Langkah Besar Dekarbonisasi! PDC dan PHE Sukses Uji Teknologi Penyerap Karbon Berbasis Microalgae

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– Upaya menekan emisi karbon di sektor hulu migas memasuki babak baru. PT Patra Drilling Contractor (PDC) bersama Fungsi Upstream Innovation PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sukses mengimplementasikan teknologi microalgae sebagai solusi penangkapan dan pemanfaatan karbon dioksida (CO₂) di fasilitas produksi migas.

Uji coba teknologi tersebut dilakukan di Stasiun Pengumpul (SP) Subang, Pertamina EP Regional 2 Zona 7 Subang Area. Sistem berbasis photobioreactor itu mampu menyerap emisi CO₂ hingga 0,11 MMscfd dengan memanfaatkan 12.000 liter kultur microalgae, menjadikannya salah satu implementasi teknologi penyerapan karbon berbasis hayati terbesar di lingkungan operasi hulu migas Pertamina.

Inovasi ini menjadi bagian dari dukungan terhadap target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia 2030 sekaligus memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor energi nasional.

Berbeda dengan teknologi penangkapan karbon konvensional, sistem ini memanfaatkan kemampuan alami microalgae menyerap CO₂ dari proses produksi gas. Karbon yang ditangkap kemudian diubah menjadi biomassa yang memiliki nilai ekonomi dan lingkungan, termasuk berpotensi dimanfaatkan sebagai soil enhancer atau pembenah tanah untuk mendukung program bioremediasi lahan.

Senior Manager Subang Field, Despredi Akbar, mengatakan penerapan teknologi tersebut merupakan langkah nyata dalam mengoptimalkan pengelolaan emisi di fasilitas operasi migas.

“Melalui implementasi teknologi microalgae, kami berupaya menangkap sebagian emisi CO₂ hasil proses produksi sehingga dapat mengurangi karbon yang dilepas ke atmosfer. Harapannya, teknologi ini dapat terus dikembangkan dalam skala yang lebih besar sehingga memberikan kontribusi yang semakin signifikan terhadap upaya dekarbonisasi sektor energi,” ujar Despredi.

Sementara itu, VP Project PDC Achmad Rifai menilai keberhasilan uji coba ini membuktikan bahwa kolaborasi dan inovasi teknologi mampu menghasilkan solusi dekarbonisasi yang aplikatif bagi industri migas.

Menurutnya, data operasional yang diperoleh selama masa uji coba akan menjadi fondasi penting untuk mengembangkan teknologi serupa di fasilitas migas lainnya.

“Keberhasilan implementasi ini menunjukkan bahwa solusi dekarbonisasi dapat dikembangkan melalui kolaborasi dan aplikasi teknologi yang tepat. Data operasional yang diperoleh selama masa uji coba akan menjadi dasar penting dalam pengembangan teknologi ini pada fasilitas migas lainnya sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas,” kata Achmad.

Dalam proyek tersebut, PDC menangani seluruh tahapan mulai dari engineering, pengadaan, konstruksi, instalasi hingga pelaksanaan uji coba sistem microalgae. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model penerapan teknologi rendah karbon di berbagai fasilitas operasi hulu migas Pertamina.

Ke depan, sistem Photobioreactor Algatek Karbon akan dikembangkan dengan kapasitas yang lebih besar, dengan target meningkatkan efisiensi penyerapan CO₂ hingga lebih dari 79 persen atau melampaui kapasitas serap 0,11 MMscfd.

Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap target dekarbonisasi nasional sekaligus mempercepat transformasi menuju industri energi yang lebih ramah lingkungan.

Achmad Rifai menegaskan, PDC siap mengambil peran strategis dalam pengembangan teknologi carbon capture and utilization (CCU) berbasis microalgae, termasuk pemanfaatan biomassa untuk bioremediasi serta mendukung implementasi program kredit karbon di lingkungan Pertamina.

Dengan keberhasilan uji coba ini, sektor hulu migas Indonesia menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak hanya mampu menjaga produktivitas energi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan industri migas yang lebih hijau, berkelanjutan, dan berdaya saing global.