Langkat, Sumut, ruangenergi.com-Ada sesuatu yang berbeda ketika perjalanan jurnalistik membawa kami memasuki wilayah kerja Pertamina Hulu Energi (PHE) di Sumatera bagian utara.
Di tengah hamparan wilayah operasi minyak dan gas yang terus bergerak mengejar produksi, jejak sejarah justru terasa sangat kuat. Di sinilah Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, berada. Sebuah desa yang menyimpan cerita panjang tentang bagaimana minyak bumi pertama kali ditemukan di Indonesia.
Dalam site visit media bersama Pertamina Hulu Energi, M Utar, redaktur www.ruangenergi.com, melihat langsung bagaimana sejarah panjang industri migas itu kini berjalan berdampingan dengan upaya menjaga produksi dari lapangan-lapangan tua.
Pertamina EP (PEP) Pangkalan Susu Field mengelola enam lapangan aktif. Total terdapat 25 sumur minyak produksi dan 19 sumur gas produksi. Produksi minyak berada di kisaran 200–250 barel per hari, sementara produksi gas sekitar 3,2297 MMSCFD.
Angka itu memang tidak sebesar produksi lapangan-lapangan raksasa. Namun di balik angka tersebut ada tantangan besar: bagaimana mempertahankan produksi dari lapangan yang telah berumur panjang.
Lapangan tua, pekerjaan tidak pernah tua.
Itulah kesan yang terasa dari perjalanan ini.
PEP Pangkalan Susu Field secara rutin melakukan well intervention pada sejumlah sumur untuk menghadapi penurunan alami produksi atau natural decline. Perawatan sumur juga dilakukan agar produksi tetap terjaga sesuai target.
Pada saat bersamaan, strategi tidak berhenti pada mempertahankan sumur lama. Pengeboran sumur baru terus dilakukan.
Pada 2024, PEP Pangkalan Susu Field telah melakukan pengeboran sumur baru di Securai A2, Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat. Dalam paparan yang diterima media, perusahaan juga mencatat rencana pengeboran tambahan di wilayah Pulau Panjang dan Pantai Pakam Timur.
Jadi, menjaga produksi bukan sekadar mempertahankan apa yang sudah ada. Sumur lama dirawat, sumur baru dicari.
Namun perjalanan ke Pangkalan Susu terasa belum lengkap jika tidak menengok Telaga Said.
Sebab, di kawasan inilah salah satu halaman terpenting sejarah minyak Indonesia bermula.
Pada 1880, Aeilko Jans Zijker, seorang ahli perkebunan tembakau dari Deli Tobacco Maatschappij, menemukan genangan air bercampur minyak bumi di Telaga Tunggal.
Sampel tersebut kemudian dibawa ke Batavia untuk dianalisis. Hasilnya menunjukkan kandungan minyak mencapai 59 persen.
Zijker kemudian kembali ke Belanda untuk mencari pendanaan sekaligus izin eksplorasi. Pada 1883, ia memperoleh konsesi seluas 500 bahu dari Sultan Langkat, Sultan Musa.
Setahun kemudian pengeboran dilakukan.
Lalu, 15 Juli 1885, menjadi tanggal penting.
Dari sumur Telaga Tunggal berhasil keluar minyak bumi sekitar 200 liter per hari.
Dari titik kecil itulah sejarah industri minyak bumi Indonesia mulai menorehkan babak baru.
Zijker kemudian mendirikan Sumatra Petroleum Maatschappij (SPM). Pada 1890, perusahaan tersebut bergabung dengan Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), perusahaan minyak Belanda yang kemudian menjadi Royal Dutch Shell.
Sumur Telaga Tunggal terus berproduksi hingga 1919. Setelah BPM menemukan sumur yang lebih besar di Pangkalan Brandan, sumur tersebut akhirnya ditutup.
Tetapi sejarah tidak ikut ditutup.
Sumur Telaga Tunggal masih berdiri hingga kini sebagai saksi penemuan minyak bumi pertama di Indonesia dan telah menjadi cagar budaya di Kabupaten Langkat.
Energi dan Wajah Sosial yang Berubah
Site visit ini juga memperlihatkan bahwa cerita operasi migas hari ini tidak hanya tentang sumur, produksi dan fasilitas.
Di sekitar wilayah operasi, PEP Pangkalan Susu Field menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Salah satunya adalah Edu Ekowisata Mangrove Pasar Rawa.
Pada 2025, program tersebut telah menanam 4.000 bibit mangrove bersama Kelompok Tani Hutan Maju Bersama. Program ini bahkan meraih juara III Wana Lestari dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Yang menarik, program tersebut juga melibatkan kelompok rentan, termasuk perempuan penyintas KDRT.
Di bidang kesehatan, PEP Pangkalan Susu Field menjalankan program pencegahan dan penanganan stunting. Intervensi dilakukan secara intensif selama tiga bulan terhadap sembilan balita yang mengalami stunting.
Perusahaan juga memberikan pelatihan kepada 40 kader dari delapan posyandu serta edukasi anemia dan kesehatan reproduksi kepada 770 siswi remaja putri. Kelas ibu hamil juga digelar untuk 34 peserta di dua desa operasional.
Dari sini terlihat satu hal: keberadaan operasi migas tidak berhenti pada angka produksi.
Ada ekosistem sosial yang ikut disentuh.
Menengok Rantau: Lapangan Tua, Tantangan Besar
Perjalanan kemudian membawa cerita ke PEP Rantau Field.
