Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, ruangenergi.com— Dunia kerja di industri energi terus berubah. Teknologi berkembang cepat, kebutuhan kompetensi makin tinggi, sementara perusahaan dituntut membangun organisasi yang tidak hanya produktif, tetapi juga mampu beradaptasi dan melahirkan inovasi.
Kondisi tersebut mendorong PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) menempatkan Diversity, Equity & Inclusion (DEI) sebagai salah satu bagian penting dalam strategi human capital perusahaan.
Dalam paparan bertajuk “Fostering Diversity, Equity & Inclusion for Excellent Performance at PDSI” yang disampaikan VP Human Capital PDSI Abimanyu Suryadi pada 8 September 2026, keberagaman diposisikan bukan sekadar isu ketenagakerjaan, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun kinerja unggul perusahaan.
Paparan tersebut memperlihatkan bahwa DEI di PDSI berjalan berdampingan dengan pengembangan kompetensi, retensi pekerja, budaya inovasi, digitalisasi, hingga pembangunan kepemimpinan.
Dalam paparan PDSI, Diversity dimaknai sebagai pengakuan, penghormatan, dan penghargaan terhadap perbedaan antarmanusia, termasuk gender, usia, latar belakang pendidikan dan budaya.
Sementara itu, Equity ditekankan pada aspek keadilan dan upaya menghilangkan hambatan yang dapat membatasi partisipasi kelompok yang kurang terwakili. Adapun Inclusion diarahkan pada terciptanya lingkungan kerja di mana setiap individu merasa diterima, dihargai, didukung, dan memiliki ruang untuk berkontribusi.
Bagi PDSI, ketiganya kemudian diterjemahkan ke dalam agenda human capital yang lebih konkret.
Salah satunya adalah target 10 persen perempuan dalam posisi leader dan 10 persen perempuan dalam total employee, disertai agenda peningkatan kapabilitas tenaga kerja serta menjaga tingkat turnover di bawah 5 persen.
Potret tenaga kerja PDSI
Data dalam paparan memperlihatkan komposisi pekerja PDSI terdiri dari 355 laki-laki atau 85,54 persen dan 60 perempuan atau 14,46 persen.
Pada kelompok pimpinan, jumlah women leaders tercatat 21 orang baik pada Juni maupun Juli 2026. Jika dibandingkan dengan total pemimpin, proporsinya berada di sekitar 21 persen pada Juni dan 20,59 persen pada Juli.
Sementara itu, jumlah pemimpin berusia maksimal 42 tahun tercatat 30 orang pada Juni 2026 dan 28 orang pada Juli 2026. Data tersebut menunjukkan adanya kelompok talenta muda yang mulai mengambil bagian dalam struktur kepemimpinan perusahaan.
Dari sisi struktur jabatan, PDSI memiliki 464 posisi struktural, dengan 342 posisi terisi atau 73,71 persen, sementara 122 posisi atau 26,29 persen masih vacant.
Menariknya, strategi DEI PDSI ditempatkan dalam ekosistem human capital yang lebih luas.
Perusahaan juga menjalankan berbagai program pembelajaran dan pengembangan talenta. Salah satunya melalui Indonesia Drilling Training Center (IDTC) yang menyiapkan tenaga kerja dari jenjang roustabout, floorman, derrickman, assistant driller hingga driller dan drill engineer/superintendent.
Metode pelatihannya memadukan 35 persen classroom training, 20 persen praktik di rig IDTC, 40 persen on-the-job training, serta 5 persen task and evaluation.
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana pengembangan manusia diarahkan untuk tetap dekat dengan kebutuhan operasional pengeboran.
Aspek lain yang menonjol adalah budaya inovasi.
PDSI mencatat telah mengimplementasikan lebih dari 300 inisiatif inovasi yang diarahkan pada peningkatan proses, efisiensi biaya, keselamatan operasi, serta pengembangan kompetensi dan kapabilitas pekerja.
Dalam Drilling Innovation Forum (DIF) 2025, PDSI berkolaborasi dengan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Forum tersebut diikuti 58 kelompok, terdiri dari 35 kelompok PC Prove, 17 FT Prove, tiga RT Prove dan tiga I Prove.
Dari 58 kelompok tersebut, 32 kelompok meraih Gold dan 26 kelompok Silver.
Perjalanan inovasi itu kemudian berlanjut ke tahapan seleksi yang lebih tinggi. Paparan menyebut hanya sekitar 11–12 tim terbaik per tahun dari DIF yang melanjutkan ke tahap berikutnya, sementara sekitar lima tim dipilih untuk menjadi representasi PDSI dalam ajang tingkat nasional.
PDSI turut membangun sharing knowledge ecosystem melalui sejumlah forum, seperti Leader Casual Talk, ICTalks, Unconventional Bi-Weekly, QT-PIE, CTRL-X, dan Drillogue.
Masing-masing memiliki fokus berbeda, mulai dari kepemimpinan, teknologi informasi, operasi non-rig, quality and professional experience, tata kelola keuangan hingga pengetahuan operasional pengeboran.
Di sisi digital, PDSI juga mengembangkan D-Library, sebuah repositori digital yang dirancang sebagai pusat pengetahuan dan pembelajaran bidang pengeboran. Sistem tersebut mencakup basis data lessons learned dan best practices, materi pembelajaran terintegrasi serta konten yang terstruktur dan dapat dicari.
Pengembangan talenta juga dilakukan melalui program PDSI’s Coaching & Mentoring Program.
Dalam paparan tersebut, program ini mencatat completion session rate 90 persen, action plan completion rate 80 persen, dan satisfaction score 95 persen.
Angka tersebut menjadi bagian dari pendekatan PDSI untuk memperkuat proses pengembangan individu melalui pembinaan dan pendampingan.
Pada akhirnya, agenda human capital PDSI diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan operasi domestik.
Konsep “GLOBE of PDSI” yang ditampilkan dalam paparan menggambarkan ambisi perusahaan membangun talenta Indonesia yang memiliki kompetensi untuk berkiprah di tingkat global.
Konsep itu menggabungkan empat gagasan: Indonesia sebagai fondasi, sphere sebagai horizon tanpa batas, blue sebagai simbol profesionalisme dan kepercayaan, serta green sebagai energi dan pertumbuhan berkelanjutan.
Dengan demikian, keberagaman dan inklusi di PDSI tidak berhenti pada komposisi tenaga kerja. Ia dirangkai dengan pengembangan kompetensi, budaya belajar, inovasi, kepemimpinan, digitalisasi dan keberlanjutan.
Di industri pengeboran yang sarat dengan tantangan teknis dan operasional, strategi tersebut menunjukkan satu pesan penting: mesin, rig, teknologi dan modal hanya akan bekerja maksimal ketika ditopang manusia yang memiliki kompetensi, ruang untuk berkembang, dan kesempatan untuk menyumbangkan gagasannya.
Bagi PDSI, membangun manusia berarti sekaligus membangun kapasitas perusahaan untuk menghadapi tantangan energi yang terus berubah.

