Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – PT Pertamina (Persero) mulai memperkuat strategi untuk meningkatkan produksi minyak dan gas bumi (migas) pada 2027. Tak sekadar mengejar tambahan produksi, perusahaan energi pelat merah ini juga membidik efisiensi biaya, percepatan investasi, pemanfaatan teknologi, serta penguatan kolaborasi untuk menjaga daya saing bisnis hulu migas.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, mengungkapkan hal tersebut melalui unggahan di akun media sosial pribadinya yang dilihat oleh ruangenergi.com
Oki bercerita, pada Jumat (9/10/2026), Pertamina Group berdiskusi bersama SKK Migas mengenai strategi peningkatan lifting migas untuk mendukung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027.
Dalam diskusi tersebut, Oki menyoroti empat fokus utama yang perlu dipercepat agar target peningkatan produksi migas dapat tercapai.
Pertama, mengembalikan produktivitas lapangan-lapangan mature.
Menurut Oki, lapangan-lapangan yang telah lama berproduksi masih menyimpan potensi besar untuk mendongkrak produksi nasional. Lapangan Rokan, Jambi Merang, dan berbagai lapangan Pertamina lainnya dapat dioptimalkan melalui pengelolaan reservoir, pengeboran sumur baru (drilling), workover, well intervention, hingga penerapan teknologi enhanced oil recovery (EOR).
Strategi ini menjadi penting karena peningkatan produksi tidak selalu harus bergantung pada penemuan lapangan baru. Optimalisasi lapangan eksisting juga dapat menjadi sumber tambahan produksi apabila didukung teknologi, investasi, dan eksekusi yang tepat.
Kedua, mempercepat investasi hingga menghasilkan produksi perdana.
Oki menekankan bahwa waktu menjadi faktor krusial dalam industri migas. Setiap keterlambatan proyek berpotensi menunda produksi dan membuat peluang penambahan lifting hilang.
Karena itu, proses bisnis, pengadaan barang dan jasa, perizinan, serta koordinasi antarpihak perlu disederhanakan dan dipercepat. Tujuannya, investasi yang telah direncanakan dapat segera diterjemahkan menjadi produksi nyata atau first oil.
Bagi Pertamina, kecepatan mengeksekusi proyek akan menjadi salah satu penentu keberhasilan mengejar target produksi pada 2027.
Ketiga, menjadikan teknologi sebagai mesin pertumbuhan.
Oki mengajak industri menjawab satu pertanyaan mendasar: di mana sisa minyak yang masih dapat diproduksikan, dan bagaimana cara paling efisien untuk mengambilnya?
Jawabannya, menurut dia, tidak bisa disamaratakan karena setiap reservoir memiliki karakteristik berbeda. Sejumlah pendekatan yang dapat dipertimbangkan meliputi chemical EOR, steamflood, multistage fracturing, pengembangan sumber daya nonkonvensional, Coil Tubing Drilling (CTD), hingga Extended Reach Reservoir Access (ERRA).
Pemilihan teknologi yang tepat diharapkan membuka peluang pemulihan cadangan yang sebelumnya sulit diproduksikan, sekaligus meningkatkan efektivitas operasi di lapangan.
Keempat, memperkuat orkestrasi dan kolaborasi.
Oki menilai Pertamina perlu semakin terbuka terhadap penerapan Knowledge Sharing and Operational Technology (KSOT) serta memperkuat kerja sama dengan perusahaan jasa migas, perguruan tinggi, dan mitra strategis sejak tahap desain.
Kolaborasi sejak awal diharapkan dapat mempercepat penerapan inovasi, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi hambatan dalam pelaksanaan proyek. Dengan demikian, teknologi dan keahlian berbagai pihak dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk meningkatkan kinerja operasi.
Bukan hanya soal menambah barel,jelas Oki.
Di tengah ambisi meningkatkan lifting, Oki mengingatkan bahwa volume produksi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Tambahan barel harus diikuti biaya produksi per barel yang semakin kompetitif, keselamatan kerja yang semakin baik, serta arus kas yang semakin kuat.
Dengan kata lain, peningkatan produksi harus memberikan manfaat ekonomi yang nyata, bukan sekadar mengejar angka volume tanpa memperhitungkan efisiensi dan keberlanjutan bisnis.
Oki berharap 2027 menjadi momentum ketika setiap lapangan, proyek, dan keputusan investasi memberikan kontribusi nyata bagi perusahaan.
Ia juga menyampaikan keyakinannya terhadap kemampuan para perwira Pertamina yang bekerja dari Sumatra hingga Papua, termasuk di fasilitas lepas pantai (offshore) dan lapangan-lapangan mature yang terus diupayakan peningkatan produktivitasnya.
Bagi Pertamina, tantangan 2027 bukan semata-mata memproduksikan lebih banyak minyak dan gas. Lebih dari itu, perusahaan dituntut membangun bisnis hulu migas yang lebih kuat, kompetitif, dan tangguh dalam menghadapi dinamika industri energi.
Strategi tersebut sekaligus menegaskan pentingnya sinergi Pertamina Group dan SKK Migas dalam mendorong peningkatan lifting migas nasional untuk menopang kebutuhan energi dan penerimaan negara melalui APBN 2027.


