Hilirisasi Nikel hingga Tembaga, MIND ID Bidik Nilai Ekonomi Lebih Besar di Dalam Negeri

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, terus memperkuat hilirisasi dan industrialisasi sektor pertambangan untuk memastikan kekayaan sumber daya alam (SDA) memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi Indonesia.

Strategi ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, sekaligus memperbesar nilai tambah di dalam negeri melalui pengembangan industri pengolahan, penciptaan lapangan kerja, dan penguasaan teknologi.

Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menegaskan, keberhasilan hilirisasi membutuhkan dukungan kebijakan yang kuat serta sinergi seluruh pemangku kepentingan.

“Dengan dukungan kebijakan dari seluruh pemangku kepentingan, MIND ID berkomitmen terus memperkuat kontribusi bagi negara melalui pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang semakin terintegrasi, penguatan hilirisasi, dan pengembangan industri bernilai tambah,” ujar Maroef di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Menurutnya, selama bertahun-tahun, ekspor komoditas seperti nikel, bauksit, tembaga, timah, emas, dan batu bara telah menjadi sumber penerimaan negara. Namun, sebagian potensi nilai tambah, penciptaan lapangan kerja industri, dan penguasaan teknologi masih berkembang di luar negeri.

Hilirisasi menjadi langkah strategis untuk mengubah pola tersebut. Dengan mengolah mineral di dalam negeri, Indonesia berpeluang memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari setiap komoditas yang dihasilkan.

MIND ID menjalankan mandat negara untuk mengoptimalkan pengelolaan cadangan mineral dan batu bara secara berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan ekosistem industri yang terintegrasi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Salah satu contohnya adalah pengembangan ekosistem bauksit, alumina, dan aluminium di Kalimantan Barat. Pengembangan ini ditujukan untuk memperkuat pasokan bahan baku bagi industri manufaktur nasional.

Di Gresik, fasilitas pengolahan tembaga dan logam mulia dikembangkan untuk mendukung kebutuhan berbagai sektor, mulai dari industri kabel, elektronik, dan energi hingga pertahanan.

Sementara itu, pengembangan rantai pasok baterai kendaraan listrik di Maluku dan Karawang menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam ekosistem industri kendaraan listrik global.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan. Lebih jauh, strategi ini bertujuan membangun rantai industri yang saling terhubung sehingga manfaat ekonomi dapat dinikmati di dalam negeri.

Besarnya potensi hilirisasi terlihat dari pengganda nilai tambah sejumlah komoditas mineral. Pada bauksit, pengolahan menjadi alumina disebut memiliki pengganda nilai tambah hingga 10 kali lipat. Angka tersebut meningkat menjadi 80 kali lipat untuk aluminium dan 90 kali lipat untuk kawat aluminium.

Potensi serupa juga terlihat pada nikel. Produk nickel pig iron (NPI) dan feronikel memiliki pengganda nilai tambah hingga 10 kali lipat, sedangkan baja nirkarat mencapai 19 kali lipat. Untuk baterai kendaraan listrik, pengganda nilai tambahnya disebut dapat mencapai 45 kali lipat.

Pada komoditas tembaga, pengganda nilai tambah mencapai 9,5 kali lipat untuk konsentrat tembaga, 10 kali lipat untuk katoda tembaga, dan 25 kali lipat untuk kawat tembaga.

Adapun pada emas, pengganda nilai tambah mencapai sembilan kali lipat untuk lumpur anoda dan 10 kali lipat untuk emas batangan.

Sektor timah juga menyimpan peluang. Pengganda nilai tambahnya mencapai 2,3 kali lipat untuk konsentrat timah, 5,7 kali lipat untuk timah ingot, serta enam kali lipat untuk solder dan bahan kimia berbasis timah.

Angka-angka tersebut menggambarkan potensi ekonomi yang dapat dikejar melalui pengembangan produk turunan mineral. Namun, realisasi manfaatnya tetap bergantung pada investasi, efisiensi produksi, penguasaan teknologi, dan tersedianya pasar bagi produk hasil pengolahan.

Pengembangan industri pertambangan juga terhubung dengan agenda investasi strategis lintas sektor yang melibatkan Danantara.

Program tersebut mencakup 26 proyek strategis dengan total nilai investasi sekitar Rp225 triliun. Proyek-proyek itu diproyeksikan mampu menyerap 37.833 tenaga kerja.

Di sisi lain, MIND ID mengembangkan peta jalan industri pertambangan yang mencakup pembangunan fasilitas alumina, pemurnian tembaga dan logam mulia, produksi sel baterai, proyek pengolahan nikel dengan teknologi high-pressure acid leach (HPAL), smelter aluminium, hingga pengolahan batu bara menjadi metanol dan dimetil eter (DME).

Peta jalan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat struktur industri nasional, memperluas kapasitas pengolahan dalam negeri, dan meningkatkan daya saing produk Indonesia.

Hilirisasi membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga produsen bahan antara dan produk akhir yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Meski demikian, keberhasilan strategi ini tidak cukup diukur dari banyaknya smelter atau besarnya investasi yang masuk. Kualitas lapangan kerja, keterlibatan industri lokal, transfer teknologi, efisiensi energi, serta daya saing produk juga menjadi faktor penting.

Dukungan kebijakan yang konsisten dan koordinasi lintas sektor dibutuhkan agar pembangunan industri berjalan berkelanjutan.

Bagi MIND ID, penguatan hilirisasi menjadi bagian dari upaya memastikan kekayaan mineral dan batu bara tidak hanya menghasilkan penerimaan dari penjualan komoditas, tetapi juga membangun fondasi industri nasional yang lebih kuat.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan hilirisasi adalah seberapa besar nilai ekonomi, kesempatan kerja, dan kemampuan teknologi yang benar-benar dapat dipertahankan Indonesia dari kekayaan alamnya sendiri.