Cilacap, ruangenergi.com – Dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat komitmennya terhadap penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui peresmian Rumah Pembibitan Mangrove berbasis Electrifying Agriculture di Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Selasa (28/7). Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini mengintegrasikan pemanfaatan listrik dan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas pembibitan mangrove, mendukung rehabilitasi kawasan pesisir, sekaligus memperkuat pemberdayaan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Melalui program tersebut, PLN EPI menghadirkan sistem sirkulasi air yang meniru pola pasang surut alami berbasis Internet of Things (IoT), dilengkapi instalasi kelistrikan, pompa air, jaringan perpipaan, serta pelatihan bagi kelompok pengelola rumah bibit. Teknologi tersebut memungkinkan proses pengaliran air berlangsung secara otomatis dan terjadwal, sekaligus dapat dipantau secara digital sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien, kebutuhan pekerjaan manual berkurang, dan proses perawatan bibit berlangsung lebih optimal. Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembibitan sekaligus memperbesar tingkat kelangsungan hidup bibit mangrove.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan mengatakan pengembangan Rumah Pembibitan Mangrove Bunton merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam menghadirkan program TJSL yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
“Momentum Hari Mangrove Sedunia menjadi pengingat bahwa pelestarian mangrove merupakan investasi jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat. Melalui Electrifying Agriculture, PLN EPI menghadirkan inovasi yang mengintegrasikan pemanfaatan listrik dan digitalisasi agar proses pembibitan menjadi lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan. Kami berharap teknologi ini mampu meningkatkan kapasitas kelompok pengelola dalam menghasilkan bibit mangrove yang lebih berkualitas, memperkuat konservasi pesisir dan penyerapan karbon, sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” ujar Mamit.
Desa Bunton memiliki kawasan mangrove seluas sekitar 2,33 hektare dengan lebih dari 35 ribu pohon mangrove yang telah ditanam. Kawasan tersebut berperan penting dalam mengurangi abrasi, melindungi garis pantai, menjaga keanekaragaman hayati, serta menyerap karbon sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim. Selain menjaga fungsi ekologis kawasan pesisir, keberadaan rumah pembibitan mangrove juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui penyediaan bibit berkualitas yang mendukung berbagai program rehabilitasi pesisir di masa mendatang.
Camat Adipala Firadus Azy Mutia mengapresiasi kolaborasi PLN EPI bersama masyarakat dalam mendukung pelestarian lingkungan. Menurutnya, program tersebut tidak hanya memperkuat konservasi kawasan pesisir, tetapi juga mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat melalui pengembangan rumah pembibitan mangrove yang lebih produktif.
Sementara itu, Manager PLN UP3 Cilacap Aditya Setyawan mengatakan dukungan infrastruktur kelistrikan menjadi fondasi penting dalam optimalisasi pemanfaatan teknologi pada rumah pembibitan mangrove.
“Kami berharap kehadiran listrik tidak hanya meningkatkan produktivitas masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak lahirnya berbagai inovasi yang mendukung pelestarian lingkungan secara berkelanjutan,” katanya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap, Drs. Achmad Nuralaeli, M.Si., menilai sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat merupakan kunci keberhasilan rehabilitasi kawasan pesisir. Menurutnya, penerapan teknologi dalam pengelolaan rumah pembibitan mangrove akan meningkatkan kualitas bibit, mempercepat rehabilitasi ekosistem pesisir, serta memperkuat ketahanan wilayah pesisir terhadap dampak perubahan iklim.
Ketua Kelompok Rumah Bibit Mangrove Desa Bunton, Kasiman, mengaku inovasi yang dihadirkan PLN EPI memberikan manfaat nyata bagi kelompok pengelola.
“Dengan adanya sistem sirkulasi air berbasis listrik dan IoT, pekerjaan kami menjadi lebih ringan, lebih teratur, dan lebih efisien. Kami juga lebih mudah memantau kondisi rumah bibit sehingga kualitas bibit yang dihasilkan semakin baik. Kami optimistis program ini tidak hanya mendukung pelestarian mangrove, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan usaha pembibitan,” ujarnya.
Program Electrifying Agriculture Rumah Pembibitan Mangrove Bunton menjadi bagian dari implementasi ESG PLN EPI yang mengintegrasikan inovasi teknologi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui inisiatif ini, PLN EPI menegaskan bahwa transisi energi tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan energi primer yang andal, tetapi juga melalui aksi nyata yang memperkuat ketahanan ekosistem, mengurangi dampak perubahan iklim, dan menciptakan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. Karena bagi PLN EPI, menjaga ketahanan energi nasional juga berarti menjaga kelestarian lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang.

