Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com- Ada orang-orang yang hadir dalam perjalanan hidup dan profesi kita, lalu meninggalkan kesan yang begitu kuat. Bukan semata karena jabatan yang pernah disandangnya, tetapi karena cara dia memperlakukan orang lain.
Bagi saya, almarhum Rida Mulyana adalah salah satunya.
Perkenalan saya dengan Kang Rida—begitu saya biasa menyapanya—terjadi sekitar tahun 2002. Saat itu saya masih menjadi reporter yang mengikuti denyut sektor energi. Kang Rida menjabat sebagai Kepala Tata Usaha Lemigas, sementara Evita Legowo menjadi Kepala Pusat Lemigas.
Saya masih mengingat sapaan pertamanya.
“Kang Godang ya? Salam kenal.”
Sapaan itu disampaikan dengan dialek Sunda yang kental. Sederhana, hangat, dan sama sekali tidak berjarak.
Kesan pertama saya tentang Kang Rida pun langsung terbentuk. Penampilannya santai. Tidak terkesan formal, apalagi berjarak, meski saat itu ia sudah menduduki jabatan penting.
Dari Lemigas, karier Kang Rida kemudian melesat. Ia menapaki berbagai posisi strategis hingga dipercaya menjadi salah satu pimpinan tinggi di Kementerian ESDM, termasuk sebagai Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) serta Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM.
Namun ada satu hal yang menurut saya menarik: jabatan tidak pernah mengubah Kang Rida.
Ia tetap rendah hati.
Tetap santai.
Dan yang paling mudah dikenang, murah senyum.
Bagi kalangan jurnalis sektor energi, Kang Rida adalah narasumber yang menyenangkan. Mudah dihubungi, baik melalui telepon maupun pesan singkat. Dari zaman SMS, BlackBerry Messenger (BBM), hingga WhatsApp, komunikasi dengan Kang Rida selalu terasa mudah.
Wartawan bertanya, ia menjawab.
Tidak dibuat berbelit-belit. Tidak pula membuat jarak karena posisi dan jabatan.
Ada satu pengalaman yang sampai sekarang tidak pernah saya lupakan.
Suatu ketika, saya bertemu Kang Rida dalam sebuah acara. Di sela-sela kegiatan, ia keluar sebentar. Rupanya ia hanya ingin merokok. Ia berdiri santai di samping mobil di area parkir.
Saya yang ketika itu masih menjadi reporter sektor ESDM langsung menghampiri.
Tanpa basa-basi, saya mulai melontarkan pertanyaan.
Satu pertanyaan.
Disusul pertanyaan berikutnya.
Dan Kang Rida meladeninya dengan sigap.
Ia berdiri di samping mobil, rokok mungkin belum selesai diisap, tetapi semua pertanyaan saya dijawab dengan lahap. Tidak terlihat sedikit pun ekspresi terganggu karena saya “menyandera” waktu santainya.
Bagi saya sebagai jurnalis muda saat itu, momen sederhana di parkiran tersebut justru menjadi salah satu kenangan paling berharga tentang sosok Kang Rida.
Ia memahami bahwa wartawan membutuhkan jawaban.
Dan ia tahu bagaimana menjadi pejabat publik sekaligus narasumber yang bersahabat dengan media.
Ada lagi pengalaman lain yang menunjukkan betapa responsifnya Kang Rida.
Suatu ketika, seorang kawan meminta saya menghubungi beliau untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar yang digelar oleh kantor media tempat saya bekerja.
Saya menghubungi Kang Rida hanya melalui BBM.
Saat itu BBM masih menjadi salah satu sarana komunikasi yang populer.
Saya menyampaikan maksud dan mengundangnya menjadi pembicara.
Jawabannya datang cepat.
Kang Rida menyatakan bersedia hadir.
Bagi saya, itu bukan hal sepele. Apalagi kapasitasnya ketika itu sudah sebagai Dirjen EBTKE. Secara formal, tentu ada mekanisme dan tata cara undangan yang harus ditempuh.
Karena itu saya tetap meminta kantor mengirimkan undangan resmi dalam bentuk hardcopy sebagai bentuk penghormatan terhadap kapasitas dan jabatannya.
Tetapi respons personal Kang Rida melalui BBM itu selalu saya ingat.
Cepat.
Sederhana.
Tidak ribet.
Begitulah Kang Rida yang saya kenal.
Perjalanan kariernya memang luar biasa. Dari Kepala Tata Usaha Lemigas, kemudian dipercaya mengemban berbagai jabatan strategis hingga berada di posisi puncak birokrasi Kementerian ESDM.
Tetapi semakin tinggi jabatan yang diraihnya, semakin terasa pula bahwa ia tidak kehilangan dirinya sebagai manusia.
Tetap Kang Rida yang santai.
Tetap Kang Rida yang rendah hati.
Tetap Kang Rida yang mudah tersenyum.
Dan tetap Kang Rida yang membuat wartawan merasa nyaman bertanya.
Kini, sosok itu telah pergi.
Bagi sebagian orang, Rida Mulyana mungkin dikenang melalui jabatan dan rekam jejaknya sebagai pejabat tinggi Kementerian ESDM.
Bagi saya, ia akan selalu dikenang sebagai Kang Rida, seorang sahabat, senior, dan narasumber yang humble, menyenangkan, serta selalu punya waktu untuk menjawab pertanyaan wartawan.
Kenangan tentang seorang pejabat mungkin tertulis dalam dokumen-dokumen negara.
Tetapi kenangan tentang seorang manusia tersimpan di hati orang-orang yang pernah berjumpa dengannya.
Dan Kang Rida meninggalkan kenangan yang baik itu.
Kang Rida, selamat jalan.
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan kesalahanmu, menerima seluruh amal kebaikanmu, melapangkan kuburmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Selamat jalan, sobatku.
Terima kasih pernah menjadi sosok pejabat yang tetap manusiawi, narasumber yang selalu menyenangkan, dan seorang sahabat yang humble.
Insya Allah, senyum dan keramahan Kang Rida akan selalu dikenang.
Al-Fatihah.


