Lenteng Agung, Depok, ruangenergi.com — Bagi sebagian orang, televisi rusak bisa menjadi alasan untuk membeli perangkat baru. Namun bagi Agung, tukang reparasi televisi yang membuka lapak service di kawasan Lenteng Agung, kerusakan televisi justru sering kali merupakan pekerjaan rutin.
Minggu siang itu, 15 September 2026, Agung terlihat sibuk di depan meja kerjanya. Sebuah televisi buatan negeri ginseng, Korea Selatan, tergeletak dengan bagian belakang terbuka.
Tangannya bergerak cepat.
Tidak banyak peralatan yang digunakan. Ada solder, beberapa komponen elektronik, kabel, dan tentu saja satu benda yang menjadi bagian penting dalam pekerjaannya: gulungan timah solder.
Agung terlebih dahulu memeriksa bagian televisi yang mengalami gangguan. Komponen yang rusak dilepas. Komponen pengganti kemudian ditempatkan pada posisinya.
Ujung solder dipanaskan.
Timah solder disentuhkan pada titik sambungan komponen.
Satu demi satu titik sambungan kembali terhubung.
Bagi mata awam, pekerjaan tersebut terlihat sederhana. Tetapi dari gerakan tangan seorang teknisi seperti Agung, terlihat bahwa pekerjaan reparasi elektronik membutuhkan ketelitian. Sedikit saja timah solder terlalu banyak atau sambungan tidak sempurna, televisi bisa kembali bermasalah.
Beberapa saat kemudian, televisi kembali dirakit dan dinyalakan.
Layar menyala.
Kerusakan yang semula membuat televisi tak berfungsi berhasil ditangani.
Namun ada cerita yang jauh lebih panjang di balik segulung kecil timah solder yang digunakan Agung.
Dari lapisan tanah di Bangka
Timah yang berada di atas meja kerja tukang reparasi televisi itu tidak muncul begitu saja.
Jejaknya bisa ditarik jauh ke Kepulauan Bangka Belitung, salah satu wilayah penting pertambangan timah Indonesia.
PT TIMAH Tbk menjalankan kegiatan pertambangan timah secara terintegrasi, mulai dari eksplorasi, penambangan, pengolahan hingga pemasaran. Kegiatan penambangan dilakukan di darat maupun di laut, termasuk di Bangka dan Belitung.
Untuk tambang darat, prosesnya dimulai dari lapisan tanah.
Tanah penutup dikupas dan material yang mengandung bijih timah ditambang. PT TIMAH menjelaskan bahwa penambangan darat dilakukan melalui pengikisan dan pengupasan lapisan tanah, antara lain menggunakan metode pompa semprot atau gravel pump, serta metode borehole mining untuk kondisi tertentu.
Sementara di wilayah laut, penambangan dilakukan menggunakan armada seperti kapal keruk dan kapal isap produksi untuk mengambil material yang mengandung timah dari dasar perairan.
Tetapi material hasil tambang belum langsung menjadi timah yang bisa digunakan untuk membuat solder.
Masih ada perjalanan panjang.
Bijih dicuci, dipisahkan, lalu dilebur
Material hasil penambangan terlebih dahulu masuk ke tahap pengolahan.
Bijih timah dicuci untuk memisahkan timah dari mineral lain yang ikut terbawa dari proses pertambangan. Setelah itu dilakukan proses konsentrasi atau mineral dressing untuk meningkatkan kadar timah dan memisahkan mineral ikutan.
Bijih dengan kadar timah yang telah memenuhi persyaratan kemudian masuk ke tahap peleburan atau smelting.
Di sinilah perjalanan material tambang mulai berubah menjadi logam timah.
PT TIMAH memiliki pusat peleburan di Mentok (Muntok), Bangka, serta di Kundur, Kepulauan Riau. Dalam proses produksinya, logam timah hasil peleburan kemudian dimurnikan untuk memperoleh kualitas yang lebih tinggi dan kandungan pengotor yang lebih rendah.
Hasil akhirnya berupa logam timah dalam bentuk batangan dengan berat sekitar 23–27 kilogram per batang. Produk logam timah PT TIMAH juga memiliki merek yang terdaftar di London Metal Exchange.
Tetapi perjalanan timah belum berhenti.
Karena nilai tambah tidak hanya berada pada logam timah batangan.
Dari logam menjadi solder.
Di sinilah hilirisasi memainkan perannya.
PT TIMAH melalui anak perusahaannya, PT Timah Industri, mengembangkan produk hilir berbahan dasar timah, termasuk tin solder.
PT TIMAH menyebut fasilitas solder tersebut dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah logam timah. Produk solder diproduksi dalam dua lini, yakni lead-free solder dan lead-tin solder, dalam bentuk antara lain kawat solder dan batangan solder. Kapasitas fasilitas solder yang disebut perusahaan mencapai 2.100 ton per tahun.
Dalam perkembangan hilirisasinya, PT Timah Industri juga memproduksi berbagai bentuk tin solder, termasuk tin bar, tin wire dan tin solder powder, yang digunakan antara lain dalam industri elektronik.
Dan salah satu titik akhirnya bisa sangat sederhana.
Bukan di pabrik besar.
Bukan di kapal tambang.
Bukan pula di ruang perdagangan komoditas.
Melainkan di atas meja kecil seorang tukang reparasi televisi.
Timah dari Bangka, kembali bekerja di televisi
Di lapak Agung, gulungan timah solder mungkin hanya terlihat seperti benda kecil yang setiap hari disentuhkan ke ujung solder panas.
Namun jika ditarik ke belakang, benda sederhana itu membawa cerita tentang rantai industri yang panjang.
Dari lapisan tanah dan dasar laut di wilayah tambang, material yang mengandung bijih timah ditambang.
Kemudian dicuci.
Dikonsentrasikan.
Dilebur.
Dimurnikan.
Menjadi logam timah.
Lalu melalui proses hilirisasi, sebagian timah tersebut diolah menjadi produk solder yang dapat digunakan industri elektronik. PT TIMAH sendiri menjelaskan bahwa sebagian logam timah produksinya memang diolah menjadi tin solder dan tin chemical.
Di tangan Agung, produk hilir itu kembali mengambil peran yang sangat praktis.
Ia menjadi jembatan kecil yang menghubungkan komponen-komponen elektronik di dalam televisi.
Satu sambungan berhasil diperbaiki.
Televisi kembali menyala.
Dan dari layar televisi yang kembali memancarkan gambar itu, sulit membayangkan bahwa perjalanan benda kecil yang membuatnya mungkin bekerja tersebut bermula dari aktivitas pertambangan timah ribuan kilometer dari meja reparasi—dari tanah dan laut Kepulauan Bangka Belitung.
Sebuah gulungan kecil timah solder, dengan demikian, bukan sekadar alat kerja tukang reparasi. Ia adalah salah satu ujung dari perjalanan panjang timah Indonesia: dari tambang, menuju smelter, masuk ke industri hilir, dan akhirnya kembali hadir dalam kehidupan sehari-hari.

