Inovasi PHR Hasilkan Nilai Rp3,73 Triliun, Otomasi hingga Efisiensi Pengeboran Jadi Andalan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Inovasi bukan sekadar gagasan di atas kertas. Bagi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), inovasi yang lahir dari tangan para pekerjanya telah menghasilkan nilai tambah bisnis mencapai Rp3,73 triliun.

Capaian tersebut dibukukan melalui berbagai program inovasi dan continuous improvement yang dipamerkan dalam ajang Continuous Improvement & Innovation Forum (CIIF) 2026, pada 28–30 September 2026.

Mengusung tema “Beyond Barrels: Innovating for Safety, Sustainability, and Operational Excellence”, forum ini menjadi wadah bagi insan PHR untuk menghadirkan solusi nyata dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, keselamatan kerja, dan keberlanjutan operasi hulu minyak dan gas bumi (migas).

Nilai tambah Rp3,73 triliun tersebut berasal dari tiga komponen utama. Kontribusi terbesar berasal dari revenue growth sebesar Rp2,28 triliun, disusul cost avoidance Rp1,07 triliun dan cost saving Rp383,35 miliar.

Angka ini memperlihatkan bahwa inovasi tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki proses kerja, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi yang terukur bagi perusahaan.

Perjalanan menuju CIIF 2026 dimulai dari ratusan gagasan yang dikembangkan para pekerja PHR. Tercatat sebanyak 822 idea submission masuk dalam proses penjaringan inovasi.

Dari jumlah tersebut, 541 gugus mengikuti tahap seleksi makalah (paper selection). Sebanyak 109 gugus kemudian terpilih untuk tampil dalam forum perusahaan, melibatkan 679 peserta.

Melalui proses berjenjang ini, PHR mendorong lahirnya inovasi yang tidak berhenti pada ide, tetapi dikembangkan menjadi solusi yang dapat diterapkan dalam kegiatan operasional dan bisnis.

Direktur Utama PHR Muhamad Arifin mengatakan, inovasi menjadi salah satu kunci bagi perusahaan untuk menghadapi tantangan industri energi yang semakin kompleks.

“Dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari dinamika geopolitik, krisis iklim, hingga tekanan ekonomi. Di tengah kondisi tersebut, Pertamina memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan energy trilemma di Indonesia, yang mencakup energy security, energy equity, dan energy sustainability. Karena itu, salah satu kunci bagi Pertamina untuk terus tumbuh, maju, dan unggul adalah dengan terus mendorong inovasi,” jelas Arifin.

Menurutnya, konsistensi menjalankan inovasi dan perbaikan berkelanjutan telah memberikan kontribusi terhadap berbagai capaian positif PHR, baik dalam kinerja operasi maupun pengelolaan perusahaan.

Salah satu kekuatan inovasi PHR adalah kemampuannya menjawab persoalan nyata di lapangan.

Di Zona Rokan, misalnya, penerapan Robotic Process Automation (RPA) pada proses penyiapan material Well Service Workover (WSWO) Sumatera Heavy Oil (SHO) membantu meningkatkan kesiapan material untuk mendukung kelancaran operasi.

Melalui otomatisasi, pekerjaan manual dapat dikurangi. Proses penyiapan material pun menjadi lebih cepat, akurat, dan tepat waktu.

Sementara itu, di Struktur Benuang, Pertamina EP Zona 4 menerapkan metode batch drilling untuk meningkatkan efisiensi pengeboran sumur darat.

Metode ini mengoptimalkan pelaksanaan pekerjaan pengeboran secara berkelompok, mengurangi waktu tidak produktif, serta mempercepat penyelesaian pekerjaan. Dampaknya, pemanfaatan sumber daya pengeboran dapat dilakukan secara lebih optimal.

Dua contoh tersebut menunjukkan bagaimana perbaikan proses kerja dapat memberikan manfaat operasional, mulai dari meningkatkan kesiapan material hingga mengefisienkan aktivitas pengeboran.

Bagi perusahaan hulu migas, efisiensi waktu dan sumber daya menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas sekaligus mengoptimalkan biaya operasi.

Selain menampilkan inovasi teknis, CIIF 2026 juga menjadi momentum bagi PHR untuk memperkuat budaya mutu dan pembelajaran di lingkungan kerja.

Penguatan tersebut dilakukan melalui kampanye empat pilar Quality Management di lingkungan Regional 1–Sumatra. PHR juga melakukan soft launching Community of Practice (CoP) Quality Management – QUICK (Quality Upstream Improvement, Collaboration & Knowledge).

QUICK dirancang sebagai wadah kolaborasi, berbagi pengetahuan, dan pengembangan praktik perbaikan berkelanjutan di lingkungan perusahaan.

Dalam rangkaian forum tersebut, PHR turut menghadirkan diskusi bertema “Beyond Compliance, Beyond Barrels: Building a Learning Organization for Quality, Innovation, and Operational Excellence”.

Diskusi menghadirkan Dr. Ir. Imam Supriyadi, M.M., dosen Program Studi Ketahanan Energi, Fakultas Manajemen Pertahanan, Universitas Pertahanan RI, serta Prof. Dr. Ir. Jann Hidajat Tjakraatmadja, M.Eng., Guru Besar SBM ITB.

Pembahasan menitikberatkan pada pentingnya membangun organisasi pembelajar yang menjadikan mutu, inovasi, dan keunggulan operasional sebagai bagian dari praktik kerja sehari-hari.

Komitmen terhadap inovasi juga tercermin dari kiprah gugus-gugus PHR di berbagai ajang inovasi dan mutu internasional.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah inovasi dari Regional 1–Sumatra memperoleh apresiasi di ajang Seoul International Invention Fair (SIIF), International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx), serta International Quality & Productivity Convention (IQPC).

Capaian tersebut menjadi pengakuan atas kemampuan pekerja PHR dalam mengembangkan solusi yang berangkat dari tantangan operasional dan berpotensi memberikan manfaat bagi perusahaan.

Ke depan, PHR mendorong agar inovasi yang dihasilkan melalui CIIF tidak berhenti sebagai materi presentasi atau kompetisi. Inovasi diharapkan terus dikembangkan, diimplementasikan, dan direplikasi di berbagai wilayah operasi sesuai kebutuhan dan potensi manfaatnya.

Melalui pendekatan tersebut, PHR berupaya menjadikan inovasi sebagai bagian dari budaya kerja untuk memperkuat produktivitas, efisiensi, keselamatan, dan keberlanjutan bisnis hulu migas.

Bagi PHR, semangat Beyond Barrels menegaskan bahwa keberhasilan operasi tidak hanya diukur dari produksi minyak dan gas, tetapi juga dari kemampuan menciptakan nilai tambah melalui cara kerja yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan.