PNRE Ubah Sampah Kota Jadi Sumber Energi, Bandung Jadi Proyek Percontohan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Bandung, Jabar, ruangenergi.com-Sampah perkotaan tak lagi sekadar persoalan yang harus dibuang. Di tangan teknologi, sampah justru dapat menjadi sumber daya sekaligus bahan bakar alternatif.

Paradigma inilah yang tengah didorong PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE/PNRE) melalui pengembangan proyek percontohan Decentralized Waste Management (DWM) di Kota Bandung.

Langkah awal proyek tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Kantor Danantara, Jakarta, September 2026. Kolaborasi ini mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan dari pemerintah, sektor energi, riset, hingga pengelolaan lingkungan.

Hadir dalam penandatanganan tersebut Chief Technology Officer Danantara Sigit Puji Santosa, Managing Director Technology Advancement Danantara Dwi Susanto, Managing Director Development Investment PT Danantara Development Management Fund M. Rachmat Kaimuddin, Managing Director Legal & Corporate Affairs PT Danantara Development Management Fund Irawady Azwar, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Dr. M. Fauzan, Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia Hokkop Situngkir, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung Darto A.P.

Dalam konsep awalnya, fasilitas DWM Bandung dirancang mampu mengolah sekitar 300 ton sampah perkotaan atau municipal solid waste (MSW) setiap hari.

Sampah tidak langsung berakhir di tempat pembuangan. Material terlebih dahulu masuk ke rangkaian proses pemilahan dan material recovery, mulai dari bag opening, screening, magnetic separation, ballistic separation, hingga eddy current separation.

Dari proses tersebut, sampah dipisahkan menjadi beberapa kelompok. Material yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipulihkan untuk didaur ulang. Sementara fraksi organik atau fines dipisahkan dari fraksi combustible atau material yang memiliki kandungan energi.

Fraksi combustible inilah yang kemudian menjadi salah satu fokus utama pengembangan proyek.

“Sampah tidak seharusnya hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai. Melalui proyek ini, kita ingin mendorong transformasi dari waste menjadi resource, dan selanjutnya dari waste menjadi value,” kata Norman Ginting, Director Project & Operation Pertamina NRE.

Menurut Norman, material yang masih bernilai dapat dipulihkan, sementara fraksi yang memiliki nilai energi dapat dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif dengan kualitas yang lebih terkontrol.

DWM mengintegrasikan teknologi mechanical sorting, material recovery, dan fuel preparation.

Fraksi combustible yang telah dipisahkan dapat menjalani proses pencacahan, pengeringan, pencampuran, serta pengendalian kualitas. Tujuannya menghasilkan Solid Recovered Fuel (SRF) dengan karakteristik yang lebih konsisten.

SRF selanjutnya berpotensi dimanfaatkan untuk menggantikan sebagian penggunaan bahan bakar fosil. Pemanfaatannya dapat diarahkan antara lain untuk co-firing di pembangkit listrik maupun sebagai bahan bakar alternatif bagi sektor industri.

“Nilai teknologi proyek ini bukan hanya terletak pada mesin pengolah sampah. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun sistem yang mampu mengubah sampah yang sangat heterogen menjadi material dan bahan bakar yang lebih konsisten, terukur, dan memiliki nilai ekonomi,” ujar Norman.

Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi pembeda antara konsep waste-to-value dengan pengelolaan sampah konvensional.

Konsep DWM Bandung juga membuka kemungkinan pemanfaatan sekam sebagai bahan pencampur.

Dalam kajian awal, fraksi combustible dari MSW dapat dikombinasikan dengan sekam untuk menghasilkan blended SRF. Namun, opsi tersebut masih harus melalui verifikasi lebih lanjut.

Kajian akan melihat karakteristik bahan baku, kualitas produk akhir, keberlanjutan rantai pasok, hingga kesesuaiannya dengan kebutuhan calon offtaker.

Artinya, keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi pengolahan sampah. Ada mata rantai lain yang harus dipastikan berjalan secara bersamaan.

Mulai dari kepastian pasokan dan karakteristik sampah, kesiapan lahan dan infrastruktur, ketersediaan bahan pendukung, kualitas SRF, hingga kepastian pihak yang akan menyerap produk akhirnya.

Dalam struktur awal proyek, PNRE direncanakan bertindak sebagai developer sekaligus operator, dengan dukungan pemerintah daerah serta mitra EPC, technology provider, supplier, dan offtaker.

Setelah MoU diteken, para pihak akan melanjutkan proses menuju feasibility study.

Kajian tersebut mencakup karakteristik dan rantai pasok sampah, spesifikasi produk akhir, rantai pasok sekam, pemilihan technology provider, finalisasi konfigurasi teknologi, utilitas, pekerjaan sipil, hingga kebutuhan perizinan.

Bagi PNRE, Bandung bukan sekadar lokasi pembangunan fasilitas pengolahan sampah.

Kota ini diharapkan menjadi laboratorium untuk membuktikan apakah model DWM dapat berjalan secara teknis, komersial, dan lingkungan sebelum diperluas ke wilayah lain.

“Ambisi kita tidak berhenti pada pembangunan satu fasilitas. Yang ingin kita bangun adalah sebuah model,” kata Norman.

Jika pilot project Bandung mampu membuktikan bahwa pengelolaan sampah terintegrasi dapat berjalan secara teknis, ekonomis, dan berkelanjutan, model tersebut dinilai berpotensi direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.

Dengan begitu, persoalan sampah tidak lagi berhenti pada urusan mengurangi timbunan. Sampah dapat masuk ke dalam rantai nilai baru—material dipulihkan, energi diekstraksi, dan pada akhirnya tercipta nilai ekonomi.

“Dengan demikian, persoalan sampah dapat kita transformasikan menjadi bagian dari solusi energi sekaligus ekonomi sirkular,” tutur Norman.

Bagi PNRE, langkah tersebut sekaligus memperkuat agenda pengembangan solusi energi rendah karbon, pengelolaan sampah berkelanjutan, ekonomi sirkular, serta penciptaan nilai tambah dari sumber daya domestik.