Rembang, ruangenergi.com – Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Hokkop Situngkir mengapreasiasi penerimaan biomassa di PLTU Rembang dan PLTU Tanjung Awar-awar Tuban. Hal itu disampaikannya saat melaksanakan kunjungan ke dua PLTU tersebut pekan lalu. Menurutnya, penerimaan di dua PLTU tersebut sangat mendukung pelaksanaan program cofiring biomassa di PLTU PLN.
Dalam kunjungan tersebut, Hokkop diterima oleh Senior Manager PLN Nusantara Power UP Rembang Jayadi beserta jajaran dan Senior Manager PLN Nusantara Power UP Tanjung Awar-awar Tri Wahyudi dan jajarannya. Dalam diskusi hangat antar pimpinan tersebut, salah satu hal yang dibahas adalah penerimaan biomassa di PLTU Rembang dan PLTU Tanjung Awar-awar.
Saat diskusi di PLTU Rembang, Hokkop mengatakan penerimaan biomassa di PLTU tersebut selalu naik dari tahun ke tahun. Di 2023, sebut Hokkop, penerimaan biomassa di PLTU Rembang tercatat sekitar 76 ribu ton. Angka tersebut naik signifikan pada 2024 yakni sebesar 118 ribuan ton. Sedangkan pada tahun lalu, penerimaan biomassa di PLTU Rembang hampir sebesar 185 ribu ton.
“PLTU Rembang menjadi salah satu PLTU dengan penerimaan terbanyak di tahun 2025. Saya sangat senang dengan penerimaan dan inovasi yang dilakukan,” ujar Hokkop
Ia menerangkan, PLTU Rembang memiliki inovasi yang patut ditiru dan diterapkan di semua PLTU. Menurutnya, di PLTU Rembang terdapat dua zona dan dua akses untuk menerima dan menyimpan biomassa. Dengan sistem ini, ketika zona pertama telah penuh, penerimaan biomassa dapat dialihkan ke zona kedua. Pengaturan tersebut memungkinkan proses penerimaan dan penyimpanan biomassa tetap berjalan tanpa mengganggu aktivitas di zona lainnya.
Dengan demikian, ucap Hokkop, proses blending biomassa dan batu bara bisa lebih optimal. Selain itu, karena terdapat dua pintu akses, pembongkaran pun lebih lancar, memudahkan penataan, sehingga kondisi kerja lebih aman.
“Terdapat dua akses masuk yakni pintu selatan dan utara dengan kapasitas masing-masing bisa menampung sekitar 13 ribu ton biomassa. Cofiring di PLTU Rembang saat ini sekitar 5 persen hingga 10 persen,” lanjut Hokkop.
Pada kesempatan tersebut, Hokkop bersama jajaran pimpinan unit PLTU Rembang juga melakukan pengecekan langsung di lapangan. Mulai dari area stockpile hingga ke area jetty PLTU Rembang. Hokkop berharap, penerimaan biomassa di PLTU Rembang bisa lebih maksimal sehingga bisa mencapai target yang sudah ditetapkan di 2026 ini.
“Saya sangat mengapreasisi pelaksanaan cofiring biomassa di PLTU Rembang. Target cofiring dan MWh Green PLTU Rembang selalu tercapai. Saya berharap, target cofiring bisa tercapai sehingga mendukung program pengurangan emisi,” sambung Hokkop.
Hal yang sama juga dikatakan Hokkop saat berkunjung ke PLTU Tanjung Awar-awar, Tuban. Kepada Senior Manager Nusantara Power UP Tanjung Awar-awar, Tri Wahyudi, Hokkop mengapresiasi digitalisasi di PLTU tersebut. Menurutnya, monitoring cofiring yang sudah dilakukan secara digital akan sangat membantu dalam kesuksesan program pengurangan emisi karbon tersebut.