Wilayah operasi ini berada di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, dengan sebagian besar wilayah kerja berada di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
PEP Rantau mengelola sekitar 1.000 sumur dan memiliki potensi cadangan minyak yang tercantum dalam fact sheet sebesar 13.738 MMBO.
Seperti Pangkalan Susu, Rantau juga menghadapi tantangan sebagai lapangan migas mature.
Inovasi menjadi salah satu cara untuk menjaga produktivitas. Salah satunya melalui inovasi We Are Finest dan USAT, termasuk inovasi CIP PEP Rantau untuk mengatasi tingkat kepasiran tinggi yang menjadi salah satu penyebab loss production opportunity.
Inovasi tersebut ditujukan untuk memperpanjang usia produktif sumur sekaligus mengurangi frekuensi pekerjaan rig.
Namun tantangan terbesar datang dari alam.
Banjir besar pada 26 November 2025 menghantam hampir seluruh fasilitas yang dimiliki PEP Rantau. Ketinggian air mencapai sekitar 4–4,5 meter, dengan endapan lumpur setebal 30–80 sentimeter.
Fasilitas produksi, perkantoran hingga permukiman pekerja terdampak.
PEP Rantau kemudian menjalankan pemulihan secara bertahap melalui tiga fase: emergency & reactivation, recovery, dan sustainability.
Menariknya, pada April 2026, SKK Migas Sumbagut memberikan penghargaan atas percepatan pemulihan produksi pascabanjir tersebut. Target pemulihan satu tahun yang ditetapkan SKK Migas mampu dituntaskan dalam waktu tiga bulan.
Ketika Difabel Menjadi Motor Ekonomi
Ada cerita lain yang tak kalah menarik di Rantau.
PEP Rantau tercatat telah sembilan kali berturut-turut meraih Proper Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup, salah satunya melalui program pemberdayaan masyarakat difabel.
Lebih dari 30 penyandang disabilitas dilatih menjadi anggota SATGAS DIGDAYA — Difabel Siaga Tanggap Bencana dan Berdaya.
Mereka tidak sekadar menerima bantuan.
Mereka dilatih membuat shelter darurat, mengoperasikan perahu evakuasi bertenaga surya hingga membuat box energy untuk penyimpanan daya saat banjir.
PEP Rantau juga memfasilitasi Café Ramah Difabel pertama di Aceh Tamiang yang dikelola penyandang tuna rungu.
Ada pula bengkel dan doorsmeer yang dikelola penyandang tuna daksa, lengkap dengan teknologi Instalasi Pengolahan Air Limbah.
Perubahan paradigma inilah yang terasa kuat.
Penyandang disabilitas tidak ditempatkan semata sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai bagian dari penggerak ekonomi masyarakat.
Dari Energi Fosil ke Energi Bersih
Cerita pemberdayaan kemudian berlanjut ke energi bersih.
PEP Rantau menjalankan Program Energi Bersih dan Sekolah Inovatif dengan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS.
PLTS telah dimanfaatkan antara lain di inklusi coffee, bengkel difabel, Sekolah Luar Biasa Negeri Aceh Tamiang, dan Gedung Inclusive Shelter.
Energi bersih berjalan beriringan dengan program ketahanan pangan.
Melalui program Future Farmers, lahan tidur seluas 1,8 hektare ditransformasikan menjadi kebun cabai produktif bersama Kelompok Tani Tunas Muda di Kampung Tanjung Seumantoh.
Kini, tanaman cabai tersebut telah puluhan kali dipanen dan menghasilkan pendapatan bagi petani muda.
Tidak berhenti di cabai, ada pula Melonesia, program smart farming Kelompok Melon Mutiara Aceh Tamiang.
Lebih dari 25 calon petani melon mendapatkan pelatihan melalui Sekolah Lapang. Mereka dipersiapkan agar mampu mengembangkan pertanian melon di rumah masing-masing.
Dengan demikian, cerita energi di Rantau menjadi jauh lebih luas.
Ada minyak dan gas. Ada energi surya. Ada pangan. Ada pemberdayaan masyarakat.
Minyak Boleh Tua, Semangat Tak Boleh Padam
Dari Telaga Said hingga Pangkalan Susu, kemudian bergerak ke Rantau, site visit ini seperti membawa kami menyusuri tiga lapisan waktu.
Lapisan pertama adalah sejarah: ketika minyak pertama kali ditemukan di bumi Indonesia.
Lapisan kedua adalah realitas hari ini: bagaimana lapangan-lapangan tua tetap dijaga agar mampu menghasilkan energi.
Dan lapisan ketiga adalah masa depan: bagaimana operasi migas dapat meninggalkan warisan sosial dan lingkungan yang lebih luas bagi masyarakat.
Di Telaga Tunggal, sebuah sumur tua menjadi saksi bahwa industri minyak Indonesia memiliki sejarah lebih dari satu abad.
Di Pangkalan Susu, sumur-sumur tua masih dijaga dengan well intervention, perawatan dan pengeboran baru.
Di Rantau, lapangan mature menghadapi banjir, kepasiran dan tantangan produksi dengan inovasi.
Sementara masyarakat di sekitar wilayah operasi didorong untuk tumbuh melalui mangrove, ketahanan pangan, energi surya dan pemberdayaan difabel.
Barangkali inilah wajah lain industri hulu migas yang tidak selalu terlihat dari angka lifting.
Minyaknya mungkin berasal dari sumur-sumur tua. Tetapi energi untuk menjaga masa depan tidak boleh ikut menua.

