Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Indonesia menghadapi pekerjaan rumah besar di sektor energi. Ketika kebutuhan bahan bakar terus meningkat, produksi minyak nasional justru masih bergerak di kisaran 500 ribuan barel per hari.
Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Bayu Kusuma Dewanto mengatakan kondisi tersebut membuat investasi besar-besaran di sektor hulu migas menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Bayu mengungkapkan, bauran energi Indonesia hingga kini masih sangat bergantung pada energi fosil, dengan porsinya mencapai sekitar 85%–86%.
Di sisi lain, kebutuhan bahan bakar nasional telah mencapai sekitar 1,5–1,6 juta barel per hari. Sementara itu, produksi minyak mentah dalam negeri baru sekitar 512 ribu barel per hari.
“Ketergantungan yang begitu besar terhadap energi ini yang seharusnya menjadi concern kita bersama,” ujar Bayu dalam media briefing menuju Forum Ekonomi Keuangan dan Komersial Hulu Migas (FOREX Hulu Migas) 2026, Selasa (6/10/2026).
Menurut dia, kilang nasional saat ini bekerja mendekati kapasitas maksimal, sekitar 800 ribu–900 ribu barel per hari. Namun, pasokan minyak mentah domestik belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
Akibatnya, terdapat gap sekitar 400 ribu barel per hari yang harus ditutup melalui impor.
Situasi ini, kata Bayu, menjadi salah satu sumber kerentanan ketahanan energi nasional.
Bayu menjelaskan, persoalan tersebut bukan fenomena baru. Kebutuhan energi minyak Indonesia telah melampaui kemampuan produksi sejak 2003.
“Kalau di minyak kebutuhan dan produksi itu sudah nge-cross. Artinya kebutuhan energi itu sudah lebih tinggi dari produksi kita sejak tahun 2003,” katanya.
Untuk gas, kondisi Indonesia masih relatif lebih baik. Namun, menurut Bayu, jika tren permintaan terus meningkat, sektor gas juga pada waktunya akan menghadapi persoalan serupa.
Karena itu, Indonesia membutuhkan terobosan untuk meningkatkan produksi, terutama melalui investasi hulu migas.
“Investasi yang besar-besaran di hulu migas kita,” tegasnya.
Bayu menyebut investasi hulu migas nasional pada 2025 berada di kisaran US$15 miliar atau sekitar Rp270 triliun.
Khusus PHE, investasi hulu migas yang dibelanjakan pada 2025 mencapai hampir US$5 miliar.
Nilai investasi tersebut diproyeksikan meningkat signifikan pada tahun-tahun mendatang.
Di PHE sendiri, alokasi investasi disebut mencapai sekitar 1,5 kali lipat dibandingkan realisasi 2025.
“Angka lima belas billion US Dollar 2025 mungkin akan meningkat sekitar satu setengah kali di tahun ini dan satu setengah kali lipat lagi di tahun-tahun depan,” ujar Bayu.
Besarnya investasi yang dibutuhkan sekaligus menunjukkan bahwa target peningkatan produksi nasional bukan pekerjaan sederhana.
Apalagi pemerintah menargetkan produksi hulu migas nasional mencapai sekitar 2,6 juta BOEPD pada 2029–2030.
Bayu menilai target tersebut sangat ambisius.
“Angka dua koma enam juta barel setara minyak ini cukup ambisius, cukup agresif, cukup challenging. Itu hampir mustahil kita capai tanpa kerja sama yang bagus antara stakeholder-stakeholder yang ada di bisnis hulu migas,” katanya.
Masela Jadi Gambaran Besarnya Investasi
Bayu mencontohkan Proyek Abadi LNG Blok Masela sebagai salah satu proyek raksasa yang membutuhkan komitmen investasi sangat besar.
Setelah melalui proses panjang, proyek tersebut akhirnya memasuki fase penting menuju pembangunan.
Menurut Bayu, estimasi investasi Proyek Masela sebelum Final Investment Decision (FID) mencapai sekitar US$20–21 miliar.
“Seperti Masela ini sudah bertahun-tahun dan baru tahun ini bisa groundbreaking. Nilainya luar biasa besar,” katanya.
Bagi Bayu, proyek seperti Masela menunjukkan bahwa peningkatan produksi nasional membutuhkan proyek-proyek berkapital besar dengan kepastian investasi dan komersialisasi yang kuat.
PHE sendiri tidak hanya mengandalkan lapangan minyak konvensional untuk mengejar peningkatan produksi.
Di Blok Rokan, PHE tengah mendorong dua terobosan besar, yakni Minyak Non-Konvensional (MNK) dan Chemical Oil Enhanced Recovery (COOR).
Bayu menjelaskan MNK menggunakan pendekatan seperti hydraulic fracturing atau fracking yang selama ini dikenal dalam pengembangan shale oil dan shale gas di Amerika Serikat.
“Yang mau kita replicate di Indonesia. Jadi kita tidak lagi ngebor sampai ke cekungan minyak konvensional, tapi jauh lebih dalam lagi,” ujarnya.
Sementara COOR dikembangkan untuk meningkatkan perolehan minyak dengan menggunakan bahan kimia.
Metode tersebut menjadi alternatif dari teknik peningkatan produksi yang selama ini digunakan, seperti steam flood maupun water flood.
Menurut Bayu, terobosan tersebut diperlukan karena produksi minyak konvensional nasional cenderung stagnan di kisaran 510–512 ribu barel per hari, sementara kebutuhan terus meningkat.
Namun, Bayu menegaskan bahwa investasi besar saja belum cukup.
Dibutuhkan keselarasan antara pemerintah, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan.
Termasuk di dalamnya adalah kepastian hukum, kepastian fiskal, komersialisasi, serta tata kelola hulu migas.
Inilah yang menjadi salah satu alasan PHE kembali menggelar FORE Hulu Migas 2026 setelah forum tersebut vakum selama sekitar lima tahun.
Forum yang dijadwalkan berlangsung pada 28–29 Oktober 2026 tersebut mengangkat tema “Dari Kebijakan ke Produksi”, dengan fokus pada harmonisasi fiskal, penguatan komersialisasi dan tata kelola terintegrasi.
Bayu mengatakan, forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk menyelaraskan kepentingan seluruh pihak agar investasi yang digelontorkan benar-benar bermuara pada peningkatan produksi.
“Investasi yang besar tadi tentu saja tidak akan menghasilkan angka yang kita inginkan tanpa kerja sama yang bagus antara stakeholder-stakeholder dalam bisnis migas,” katanya.
Bagi Indonesia, pesan Bayu sederhana tetapi strategis: mengejar 2,6 juta BOEPD bukan hanya soal mengebor lebih banyak sumur.
Ada investasi besar yang harus masuk, teknologi yang harus diterapkan, proyek raksasa yang harus dipercepat, serta kebijakan dan tata kelola yang harus memberikan kepastian.
Sebab, tanpa lompatan produksi dari hulu, ketergantungan terhadap impor energi akan tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi ketahanan energi nasional.


