Akselerasi Teknologi Baterai Masa Depan: IBC dan Avesta Holding Sepakati Kerja Sama Strategis Solid-State Battery

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Brussels, Belgia, ruangenergi.com – PT Industri Baterai Indonesia (Indonesia Battery Corporation – IBC) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding – MoU) strategis dengan perusahaan inovator teknologi baterai asal Belgia, Avesta Holding NV (Avesta), dalam rangkaian acara Indonesia-EU Business Forum 2026 di Brussels, Belgia.

Penandatanganan kerja sama komprehensif terkait pengembangan, lokalisasi, dan komersialisasi teknologi Solid-State Battery (SSB) serta Battery Energy Storage System (BESS) ini dilakukan oleh Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif dan Chairman sekaligus Founder Avesta Holding Prof. Dr. Eng. Noshin Omar dengan disaksikan langsung oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi RI sekaligus CEO BPI Danantara Rosan P. Roeslani.

“Kemitraan ini menandai langkah proaktif Indonesia dalam melakukan diversifikasi akses investasi dan transfer teknologi dari Eropa guna mendorong transformasi industri mineral menuju manufaktur berteknologi tinggi. Hal ini sejalan dengan wacana strategis yang digaungkan Danantara Indonesia yang mendorong BUMN dan aset strategis nasional untuk bertransformasi menjadi Global Champion yang aktif mengamankan investasi berteknologi tinggi dan melakukan penetrasi ke rantai pasok global,” tegas CEO BPI Danantara Rosan P. Roeslani.

Melalui kerangka MoU ini, IBC dan Avesta berkomitmen untuk melakukan joint development guna membawa teknologi SSB milik Avesta yang saat ini berada pada Technology Readiness Level (TRL) 7 menuju fase akhir dan komersial (TRL 9). Kolaborasi ini mengedepankan prinsip kepemilikan bersama atas Hak Kekayaan Intelektual (HAKI/Foreground IP) yang diciptakan selama masa proyek.

“Mengembangkan teknologi SSB dari nol secara mandiri membutuhkan biaya riset yang masif dan waktu yang sangat lama. Kolaborasi dengan Avesta merupakan shortcut (jalan pintas) strategis. Avesta telah mengembangkan selama 15 tahun hingga skala pilot project, sehingga IBC dapat memangkas waktu pengembangan (development time) secara signifikan untuk langsung masuk ke fase demonstrasi lalu komersialisasi TRL 9. Langkah proaktif ini memosisikan Indonesia setara dengan pemain global yang menargetkan produksi skala penuh pada awal dekade 2030-an,” jelas Aditya Farhan arif.

Lebih lanjut Aditya menjelaskan bahwa proyek SSB bersama Avesta ini juga melengkapi riset baterai generasi saat ini dan transisi yang sedang dikembangkan IBC di dalam negeri bersama akademisi diantaranya Institut Teknologi Bandung dan Universitas Sebelas Maret. Aliansi global ini memberikan ruang transfer teknologi bagi para peneliti domestik agar ekosistem riset nasional ikut naik kelas dari level laboratorium menuju skala industri global.

Langkah pengembangan SSB ini sangat krusial dalam mengantisipasi pergerakan industri baterai global dan memberikan alternatif mutakhir di tengah dominasi baterai Lithium Iron Phosphate (LFP). Terlebih, permintaan global terhadap SSB diproyeksikan akan melonjak tajam hingga mencapai 740 GWh pada tahun 2035. Selain itu, pergeseran perilaku konsumen dimana konsumen masa depan menginginkan EV dengan jarak tempuh sangat jauh (long-range EV) namun tetap ekonomis, serta pengisian daya yang super cepat (ultra-fast charging) tanpa risiko termal (kebakaran), menjadikan SSB sebagai baterai masa depan yang menggantikan elektrolit cair dengan material padat, mengeliminasi risiko kebocoran, meningkatkan aspek keselamatan secara drastis, dan melipatgandakan kinerja.

“Karakteristik teknologi SSB masa depan diproyeksikan membutuhkan nikel kadar tinggi (high nickel battery seperti NMC 811 dan NMC 955) sebagai katoda demi mendukung aplikasi dengan power density tinggi. Kerja sama ini merupakan upaya IBC dalam meningkatkan kepemilikan HAKI, terutama teknologi baru baterai berbasis nikel untuk menjaga relevansi hilirisasi nikel yang menjadi program pemerintah melalui MIND ID Group,” ungkap Aditya Farhan Arif.

Aditya menambahkan, penguasaan teknologi SSB dalam negeri ini tidak hanya akan memperkuat posisi IBC dalam rantai pasok global, melainkan juga diarahkan untuk mendukung berbagai program strategis nasional. Di antaranya adalah penguatan ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas) serta pemenuhan kebutuhan sektor pertahanan mutakhir, seperti pengembangan drone dan kapal cepat domestik.

Dalam jangka pendek, implementasi kerja sama akan segera diwujudkan pembangunan demo plant di Indonesia dengan fokus pada optimalisasi sistem untuk menurunkan biaya produksi sehingga lebih dekat dengan komersialisasi.

Kerja sama ini juga mempertemukan kekuatan operasional dari kedua entitas. IBC, yang berdiri sejak 19 April 2021 selaku orkestrator ekosistem baterai nasional, saat ini telah mengoperasikan pabrik baterai berkapasitas 6,9 GWh di Karawang, Jawa Barat. Sementara itu, Avesta Holding yang didirikan di Belgia pada 2019 memiliki kapasitas produksi 6,5 GWh dan menargetkan produksi SSB skala penuh secara global pada tahun 2030.

“Kerja sama SSB merupakan development dan pengembangan BESS merupakan investment yang kami laksanakan dalam satu waktu untuk pengembangan investasi manufaktur baterai yang dapat menjangkau pasar Eropa dan domestik. Dukungan penuh dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi RI serta Danantara Indonesia memperkuat keyakinan kami bahwa kolaborasi ini akan meningkatkan kemandirian, kedaulatan teknologi, dan daya saing industri energi nasional di kancah global,” tutup Aditya.