga sektor dirgantara, maritim, pertahanan, komponen dasar, hingga ketenagalistrikan yang diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masa mendatang.

Sementara itu, Chief Technology Officer Danantara Indonesia, Sigit P. Santosa, menilai pembangunan industri middle stream material maju merupakan bagian penting dari transformasi ekonomi nasional menuju negara berbasis teknologi dan manufaktur bernilai tambah tinggi.

Menurutnya, Indonesia harus mampu memanfaatkan peluang meningkatnya permintaan regional, membangun kemampuan teknologi dalam negeri, serta memperkuat daya saing di pasar global agar mampu menciptakan skala ekonomi yang berkelanjutan.

Ia menegaskan kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada melimpahnya cadangan mineral, tetapi juga pada kemampuan mengolahnya menjadi ekosistem industri material maju yang menopang berbagai sektor strategis, mulai dari baterai, energi bersih, transportasi modern hingga industri pertahanan.

“Nikel tetap menjadi salah satu keunggulan penting, namun agenda besarnya adalah membangun kapasitas industri yang lebih luas, bernilai tambah tinggi, dan kompetitif secara global,” kata Sigit.

Melalui sinergi antarbadan usaha milik negara tersebut, Indonesia menunjukkan komitmennya untuk bertransformasi dari negara pengekspor komoditas menjadi pemain utama dalam industri material maju dunia. Langkah ini sekaligus menjadi fondasi bagi pembangunan ekosistem manufaktur nasional yang mampu menghasilkan produk berteknologi tinggi dengan nilai tambah yang jauh lebih besar bagi perekonomian nasional.