Harta Karun Gas di Jambi: BBR Siap Pasok 200 MMSCFD, Tetap Lebih Murah dari LNG

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Pasokan gas domestik berpeluang bertambah besar. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) bersama PT Jindi South Jambi B telah merampungkan pembahasan rencana pengembangan Lapangan BBR, yang meliputi Bugil, Bungkal, dan Rayun. Lapangan ini ditargetkan menghasilkan gas hingga 200 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) pada puncak produksi.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, setelah pembahasan bersama manajemen Jindi South Jambi B tuntas, rencana tersebut segera diajukan dalam bentuk Plan of Development (PoD) kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Dalam rencana itu, SKK Migas dan kontraktor akan mengebor 16 sumur pengembangan dan melakukan lima kegiatan re-entry pada sumur eksplorasi. Selain itu, akan dibangun jaringan pipa serta fasilitas pemisahan karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S).

“Pengembangan Lapangan BBR berupa pemboran 16 sumur pengembangan, lima re-entry sumur eksplorasi, pembangunan pipa dan pemisahan CO2 dengan kandungan 51,2% CO2 dan H2S yang cukup tinggi,” jelas Djoko seperti diceritakan kepada ruangenergi.com

Djoko menjelaskan juga, tantangan utama proyek ini ada pada karakteristik gasnya. Kandungan CO2 mencapai sekitar 51,2%, sementara H2S juga tergolong tinggi sehingga membutuhkan fasilitas pengolahan khusus.

Pemisahan kedua senyawa itu membutuhkan investasi besar. Meski begitu, Djoko menegaskan lapangan ini tetap menjanjikan tambahan pasokan gas dalam negeri yang signifikan. “Lapangan ini akan memproduksi gas pada peak-nya sebesar 200 MMSCFD,” katanya.

Besarnya biaya pengolahan membuat harga gas dari Lapangan BBR pada tahap awal diperkirakan relatif tinggi. Namun, harga tersebut masih lebih kompetitif dibandingkan gas yang bersumber dari LNG.

“Dikarenakan biaya yang cukup besar untuk memisahkan CO2 dan H2S tersebut, maka pada tahap awal harga gas cukup tinggi, namun masih lebih murah dibanding gas yang berasal dari LNG,” ujar Djoko.

Seiring waktu, harga gas BBR berpotensi turun. Setelah melewati 2040, harganya dapat disesuaikan hingga setara dengan harga gas bumi tertentu (HGBT).

“Kemudian setelah tahun 2040, harga gas dapat disesuaikan hingga mencapai harga yang sama seperti harga HGBT,” tutup Djoko.

Jika PoD disetujui Menteri ESDM, Lapangan BBR akan menjadi salah satu andalan tambahan gas domestik di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat.